Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Chapter 37


__ADS_3

Sore hari yang indah, Evan membawa ke dua anaknya berjalan-jalan di sebuah taman kecil tak jauh dari rumah. Seolah ingin membayar tujuh tahun yang terlewati, ia memberi semua yang diinginkan Star dan Sky.


Star duduk di kursi roda yang didorong Evan, sambil menatap kagum jalan-jalan indah yang mereka lewati, sesekali Evan menjelaskan untuk memuaskan rasa penasarannya. Star selalu menanyakan hal-hal yang baru dilihatnya. 


Sedangkan Sky dan Hanna sudah berada di kejauhan sana, menikmati keindahan hamparan danau hijau. Cukup lama mereka tidak menikmati udara kebebasan seperti ini. Sky meluapkan rasa bahagianya dengan berlarian ke sana ke mari. 


“Apa rencana Anda selanjutnya, Tuan?” Osman membuka suara.


“Sekarang aku hanya akan fokus pada anak-anak. Star harus menjalani terapi agar bisa berjalan kembali. Iya kan, Sayang.” 


“Apa aku akan sembuh dan bisa berjalan lagi, Daddy?” tanya Star mendongakkan kepala menatap daddy-nya. 


Evan duduk berjongkok di hadapan Star. Ia tersenyum. “Tentu saja, Nak. Kau akan bisa berjalan kembali, berlari dengan bebas seperti kakakmu.” Star melirik Sky yang sedang berlari-lari di sekitar taman. Sementara mommy-nya tampak mengawasi dari jarak aman. 


“Aku mau sembuh, Daddy. Mommy tidak akan menangis lagi kalau aku sembuh nanti,” ucapnya polos dengan mata berbinar bahagia.


“Mommy selalu menangis?” 

__ADS_1


Star mengangguk pelan. Ia teringat tetangga-tetangga yang selalu menghina mereka dan mommy-nya akan bertengkar dengan siapapun yang berani menghina Sky dan Star dan terkadang itu membuatnya menangis dimalam hari saat memikirkan nasib kedua anaknya.


“Mommy selalu menangis di malam hari, Daddy,” lirihnya dengan mata berkaca-kaca. “Nyonya Ursula selalu memarahi mommy dan kakak. Dia juga selalu bilang daddy kami tidak jelas. Nyonya Gulsha juga sering mengusir mommy kalau datang minta uang,” ucap Star mengadukan kelakuan tetangganya.


Evan memeluk Star dan  mengusap-usap punggungnya demi menghilangkan rasa sedih putrinya. “Tapi sekarang daddy mu sudah jelas kan? Daddy sudah kembali, jadi tidak akan ada yang menghina mommy, kau dan kakakmu lagi.” 


Star menganggukkan kepalanya dengan senyuman. Melingkarkan tangan dengan erat di punggung leher daddy-nya.


*


*


*


“Kau tahu alasan mengapa aku meninggalkan Indonesia dan tinggal di Istanbul untuk waktu yang lama, kan?” 


Osman menyahut dengan anggukan kepala. “Saya tahu, Tuan. Tapi Anda kan sudah bisa melupakan Nona Kanaya. Jadi tidak ada alasan untuk tidak kembali. Tuan Zian dan Tuan Fahri pasti akan senang jika Anda pulang.” 

__ADS_1


“Aku masih butuh waktu. Setidaknya sampai aku bisa melumpuhkan Hanna Cabrera dan memaksanya menikah. Dia sangat keras kepala dan menyebalkan.” 


Osman terkekeh. Setidaknya, Evan sudah kembali seperti dulu. Tidak lagi pendiam dan banyak melamun. Beberapa tahun lalu Evan hanya seorang pemuda menyedihkan yang jatuh cinta kepada kakak iparnya sendiri. Karena tak dapat melupakan, ia memilih pergi dengan alasan ingin melanjutkan pendidikan di kota Istanbul.


Tak disangka takdir membawanya pada pertemuan  dengan Hanna Cabrera, sosok yang dapat mengalihkan dunianya, menghipnotisnya dengan cinta yang buta. 


“Lagi pula aku belum siap menghadapi  Kak Zian dan Kak Fahri. Mereka akan menarik telingaku sampai benar-benar putus jika tahu aku pernah mabuk dan tidur dengan seorang gadis sampai punya dua anak.” 


Evan tiba-tiba teringat dua kakak laki-laki dan keluarga lainnya yang sudah lama tak bertemu. Terakhir kali adalah saat malam tahun baru dua tahun lalu, di mana keluarga besarnya berkunjung ke Jerman karena Evan tak pernah pulang. 


“Ya, saya bisa membayangkannya. Apa lagi Tuan Zian. Entah akan seperti apa reaksinya. Ini pasti akan sangat seru.” 


“Tidak usah membayangkannya. Yang harus kau pikirkan adalah cara menolongku dari mereka nanti.” 


Bukan Anda saja yang butuh pertolongan. Saya juga membutuhkannya. Kalau mereka sampai tahu, kan saya juga yang kena.


***

__ADS_1


__ADS_2