
Melihat penampilannya sangat anggun, Aysel dapat menebak bahwa semua benda yang melekat di tubuh Hanna adalah barang mahal dan mewah. Aysel tercengang, ia bahkan tak berani membayangkan berapa harga jaket bulu yang sedang dikenakan Hanna. Juga tas dan sepatu yang diketahui Aysel adalah limited edition dari brand ternama.
Sementara Hanna yang baru menyadari siapa wanita itu pun tampak terkejut.
"Nona Aysel?" Hanna menatap wanita itu tanpa berkedip.
Aysel seketika tersadar dari keterkejutan. Menatap Hanna dengan alis terangkat seolah menghina. Aysel melipat tangan di depan dada dan menunjukkan sikap arogan seperti biasanya saat bertemu dengan wanita itu.
"Wah, Hanna Cabrera. Lama tidak bertemu," Ia menyisir tubuh Hanna dari ujung kaki ke ujung kepala. "Aku lihat penampilanmu sangat jauh berbeda, ya."
Hanna tak menyahut. Ia menyadari sikap mantan bosnya itu tidak pernah berubah. Ya, Aysel adalah pemilik butik tempat Hanna bekerja dulu.
Kenapa harus bertemu wanita ini di sini? gerutu Hanna dalam batin.
__ADS_1
Hanna tiba-tiba teringat saat bekerja di butik milik Aysel. Hanna kerap kali mendapat hinaan dan cacian dari wanita itu. Bahkan Aysel tak segan memarahi Hanna jika melakukan kesalahan sekecil apapun.
"Apa kabar, Nona Aysel?" balas Hanna berusaha untuk ramah.
Alih-alih menjawab sapaan Hanna, Aysel malah menatapnya sinis.
"Aku sangat terkejut bertemu denganmu di sini. Apalagi melihat penampilanmu yang jauh berbeda. Kau terlihat sangat ..."
"Eliya, tolong antar aku ke atas? Aku tidak ada urusan dengan wanita ini," ucap Hanna menatap Eliya. Baginya menghindari Aysel lebih baik dari pada harus meladeninya. Hanna tahu betul seperti apa Aysel membencinya dan Aysel tidak pernah akan puas menghinanya.
"Ya ampun, Gaya bicaramu juga sangat jauh berbeda, kau sekarang lebih sopan. Tapi tetap saja, itu tidak akan merubah apapun. Karena kau tetaplah Hanna Cabrera, wanita murahan yang senang merayu pria kaya untuk mendapatkan uang." Ia tertawa puas.
Hanna membisu. Tangannya mengepal geram. Jika saja tidak sedang berada di restoran milik suaminya, ia pasti sudah menjambak rambut wanita itu.
__ADS_1
Eliya yang berdiri di antara Hanna dan Aysel hanya berdiam diri, menatap dua wanita itu bergantian. Begitu pun dengan beberapa karyawan kafe dan restoran yang berdiri tak jauh dari mereka. Menatap dengan penuh tanya, ada pula yang saling berbisik satu sama lain.
"Oh ya, melihat penampilanmu sekarang ... sepertinya kau sudah berhasil merayu seorang pria kaya?"
Aysel terus melayangkan hinaan bertubi-tubi. Membuat Hanna diam membisu. Jika biasanya Hanna akan membalas dan menyerang siapapun yang mencoba menghinanya, namun tidak jika telah berhadapan dengan Aysel. Entah kemana sikap barbarnya selama ini.
"Kenapa kau diam? Ah, aku tahu ... Kau pasti sangat malu karena kedok mu terbongkar. Kau tidak lebih dari seorang wanita murahan yang rela melakukan apapun demi mendapatkan uang."
"Nona, tolong jaga bicara Anda?" ucap Eliya berusaha memperingatkan Aysel.
"Kenapa aku harus menjaga ucapanku? Biar saja semua orang tahu seperti apa wanita ini. Oh ya Hanna ... Boleh aku tahu pria kaya mana yang sudah berhasil kau jerat? Apa dia sekaya Xavier?"
Aysel tertawa menyindir tanpa menyadari seseorang yang sedari tadi berdiri tepat di belakang punggung nya.
__ADS_1
"Ada apa ini?"
****