
Wajah Aysel masih terlihat tertekuk sejak lima belas menit lalu. Kekecewaan tergambar jelas dalam tatapannya. Betapa tidak, harapan tak sesuai dengan apa yang wanita itu dapatkan. Berharap agar Evan yang mengantar dirinya pulang, akan tetapi Evan malah meminta tolong kepada Osman.
Osman melirik Aysel yang duduk di kursi belakang melalui kaca spion. Dari sana ia dapat membaca kekesalan yang terlukis di wajah wanita cantik itu.
"Osman, boleh aku tanya sesuatu?" Akhirnya Aysel membuka suara setelah terdiam sepanjang perjalanan.
"Silakan, Nona. Apa yang mau Anda tanyakan?" balas Osman dengan pandangan yang masih mengarah pada jalan-jalan di depannya.
"Seperti apa wanita yang menikah dengan Evan?"
Pertanyaan itu membuat Osman kembali melirik kaca spion hingga tatapannya bertemu dengan Aysel.
"Maaf, Nona. Untuk apa Anda menanyakan hal semacam ini?" Osman berusaha menghindar. Sebab baginya pertanyaan itu bukanlah menjadi urusannya.
"Aku hanya ingin tahu saja. Aku lama berteman dengan Evan. Tidak mudah mendekatinya, sebab itu lah aku sangat penasaran seperti apa wanita yang sudah berhasil menundukkannya." Ia menjeda ucapannya dengan tarikan napas. "Dia pasti seseorang yang sangat berkelas dan berasal dari kalangan atas. Bukan begitu?"
Meskipun nada bicara Aysel terdengar biasa saja, namun entah mengapa Osman dapat menangkap sesuatu yang lain di sana.
Osman terdiam beberapa saat. Mobil masih melaju dengan kecepatan sedang malam itu.
__ADS_1
"Saya tidak tahu, Nona. Lagi pula itu bukan urusan saya," jawabnya santai. "Tapi seperti yang Anda katakan, bagi Tuan Azkara tentu saja istrinya adalah wanita yang sangat istimewa. Selain itu seluruh keluarga Azkara juga menerimanya dengan sangat baik."
Mendengar jawaban Osman, Aysel menghembuskan napas panjang, kemudian membuang pandangan keluar jendela.
"Oh ya, Nona ... Tentang putri Anda, tenang saja. Tuan Azkara pasti akan bertanggungjawab ... kalau memang putri Anda terbukti keracunan setelah makan di restoran kami."
Aysel hanya menganggukkan kepala.
"Terima kasih sebelumnya."
*
*
*
Ia disambut oleh beberapa pelayan. Namun, tak tampak Hanna di sana.
"Di mana istriku?" tanya Evan dengan pandangan berkeliling ke sekitar rumah.
__ADS_1
"Nona Hanna sudah kembali ke kamar sejak beberapa jam lalu, Tuan. Mungkin sudah tidur."
"Baiklah, terima kasih. Kalian semua juga istirahatlah."
"Baik."
Evan pun beranjak menuju lantai atas. Begitu memasuki kamar, lampu utama telah padam, menyisakan cahaya berpendar dari lampu tidur.
Kerutan terlihat di ujung matanya ketika melihat tempat tidur yang kosong. Perlahan Evan melangkah masuk.
"Sayang ... Kau di mana?" Tak ada sahutan, Evan berjalan menuju sudut ruangan untuk menyalakan lampu.
Senyum pun mengembang saat menemukan Hanna berdiri di sudut ruangan dengan lingerie renda berwarna hitam transparant yang memperlihatkan lekukan tubuhnya. Ia bahkan berdiri dengan posisi yang sangat menantang.
Tatapan Evan menyisir tubuh wanitanya itu dari ujung kaki ke ujung kepala dengan takjub, yang membuat wajah Hanna bersemu merah.
"Kenapa kau memandangiku seperti itu? Apa ini mengganggumu?" tanya Hanna dengan membelai lekukan pinggangnya.
Evan menelan saliva dengan susah payah.
__ADS_1
"Ya, sangat mengganggu!" ujarnya dengan kekaguman yang tak terbantahkan. "Gangguan yang indah untuk terus dilihat dan semakin ke atas semakin besar gangguannya."
****