
Mungkin tak ada hal menarik dalam kehidupan seorang Hanna Cabrera. Tujuh tahun lalu ia hanyalah seorang gadis biasa dengan penampilan sederhana. Berasal dari sebuah keluarga dengan masalah cukup rumit dan kerap mendapatkan ketidakadilan dari keluarga sendiri -- membentuknya menjadi seorang gadis keras kepala dan pemberontak.
Siapa sangka, sebuah pesta topeng yang diadakan untuk merayakan kelulusan seniornya di kampus menjadi awal pertemuan dengan seorang pria asing. Pertemuan yang diawali dengan sebuah permusuhan.
Malam ini, segala kenangan itu terulang kembali, namun dengan cara yang lebih baik. Menutup kenangan buruk dengan kenangan baru yang manis.
Hanna melangkah dengan anggun dalam balutan dress berwarna navy. Sebuah topeng membingkai mata dan menyamarkan wajahnya. Pandangannya berkeliling ke setiap sudut ruangan dengan pencahayaan temaram itu.
Hanna lantas berdiri di antara para wanita yang juga menggunakan topeng. Memperhatikan satu-persatu memasuki lantai dansa dengan pasangannya masing-masing. Meninggalkan Hanna seorang diri dalam keheningan.
Tak jauh dari tempat Hanna duduk, tampak seorang pria dengan penampilan memesona berjalan ke arahnya. Perpaduan kemeja dengan jas semi formal membalut tubuh sempurnanya. Tanpa meminta izin, ia menarik kursi dan duduk di meja yang sama.
"Hai ..."
Ramah pria itu menyapa, menunjukkan senyum di balik topeng yang menutupi sebagian wajahnya.
"Hai ..." Hanna membalas dengan datar, lalu membuang pandangan ke arah lain.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Aku merasa tidak asing denganmu."
"Tapi kau terasa sangat asing bagiku."
Pria itu pun tertawa kecil. "Kalau begitu kita harus berkenalan." Ia mengulurkan tangan, namun Hanna hanya menatap tangan yang menggantung di udara itu, tanpa berniat menyambutnya. "Aku Ervan Maliq Azkara. Tapi lebih sering dipanggil Evan. Boleh aku tahu namamu?"
"Hanna Cabrera," jawabnya dengan ketus.
"Nama yang bagus. Aku sangat senang berkenalan denganmu. Oh ya, apa kau sudah punya pasangan untuk berdansa?"
__ADS_1
"Aku kemari bukan untuk berdansa. Jadi tolong tinggalkan aku."
Evan menggelengkan kepalanya dengan raut sedikit kecewa. Hanna baru saja mematahkan hatinya dengan penolakan. "Sayang sekali. Sepertinya aku harus mencari pasangan dansa yang lain saja. Padahal aku sangat ingin berdansa denganmu."
Ketika hendak melangkah pergi, Hanna menatap punggung tegaknya dengan ragu.
"Hey, Ervan Maliq Azkara, tunggu!" Langkah pria itu seketika terhenti mendengar panggilan itu. "Baiklah, kalau kau memaksa, lagi pula aku belum pernah berdansa sebelumnya. Akan aku gunakan kesempatan ini untuk menginjak kakimu dengan sepatuku sebanyak yang ku mau."
Evan membalikkan tubuhnya dengan tersenyum senang. "Baiklah, Tuan Putri. Lakukan sesukamu." Ia mengulurkan tangan dan Hanna menyambutnya.
Evan pun membawa Hanna di antara banyak pasangan lain yang tengah berdansa. Tangan kokohnya melingkar erat di pinggang wanita itu. Tatapan mereka saling bertemu satu sama lain seolah akan tenggelam di sana.
"Ngomong-ngomong, kau masih sama seperti saat pertama kali aku melihatmu. Kau sama sekali tidak berubah. Masih galak dan--"
Hanna menatapnya dengan kelopak mata yang berkerut, membuat Evan teringat sesuatu.
Hanna tertawa kecil. "Kau benar-benar mau mengulang malam itu ya?"
"Aku rasa kita perlu mengganti kenangan buruk itu dengan kenangan baru."
Hanna menatap Evan dengan penuh cinta, membuat laki-laki itu membenamkan kecupan di kening. Dengan malu-malu, ia bersandar di dada bidang Evan. Matanya terpejam saat menyesap aroma parfum laki-laki dari tubuh tegak itu. Sangat hangat, hingga rasanya Hanna tak ingin saat ini berlalu dengan begitu cepat.
Musik mengalun dengan indah memanjakan telinga. Hanna terlena dalam suasana romantis yang membawanya pada kenangan masa lalu.
"Apa yang kau pikirkan tentangku saat pertama kali bertemu?" tanya Hanna.
"Kau gadis yang cukup menyebalkan dan sedikit angkuh. Selain itu aku merasa kau adalah seorang pengacau."
__ADS_1
Kesal, Hanna memukul dada Evan dengan kesal.
"Jadi itu yang kau pikirkan tentangku?"
"Maafkan aku. Lalu kau sendiri bagaimana? Apa yang kau pikirkan tentangku di malam itu?"
"Tidak ada. Aku hanya merasa kau adalah seorang pria menyedihkan yang duduk seorang diri di sudut ruangan. Kau terlihat seperti seseorang yang sedang patah hati. Apa saat itu kau memang sedang patah hati?"
Evan terdiam, membuat Hanna menatapnya curiga.
*
*
*
*
Sambil menunggu Bang*Ke up baca kisah pebinor kesyaangan dulu yaa...
Ini sudah tamat ya gengs, jadi bisa lari maraton ðŸ¤
Judulnya 👉 BUKAN SALAHKU MEREBUT ANUMU
eh salah ding
__ADS_1
BUKAN SALAHKU MEREBUT ISTRIMU