Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Chapter 87


__ADS_3

Hanna masuk ke kamar mandi dengan terburu-buru akibat rasa gugup yang semakin menjadi. Ia bersandar pada daun pintu kamar mandi demi menetralkan detak jantung yang seolah berlomba. Namun, beberapa detik kemudian, rasa gugup itu berubah menjadi kepingan rasa bahagia yang tak terhingga.


Senyum indah terbit di bibirnya jika mengingat betapa manisnya Evan yang begitu berusaha keras menghilangkan traumanya.


Bahkan Evan memulai segalanya sejak perkenalan mereka di sebuah pesta dansa tujuh tahun lalu. Ya, menutup kenangan lama dan mengganti dengan kenangan baru yang lebih indah.


"Apakah dia sangat mencintaiku dan memendamnya selama tujuh tahun ini?"


Hanna menitikkan air mata. Rasa haru dan bahagia itu tak terbantahkan. Evan memberinya cinta yang jauh dari kata cukup.


Tersadar dari lamunan panjang, Hanna menatap bath up yang telah dipenuhi busa-busa sabun yang wangi. Ia harus segera membersihkan tubuhnya. Hanna pun membuka pakaian dan berendam pada air hangat hingga lupa waktu.


_


-


"Evan ..." Hanna mengintip dari balik pintu mencari keberadaan suaminya. Tadi ia masuk ke kamar mandi dengan tergesa-gesa sehingga lupa membawa handuk. Namun, setelah memanggil beberapa kali, Evan tak juga terlihat di sana.


"Evan ... Apa kau di luar? Tolong aku!"


Hanna melirik tubuh polosnya. Tak mungkin ia keluar dengan tubuh tanpa tertutupi sehelai benang pun. Karena bila Evan melihat, Hanna pasti akan sangat malu.


"Kenapa?" Hanna terlonjak ketika Evan tiba-tiba muncul di dekat pintu. Menatapnya dengan bingung sehingga Hanna kembali menutup pintu dan hanya menyisakan sedikit celah. Evan mendorong pintu pelan, namun Hanna menahannya.


"Kau butuh sesuatu?"


Wanita itu seketika menundukkan pandangan ketika baru tersadar Evan hanya menggunakan handuk putih yang terlilit di pinggang, hingga menampilkan bentuk tubuh sempurnanya. Dada bidang yang ditumbuhi bulu-bulu halus serta otot-otot yang kuat. Melihat itu saja, Hanna sudah merinding.


Evan memilih mandi di kamar mandi lain karena Hanna tak kunjung keluar.


"A-ku lupa membawa handuk. Bisakah kau ambilkan untukku?"

__ADS_1


"Kau sengaja lupa membawa handuk, ya?" tanya Evan menggoda.


Hanna semakin malu dibuatnya, membuat Evan tertawa, lalu segera membuka lemari dan mencari jubah handuk di sana.


"Terima kasih."


*


*


*


Hanna baru saja selesai berganti pakaian. Ia menatap Evan yang sedang berjongkok menyalakan beberapa lilin di sudut kamar.


Mata Hanna terpejam ketika menyesap wangi bunga yang menyebar pada seisi kamar. Wangi menenangkan yang berasal dari lilin aromaterapi.


"Kau sudah selesai?" tanya Evan tanpa menoleh. Menyalakan lilin terakhir dan meletakkan di antara lilin-lilin yang lain.


Evan menoleh ke belakang dan seketika terkejut ketika melihat Hanna yang hanya menggunakan lingerie tipis yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Laki-laki itu bahkan lupa berkedip saat tatapannya menyisir tubuh Hanna dari ujung kaki ke ujung kepala.


Sangat sek*si baginya.


"Ha-Hanna ... Kau ... Kenapa memakai itu?" ucap Evan terbata.


Hanna tertawa kecil mendengar nada bicara suaminya yang terdengar lucu di telinganya.


"Apa tidak boleh?"


"Bukan tidak boleh, aku hanya terkejut melihatmu memakainya. Ngomong-ngomong, kapan kau membelinya?"


"Tadi pagi," jawabnya dengan malu-malu.

__ADS_1


Evan tersenyum senang. Ia mendekati Hanna, membuat wanita itu mundur beberapa langkah hingga kemudian langkahnya terhenti saat tubuhnya bersandar pada lemari.


Pandangan saling bertemu. Seolah tatapan itu mampu mengalirkan cinta yang kuat di antara di antara mereka.


Evan membelai wajah Hanna dengan lembut. Mendekatkan wajah dan membenamkan kecupan di kening. Mata Hanna kembali terpejam merasakan hangatnya kecupan sayang itu.


"Boleh aku katakan sesuatu?" bisik Evan dengan mesra.


Hanna mengangguk lemah. Terpaku menatap wajah tampan suaminya itu.


"Aku mencintaimu, sangat!"


Melayang! Mungkin saat ini hanya kata itu yang sanggup menggambarkan rasa bahagia Hanna. Hingga air mata bahagia itu mengalir tanpa dapat dikendalikan. Tangannya terulur mengusap wajah suaminya. Menatapnya dalam.


"Aku juga mencintaimu."


Evan tersenyum bahagia. Ini adalah pertama kali ia mendengar Hanna mengucapkan kalimat itu.


Tangannya melingkar erat di pinggang istrinya. Kemudian membenamkan ciuman di bibir. Kali ini tanpa penolakan sama sekali oleh Hanna.


Keduanya terbuai.


Melepas olahraga bibir, Evan menggendong Hanna dan membaringkan ke tempat tidur yang empuk. Hingga kelopak bunga membentuk hati yang tertata rapi berhamburan ke lantai.


"Kau sudah siap?" tanya Evan.


Hanna mengangguk dengan malu-malu. Rona merah di wajahnya terlihat sangat jelas, meskipun dalam pencahayaan temaram.


***


Mau lagi gakkkk??? 😂

__ADS_1


__ADS_2