
Evan membenamkan tubuh lemah itu ke pelukannya. Rasa khawatir dan bersalah semakin menjalar ke hatinya—yang membuat akal sehatnya membuyar. Dengan menahan air mata, Evan menggendong Hanna dan membaringkannya di tempat tidur.
"Sayang ... bangunlah!" Evan menepuk pipi Hanna dengan lembut, kemudian membalut tubuhnya dengan selimut ketika merasakan permukaan kulit Hanna yang terasa dingin.
Tak lama berselang, Elma datang dengan tergesa karena terkejut mendengar suara teriakan Evan memanggil nama Hanna.
“Ada apa, Evan?” tanya Elma berjalan mendekati ranjang. Menatap penuh khawatir terhadap Hanna dan duduk di tepi pembaringan.
“Hanna pingsan, Kak,” jawab Evan menciptakan kerutan tipis di kening kakak iparnya.
“Apa yang terjadi? Kenapa Hanna bisa pingsan?”
“Mungkin hanya pengaruh kehamilan." Dengan gerakan cepat, Evan mengeluarkan beberapa alat kesehatan dan mulai memeriksa kondisi istrinya.
"Tekanan darahnya cukup rendah. Tapi dia tidak apa-apa. Ini biasa dialami wanita hamil muda.”
Senyum merekah di bibir Elma mendengar ucapan Evan. Kehamilan Hanna tentunya menjadi berita bahagia bagi keluarga Azkara, karena akan ada anggota baru lagi dalam keluarga.
“Apa ... Hanna benar-benar hamil?"
"Iya, Kak." Evan tersenyum tipis, lalu meletakkan alat kesehatan ke atas meja.
"Wah, selamat, Evan. Aku sudah menduga ini semalam. Beberapa hari ini Hanna memang kurang berselera makan dan sedikit pucat.”
"Terima kasih, Kak. Ini berita yang sangat baik."
"Dan kau akan menjadi seorang ayah lagi."
Elma tampak sangat antusias, namun garis bahagia itu perlahan memudar setelah menyadari betapa suramnya wajah Evan.
__ADS_1
“Tapi kenapa kau sedih? Apa ada masalah?”
Evan mengangguk pelan, kemudian melirik Hanna sekilas, sebelum akhirnya membawa Elma untuk duduk di sofa. Seperti biasa, bagai seorang ibu Elma selalu menjadi tempat adik-adiknya untuk berkeluh kesah. Evan meraih sebuah buku yang tadi ia sembunyikan di bawah kursi dan memberikannya kepada Elma. Dan tanpa banyak bertanya, Elma membuka lembar pertama buku itu. Baru di lembar pertama saja sudah membuat seluruh tubuhnya gemetar.
“Evan ... buku ini—” Elma tak kuasa melanjutkan ucapannya. Keterkejutan membuat lidahnya terasa kaku. Ia menatap Evan seolah menuntut sebuah penjelasan.
“Aku pernah menulis itu dan sepertinya Hanna sudah membacanya.”
“Tapi ... bagaimana Hanna menemukan buku ini? Kenapa kau sangat ceroboh?” tanya Elma masih dengan raut tak percaya, bagaimana bisa Evan masih menyimpan buku berisi kenangan yang seharusnya sudah ia buang.
Evan menjambak rambutnya dengan kedua tangannya. Ia pun tak memiliki jawaban untuk pertanyaan itu. “Aku tidak tahu, Kak. Aku bahkan sudah melupakan buku itu dan tiba-tiba saja bukunya ada di sini.”
“Hanna pasti akan salah paham.” Elma menyerahkan kembali buku itu ke tangan Evan. “Apa Hanna belum tahu tentang perasaanmu terhadap Naya sebelumnya?”
Evan menggeleng. “Dia pernah menanyakannya, tapi aku tidak menjawab. Aku rasa tidak perlu mengungkit masa lalu karena itu mungkin hanya akan menyakiti hatinya. Kupikir mengubur masa lalu dalam rahasia sudah cukup. Tapi ternyata—” Ia menghembuskan napas kasar, tidak ada lagi kata yang dapat terucap.
“Bicarakanlah semua dengan kepala dingin. Katakan pada Hanna bahwa kau mencintainya dan perasaanmu terhadap Naya hanyalah kepingan masa lalu yang sudah kau lupakan.”
"Aku akan jelaskan nanti padanya."
Evan berjalan menuju pembaringan ketika mendengar lenguhan dari sana. Perlahan Hanna mulai membuka mata, ia memijat kepalanya yang berdenyut.
Bola matanya berkeliling, hal pertama yang hadir dalam pandangannya adalah wajah khawatir suaminya. Evan pun
mengusap cairan bening yang berada di ujung mata istrinya.
"Kau sudah bangun?" tanya Evan dengan membelai rambutnya. "Apa yang kau rasakan?"
__ADS_1
"Hanya pusing sedikit," jawab Hanna dengan suara lemah.
"Mau apa?" Evan menggenggam tangannya ketika melihat Hanna berusaha bangun.
"Aku mau bersandar. Berbaring membuatku mual."
"Baiklah, sini aku bantu." Evan membantunya untuk bersandar di ranjang dengan meletakkan dua bantal di belakang punggung Hanna. "Seperti ini cukup?"
Hanna menjawab dengan anggukan kepala. Mata sayunya menatap Evan dengan sendu. Perlakuan lembut Evan membuatnya merasa dicintai, tetapi anehnya ia malah merasa sakit.
"Hanna, aku ikut senang mendengar kabar kehamilanmu. Banyak istirahat, ya ... aku akan keluar dulu. Kalian bicaralah berdua."
Baru saja Elma akan keluar, pintu kamar sudah terbuka dan memunculkan sosok Naya. Istri dari seorang bekas mafia itu baru saja datang dan begitu terkejut setelah diberitahu oleh seorang pelayan bahwa Hanna pingsan.
“Hanna ... apa yang terjadi? Mereka bilang kau pingsan. Apa kau sakit?” Naya yang biasanya sangat ceria itu kini terlihat khawatir. Ia menggeser posisi Evan dan memeluk Hanna.
Sedangkan Hanna menyandarkan tubuh lemahnya di bahu kakak iparnya itu.
Kak Naya adalah wanita yang sangat baik dan lembut. Bukankah aku tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengannya?
Apa dia tidak pernah mengetahui tentang perasaan Evan terhadapnya?
Dan apa Evan bisa mencintaiku sepenuhnya, sedangkan wanita yang pernah hadir dalam hidupnya adalah seorang wanita sempurna seperti Kak Naya?
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa ikuti akun penulis/ nama pena Kolom Langit untuk memudahkan berkomunikasi antara kamu dan akuuuu🤗🤗
Terima kasih🥰🥰