
“Tapi Ozkan pernah bilang tidak mau berteman denganku.”
"Itu hanya karena kalian belum begitu saling kenal dengan baik. Setelah ini, Ozkan pasti akan menjadi teman baikmu."
"Benarkah, Daddy?"
“Tentu saja, Nak. Bukankah kau sering menceritakan tentang Ozkan kepada Daddy? Kalian sudah memiliki mainan yang sama dan bisa bermain bersama.”
“Baiklah. Terima kasih, Daddy.”
Ia memeluk daddynya. Lalu dengan langkah riang mendekati Ozkan yang sedang asyik memilih mainan di sudut ruangan itu.
"Daddyku bilang ini untukmu." Sky menyerahkan sebuah kotak besar ke hadapan Ozkan, membuat Ozkan terbelalak kagum.
"Untukku?" tanya Ozkan tampak tak percaya.
"Iya."
"Terima kasih, Sky. Maafkan aku! Apa sekarang kita bisa berteman?"
"Tentu saja. Nanti kau boleh datang ke rumah daddyku dan kita bisa bermain bersama. Di rumah daddy ada kolam renang besar. Kita bisa belajar berenang bersama."
"Wow keren sekali. Apa daddymu orang yang sangat kaya?"
"Tidak tahu. Mommy tidak mau menjawab setiap aku bertanya."
__ADS_1
*
*
*
*
Evan terlonjak ketika Hanna tiba-tiba datang dan memeluknya dari belakang. Sejak kembali dari pusat perbelanjaan, Evan lebih banyak diam dan menyendiri. Hanna menciumi pipinya, membuat laki-laki itu tersenyum senang.
“Ada apa? Kenapa sejak pulang kau terlihat sedih?” tanya Hanna seraya mengusap bulu halus yang tumbuh di sekitar wajah suaminya.
Evan merangkul pinggang Hanna dan membawanya untuk duduk. Mereka berhadapan dan saling tatap. Ia meraih jemari Hanna, menggenggamnya erat.
“Aku memang sedang sedih.”
“Bukan tentang itu. Ini tentang hal lain." Evan menatap Hanna lekat. "Sayang, boleh aku tanya sesuatu?”
“Tanya saja.”
“Apa dulu tetanggamu tidak ada yang bersikap baik terhadap kalian?”
Pertanyaan itu membuat Hanna terdiam beberapa saat. Memang cukup menyakitkan jika mengingat bagaimana mereka hidup menyedihkan di masa lalu dengan tekanan lingkungan di sekitar. Bahkan Sky dan Star harus merasakan dampaknya. Dikucilkan, dijauhi dan dipandang sebelah mata.
“Aku dianggap sampah masyarakat. Aku punya dua anak tanpa status yang jelas. Kami tidak punya siapa-siapa, tidak ada yang mengenal kami selain nama saja. Selain itu, tuduhan Nona Aysel yang mengatakan aku merayu suaminya semakin membuat kami terhina. Semua wanita menjaga suaminya, agar tidak sampai dirayu olehku seperti suami Nona Aysel. Seperti itulah. Bahkan mereka melarang anaknya bermain dengan Sky dan Star.”
__ADS_1
Evan mengusap cairan bening yang mengalir di ujung mata istrinya.
"Dan kalian bertahan hidup di lingkungan seperti itu?"
“Memang aku mau ke mana? Rumah Nyonya Gulsha lumayan murah dibandingkan rumah sewa lain. Karena itulah aku bertahan saja. Setidaknya aku masih punya Nenek Laura. Hanya Nenek Laura saja yang memperlakukan kami dengan baik.”
“Siapa dia?” tanya Evan dengan alis mengerut. Tatapannya sangat hangat. Membuat Hanna merasa sangat nyaman.
“Seorang wanita tua yang tinggal bersama cucu perempuannya. Anaknya janda, dia bekerja di Ankara untuk menghidupi mereka. Nenek Laura sangat baik sejak awal aku ke Amasya. Nenek Laura juga membantuku saat melahirkan Sky dan Star.”
Luka kembali tergores di hati Evan. Ia memeluk Hanna dengan sangat erat. “Maafkan aku. Semua salahku.”
“Tidak apa. Lagi pula semuanya sudah berlalu. Aku sangat bahagia sekarang.”
“Apa kau tidak mau memberi sesuatu untuk Nenek Laura sebagai bentuk terima kasih? Mungkin kau mau membelikan sebuah rumah yang layak untuknya.”
“Apa boleh?” Mata Hanna berkaca-kaca menatap suaminya.
“Tentu saja, Sayang. Ada baiknya kau memberinya sesuatu sebelum kita meninggalkan Amasya.”
Hanna begitu terharu mendengar ucapan suaminya. “Terima kasih, Sayang ... Nenek Laura pasti akan sangat senang."
"Aku akan memakai lingerie setiap malam untukmu sebagai bentuk terima kasih,” ucap Hanna sambil membenamkan tubuhnya ke pelukan suaminya.
"Lingerie?” Evan terkekeh. “Kenapa harus lingerie?”
__ADS_1
***