Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Chapter 51


__ADS_3

Tubuh Evan tersentak. Kelopak matanya melebar tatkala menyadari siapa yang berada di ambang pintu. Dua kakak laki-lakinya, Dokter Fahri dan Zian, yang selama ini menetap di Indonesia. Mereka diam membisu di ambang pintu ketika Evan terlihat sibuk membereskan kekacauan di ruangan itu. 


Semalam sebelum tidur, Hanna dan Evan terlibat perang bantal yang membuat seisi ruangan tampak berantakan. 


Berusaha mengurai rasa malu yang meledak, Evan menundukkan pandangan. Kedapatan berduaan dengan seorang wanita adalah sesuatu yang sangat memalukan baginya. Sebab sepengetahuan keluarga Azkara, ia belum pernah berpacaran sebelumnya. 


“Kak Fahri ... Kak Zian ... Kalian ada di Amasya?” Rasa tak percaya masih tersirat di wajah meronanya.


Ia langsung menarik Hanna ke belakang punggungnya, saat dua pasang kaki itu melangkah masuk.


"Kak, lihat ruangan ini, karpet bulu itu dan selimut itu," ucap Zian menunjuk kursi yang bantalannya berhamburan ke mana-mana, juga selimut tebal yang berantakan. "Bahkan di tempat seperti ini saja bisa terjadi. Apalagi kalau sedang berdua di kamar."


"Kau benar. Ini tidak bisa dibiarkan."


Evan menggeleng dengan cepat. "Ini tidak seperti yang kalian pikirkan. Aku tidak habis melakukan apa-apa. Iya kan, Hanna?"


Hening, Hanna tak menjawab karena rasa malu.


"Mana kami tahu terjadi sesuatu atau tidak. Yang pasti kau sudah melakukan kesalahan fatal dan harus dihukum!" balas Zian.

__ADS_1


Telapak tangan Evan reflek bergerak ke daerah kepala, alam bawah sadarnya seolah memberi perintah untuk melindungi daun telinganya. 


“Kenapa? Kenapa kau menutupi telingamu?” tanya Zian, yang kemudian mengalihkan pandangan kepada wanita yang berada di belakang punggung adiknya. 


"Aku sudah tahu kalian mau apa." Tanpa melepas tangannya dari telinga, menatap kedua kakaknya bergantian. “Lagi pula bagaimana kalian tahu aku di sini?”


“Kau tidak perlu tahu bagaimana kami menemukanmu di sini. Kau lupa kalau salah satu kakakmu adalah mantan mafia?”


“Dan kau tidak perlu tanya mau apa kami ke mari,” tutur si sulung dari empat bersaudara itu. 


Evan merinding menyadari arti tatapan mereka. Kakak sulungnya, Dokter Fahri Maliq Azkara adalah seseorang yang sangat penyayang terhadap semua adiknya, namun tidak mudah mentoleransi kesalahan sekecil apapun. Sedangkan kakak satunya, Zildjian Maliq Azkara, lumayan pemarah dan sangat posesif terhadap adik-adiknya.


“Aaagghhh!!” teriakan menggema dari ruang perapian yang membuat semua orang yang berada di villa terjingkat karena terkejut. 


“Hentikan! Tolong lepaskan!” teriak Evan tatkala rasa sakit menjalar akibat tangan kedua kakaknya yang bermain di telinganya. Memutar dan menarik selaput tak bertulang itu. 


"Apa, melepasmu?"


“Aku tahu kalian sangat kaya, tapi kalau telingaku lepas—” 

__ADS_1


“Maka kami tidak akan bisa menyambungnya dengan uang kami. Kau mau bilang begitu kan?” Zian langsung memotong ucapan Evan. Pria yang kini berusia 43 tahun itu menarik telinga adiknya hingga memerah, begitu pun dengan Fahri. 


“Ampuni aku, Kak! Tolong maafkan aku!”


Kesal, mereka akhirnya melepas, hingga Evan mundur beberapa langkah. Evan pun mengusap-usap telinganya yang terasa kebas.


“Apa kalian ke mari hanya untuk melakukan ini? Kalian tenang saja, adik kalian ini bebas alkohol dan obat-obatan terlarang!” 


“Benarkah kau bebas alkohol?” Zian meneliti curiga. “Lalu kenapa kau bisa mabuk-mabukan sampai menghamili anak orang dan punya anak?” 


Evan kembali menunduk. Menggerutu dalam hati ketika otaknya menduga bahwa Osman telah membocorkan kelakuannya kepada keluarga besarnya. 


****


Jangan cari kocaknya tiga bersaudara ini ya. Di sini Fahri usianya sudah 47tahun sedangkan Zian 43 tahun. Jadi mereka sudah lain pola pikir dan gaya bahasanya. Gak somplak kayak masih muda dulu.


Kalau Evan 33 tahun.


Jadi beda sama di Penjara Cinta Sang Mafia di mana Evan baru 20tahun dan suka banget ngerjain kakaknya.

__ADS_1


Jadi kesimpulannya Hannahong muda sendirian di sini. Yang lain pada tua 😂😂😂


__ADS_2