Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Chapter 99


__ADS_3

Aysel menoleh pada sumber suara. Melihat Evan dan Osman berada di belakang punggungnya, ia pun menerbitkan senyum sinis. Kemudian menghunus tatapan tajam dan menghina terhadap Hanna.


Ini kesempatanku untuk mempermalukan wanita tidak tahu diri itu. gumam Aysel dalam hati.


"Evan ... Bagaimana kau bisa mengizinkan wanita seperti ini masuk ke kafemu?" Suara Aysel terdengar lantang seolah ingin agar semua yang berada di kafe mendengarnya. "Wanita seperti dia hanya akan mengotori tempat ini!"


"Cukup!" bentak Evan. "Beraninya kau menghina dia di hadapanku!"


Aysel baru akan membuka mulutnya untuk berbicara lagi, namun Evan sudah menghadiahinya tatapan tajam, yang membuat wanita itu gemetar.


Tanpa memperdulikan Aysel, Evan melangkah mendekati Hanna dan mendekap wanitanya itu. Mengusap-usap punggung dan rambut. Ia dapat merasakan seluruh tubuh Hanna yang gemetar.


"Maafkan aku. Sudah tidak apa-apa, jangan menangis," bujuk Evan mencoba menenangkan Hanna.


"Aku mau pergi dari sini," lirih Hanna dengan membenamkan wajahnya di ceruk leher sang suami.


Evan mengeratkan pelukan ketika isak tangis mulai terdengar. "Tunggu sebentar, akan aku bereskan wanita itu dulu. Apa dia adalah Aysel yang kau maksud semalam?"

__ADS_1


Hanna mengangguk dalam dekapan suaminya.


Seketika wajah Aysel memucat menyadari perlakuan Evan terhadap Hanna. Otak minimalisnya mulai menebak ada hubungan apa antara Evan dan Hanna. Tatapannya pun mengikuti gerakan tangan Evan yang kini membelai wajah Hanna dengan kelembutan, serta memeluk dengan posesifnya.


"Evan kau dan dia ..." Suara Aysel terdengar bergetar.


Evan menoleh menatap tajam Aysel, membuat tubuh wanita jahat itu seakan terbelah menjadi dua bagian.


Kelopak mata Aysel melebar, kakinya seperti terpaku di lantai. Tas mahal yang sejak tadi tersemat di antara ketiak dan lengannya terjatuh ke lantai begitu saja ketika menyadari Evan dan Hanna mengunakan cincin yang sama di jari manis.


Aysel yang baru menyadari segalanya seketika menundukkan kepala. Tubuhnya terasa meremang ketika tatapan Evan seperti menikamnya.


"Evan ... Bagaimana bisa kau menikah dengan orang sepertinya. Dia adalah wanita perusak. Dia lah penyebab perceraian ku dengan Xavier. Malam itu dia berusaha merayu suamiku demi mendapatkan uang! Padahal aku sudah berusaha membantunya dengan mempekerjakannya di butikku. Tapi dia malah menikam dari belakang. Dia bahkan memiliki dua anak yang tidak jelas asal-usulnya."


Evan menghembuskan napas kasar, tangannya terkepal dan rahangnya mengeras. Setiap kata yang terucap dari mulut Aysel menciptakan rasa panas yang menjalar seolah membakar tubuhnya.


"Padahal kau sudah tahu dia istri siapa tapi masih berani menghinanya. Osman, kenapa kau diam saja! Bawa wanita itu keluar dari sini dan jangan biarkan dia kemari lagi!" perintah Evan menahan kemarahan terasa menembus ubun-ubun.

__ADS_1


"Baik, Tuan." Osman mencengkram lengan Aysel, namun Aysel berusaha menepis.


"Lepaskan aku!" teriak Aysel dengan lantang. "Aku mohon dengarkan aku, Evan!" Ia berusaha meraih lengan Evan, namun Osman tak memberinya celah. Ia menyeret Aysel keluar.


"Kau tidak mengenalnya. Aku tahu wanita seperti apa dia! Kau akan menyesal karena memilih menikahinya!" Ia terus meronta dan berusaha melepaskan diri.


Hingga Osman berhasil membawanya keluar dari kafe, barulah ia melepaskan Aysel, menghempas tangannya dengan kasar.


"Nona, pergilah dari sini dan jangan buat keributan lagi. Karena kalau tidak, saya pun tidak tahu apa yang akan terjadi pada Anda."


Aysel mematung menatap Osman dengan pikiran yang melayang-layang. Ucapan laki-laki itu membuatnya merinding.


Terlebih, Evan tak mempedulikan apapun yang diucapkan Aysel tentang Hanna.


"Aku harus melakukan sesuatu. Aku yakin Evan tidak tahu siapa Hanna."


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2