
Hanna menggeliat pelan seraya membenarkan selimut tebal yang membalut seluruh tubuhnya. Antara sadar dan tidak, ia merasa kamarnya sesekali bergetar seperti sedang terjadi sebuah gempa.
Entahlah! Hanna tak begitu peduli, sebab rasa kantuk mengalahkan segalanya.
Baru saja akan memasuki alam mimpi berikutnya, guncangan kembali terjadi. Kali ini lebih besar dibanding sebelumnya.
"Tidak! Apa sedang terjadi gempa?" gumam wanita itu dengan mata melotot. Pandangannya berkeliling ke setiap sudut kamar.
Tunggu! Kenapa corak dinding kamarnya berbeda? Pertanyaan itu memenuhi benak wanita itu. Lalu kemudian teringat sesuatu.
"Sepertinya aku masih bermimpi. Ini kan pesawat jet pribadi milik Kak Zian. Kenapa aku bisa sampai bermimpi kemari?"
Ia membaringkan tubuhnya lagi, sambil menatap langit-langit ruangan itu.
"Benar, aku sedang bermimpi naik pesawat jet pribadinya Kak Zian. Tapi kenapa rasanya seperti nyata, ya." Ia mengendus aroma dari selimut yang membalut tubuhnya. "Biasanya kalau mimpi itu kan mati rasa, tapi kenapa aku bisa menghirup wangi dari selimutnya."
Hanna pun memiringkan tubuhnya ke kiri. Ia akan menikmati mimpi kali ini dengan bahagia.
Matanya mengerjap beberapa kali saat memandangi wajah tampan yang sedang berbaring di sisinya dengan senyuman.
"Sayang, terima kasih sudah datang ke dalam mimpiku. Aku sangat merindukanmu sampai bermimpi seperti ini."
Tangannya terulur membelai wajah pria yang masih terdiam itu. Hanya senyum yang terlukis di bibirnya.
"Rasanya sangat nyata. Aku sangat bahagia walaupun ini hanya mimpi."
Hanna merebahkan kepalanya di lengan kokoh itu. Rasa hangat kembali menjalar.
"Emh ... nyaman sekali. Aku mau bermimpi lebih lama biar bisa terus bersamamu. Kalau perlu aku tidak usah bangun."
Hanna begitu meresapi hangatnya pelukan itu. Sambil sesekali membenamkan bibirnya di ceruk leher yang menjadi wilayah kesukaannya saat sedang bermanja-manja dalam dekapan sang suami.
"Kenapa kau juga terasa sangat nyata? Wangi tubuhmu dan juga sentuhanmu. Ini jenis mimpi apa, ya?"
Ia lalu mengangkat kepalanya hingga kedua wajah itu saling berhadapan.
"Apa boleh aku menciummu?"
Makhluk tampan itu masih diam, dengan bibir seperti menahan tawa, membuat Hanna memajukan wajahnya hingga hanya tersisa satu ruas jari.
"Napasmu saja sangat terasa nyata. Kalau tidak sedang bermimpi, aku pasti sudah mengira suamiku sudah pulang. Sayangnya ini semua hanya mimpi, kau masih di Jerman. Dasar jahat! Aku akan memukulmu sebagai bentuk pembalasan!"
Bugh! Bugh! Bugh!
Tiga kali Hanna menghantamkan pukulan ke dada bidang yang ia pikir merupakan bayangan suaminya itu.
"Sakit kan? Tentu saja sakit ... tanganku saja sakit, padahal ini hanya mimpi!" gerutunya seraya mengibas-ngibaskan tangan di udara. "Eh, Tuan Ervan Maliq Azkara. Apa rasanya meninggalkan sama sakitnya dengan ditinggalkan?"
Ia kembali membenamkan wajahnya di dada bidang itu, seraya memeluk tubuh itu dengan erat.
"Kau ini suami macam apa? Meninggalkan istrimu yang sedang hamil. Kau sudah tiga bulan meninggalkanku. Lihat saja kalau kau pulang, aku akan memberimu hukuman yang pantas. Aku akan menendangmu di bagian paling mematikan."
Untuk beberapa saat, Hanna larut dalam rasa hangat itu. Ternyata mimpi lebih indah dibanding kenyataan. Begitu yang dipikirkan wanita itu.
Ia menatap wajah suaminya lekat-lekat. Bola matanya telah dipenuhi kristal bening. Jemarinya menjelajahi wajah itu hingga terhenti di bibir.
"Kalau aku cium bibir jelek ini, apa akan terasa nyata juga?"
Hanna menangkup wajah itu dengan kedua tangannya. Lalu menyatukan bibir mereka. Sensasi hangat yang ditimbulkan dari penyatuan kedua bibir itu membuat Hanna terbuai.
Matanya yang terpejam seketika melotot saat merasakan benda kenyal yang malah melahapnya tanpa ampun.
Apa ini? Kenapa dia menciumku seperti ini?
"Bagaimana rasanya, Hanna Cabrera? Mau lagi?" Untuk pertama kalinya terdengar suara itu menyapa.
Hanna sampai membeku mendengar suaranya. Bagaimana tubuh dan suara ini seperti nyata padahal hanya bayangan dalam mimpi?
__ADS_1
"Kau bisa bicara?" tanya Hanna membuat pria yang terbaring di sisinya terkekeh.
"Bangunlah, Sayang! Sudah cukup mimpinya."
"Aku tidak mau bangun, aku mau di sini bersamamu saja. Kalau aku bangun kau akan pergi lagi."
Suara tawa pun memenuhi kabin mewah itu.
"Bagaimana kau bisa mengigau seperti ini, hah? Kau masih mengira sedang bermimpi?" ucapnya sambil membenamkan tubuh wanita itu ke dalam dekapannya.
"Ah, sakit!" pekik Hanna saat Evan menggigit lengannya.
"Sakit? Artinya kau sudah bangun!"
Pria itu bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu. Menguncinya dari dalam. Hanna masih mematung di di tempatnya terbaring. Menatap suaminya dari ujung kaki ke ujung kepala.
Pipi merah itu telah basah oleh air mata, saat telah meyakini dirinya tidak sedang bermimpi.
Suamiku kembali dan dia sudah sembuh?
"Aku tidak sedang bermimpi? Ini benar-benar nyata?" Ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Benar ini nyata."
Ia menatap Evan yang berdiri di sisi tempat tidur. Senyumnya sangat menawan.
Pria itu lantas membaringkan tubuhnya di sisi istrinya. "Kemari! Bukankah kau mau dipeluk?"
Isak tangis mewarnai ruangan itu. Ciuman dalam dan pelukan erat sebagai pelepas kerinduan menyatu.
"Kau benar-benar sudah kembali? Aku tidak sedang bermimpi, kan?" ucap Hanna berusaha meyakinkan dirinya.
"Aku sudah kembali dan tidak akan pernah meninggalkanmu lagi."
Rasanya Hanna belum dapat mempercayai kejutan indah pagi ini. Ia bahkan enggan melepas pelukan suaminya itu.
"Maafkan aku, Sayang." Ia menciumi seluruh bagian wajah istrinya itu.
"Baiklah, Sayang. Hukum aku sesukamu. Aku sudah siap."
Lagi, mereka saling memeluk seakan tak ada kata cukup untuk melepas rindu. Evan menghapus air mata yang membasahi wajah istrinya.
"Ngomong-ngomong, kenapa kita bisa ada di pesawat jetnya Kak Zian?"
"Aku meminjamnya untuk memenuhi rencana ngidam istriku. Kau tahu dia meminta hal yang cukup ekstrim dan aku tidak punya pilihan lain," ujarnya dengan senyum.
"Hal ekstrim apa?" tanya Hanna masih tak mengerti arah pembicaraan suaminya.
"Istriku berencana mengidam tanpa memikirkan biaya. Dia bilang akan ngidam sushi tapi aku harus ke Jepang untuk membelinya, rujak Bangkok yang langsung dari Thailand, kurma yang langsung beli di Arab, kebab juga harus dari Turki. Ah, satu lagi ... dia juga akan meminta spaghetti tapi harus beli di Italia. Selain itu dia juga berencana untuk ngidam makan es serut tapi es-nya harus dari Kutub Utara." Evan memperagakan cara Hanna meminta beberapa waktu lalu, membuat wanita itu cekikikan sendiri.
"Apa ini artinya kita akan mengunjungi beberapa negara?" tanya Hanna antusias.
"Iya, Sayang," jawab Evan diiringi ekspresi takjub oleh Hanna.
Wanita itu larut dalam rasa bahagia. Tak henti-hentinya menciumi wajah suaminya itu. Hingga tiba-tiba ia teringat sesuatu.
"Anak-anak?"
"Maaf, sepertinya mereka tidak bisa ikut dalam perjalanan kita kali ini?"
Mendadak keceriaan yang terpancar di wajah Hanna meredup. Bagaimana ia dapat bersenang-senang tanpa kedua anaknya.
"Kenapa kau tidak bawa mereka bersama kita?" Sebuah pertanyaan yang membuat Evan kembali tertawa.
"Mereka ada di luar, Sayang. Sedang sarapan. Aku tidak mungkin meninggalkan kalian lagi. Jadi kita akan membawa mereka juga."
"Benarkah?" Hanna menyibak selimut, lalu berjalan keluar dengan tergesa-gesa.
"Selamat pagi, Mommy!" Dua suara menggemaskan itu menyapa, membuat Hanna tersenyum bahagia.
__ADS_1
Sky dan Star sedang duduk di sebuah kursi dengan beberapa menu makanan di hadapannya, dan juga seorang wanita cantik yang mendampingi mereka.
"Mommy ... daddy sudah kembali. Kita mau pergi jalan-jalan bersama daddy, Mommy!" ucap Sky penuh semangat.
"Iya, Mommy." Star ikut membenarkan ucapan kakaknya.
"Baiklah, kalian sarapan dulu, ya. Mommy mau memberi daddy hukuman karena sudah meninggalkan kita berbulan-bulan."
"Jangan, Mommy! Kasihan Daddy. Nanti kakinya sakit lagi!" pekik Star.
"Maksud mommy memberi hadiah. Kalian tunggu di sini sebentar ya."
"Baik, Mommy!" jawab mereka bersama.
Hanna masuk kembali ke dalam kamar dan mengunci pintunya.
"Aku akan memberimu hukuman yang pantas!" Ia menatap Evan yang masih terbaring di ranjang dengan sebuah majalah di tangannya.
"Tapi tadi kau bilang pada anak-anak mau memberi hadiah, bukannya menghukum!"
"Kalau aku bilang menghukum, maka mereka akan salah paham lagi. Apa kau lupa kalau menghukum, berterima kasih dan memberi hadiah dalam novel-novel itu dilakukan dengan cara yang sama?"
"Begitu ya?" ucap Evan yang kali ini sudah membuka kaus putih yang membalut tubuhnya. "Kalau begitu aku harus siap-siap. Wanita hamil biasanya mengalami peningkatan hormon yang cukup drastis."
Tanpa menunggu lagi, Evan menarik Hanna hingga terjatuh ke pelukannya. Mencium dan memeluk wanitanya itu sebelum melakukan penyatuan.
"Aku mencintaimu, Hanna Cabrera!"
🤭🤭🤭
❤️❤️❤️❤️
TAMAT
Yang masih nunggu, akan ada bonus spesial episode tanggal 1 Februari.
Terima kasih 🙏
Sambil nunggu Bonus Chapter, baca juga Karyaku yang lain ya ...
BUKAN SALAHKU MEREBUT ISTRIMU
Ini adalah kisah lucu seorang dokter yang jatuh cinta dengan pasiennya yang sudah bersuami. Bab awal akan menguras emosi, tapi akan mengocok perut kamu dengan tingkah konyol si dokter.
BUNDA BUKAN WANITA MALAM
Kisahnya bertabur bawang. Dijamin kmu akan nangis seperti saat baca Sky dan Star.
BABY MILIK DAMAR
Buka profil author, di situ ada banyak pilihan dan rata-rata sudah tamat. Atau bisa juga ketik judul di kolom pencarian.
Terima kasih
__ADS_1
Info Give Away 👉👉👉👉