Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Chapter 122


__ADS_3

"Hanna tidak apa-apa, Nay. Dia sedang hamil," ucap Elma.


Seketika Naya melepaskan pelukan. Raut wajah khawatir yang tadi tersirat di wajahnya perlahan memudar, berganti menjadi wajah bahagia.


"Benarkah Hanna hamil lagi?" tanya Naya dengan antusias.


Elma menjawab dengan senyum dan anggukan kepala. "Iya, Nay. Akan ada anggota baru di keluarga kita."


"Wah, ini benar-benar berita yang sangat membahagiakan." Naya menatap Hanna dan mengusap puncak kepalanya, lalu kemudian memeluknya lagi. "Selamat Hanna. Aku sangat bahagia mendengarnya. Aku sudah sempat takut kau sakit."


"Terima kasih, Kak."


Naya menyeka cairan bening yang menggenang di ujung matanya. Ia menatap Evan seraya tertawa kecil. "Zianku pasti akan memakimu kalau tahu kau akan memiliki anak lagi. Dia akan sangat iri, apalagi kalau anakmu kembar lagi."


"Kau harus melindungi telingamu, ya," tambah Elma berusaha mencairkan suasana.


Evan dan Elma pun saling lirik satu sama lain. Sepertinya sekarang bukanlah saat yang tepat bagi Evan untuk menjelaskan semua salah paham ini kepada istrinya.


Ia kemudian melirik arloji di pergelangan tangannya. Waktu telah menunjukkan pukul sembilan pagi dan dirinya ada janji penting dengan seorang pasiennya.


"Kak Elma ... Naya ... Apa boleh aku menitipkan Hanna sebentar? Aku ada janji dengan pasien pagi ini."


"Baiklah. Aku akan menjaga Hanna. Kebetulan aku tidak ada jadwal hari ini," jawab Elma.


"Aku juga tidak ada. Waktuku selama 18 jam adalah untuk Zianku. Selebihnya bebas," ucap Naya dengan penuh semangat.


Hanna tersenyum tipis menatap Naya yang kini memeluk Elma untuk saling mengucapkan selamat atas kabar bahagia itu.


"Baiklah, kalau begitu aku akan tenang meninggalkan Hanna bersama kalian."


Evan kembali duduk di tepi tempat tidur. Memeluk, mencium kening dan bibir dengan lembut. Memamerkan kemesraan di hadapan kakak-kakak iparnya.


Seolah Evan ingin menunjukkan kepada Hanna dan semua orang betapa berharganya Hanna baginya.


"Sayang, aku akan segera kembali begitu urusanku selesai. Ingatlah, aku sangat mencintaimu."


.


.


.


Di rumah sakit ....


Evan disibukkan dengan pasien yang datang bergantian. Meskipun sangat sibuk, namun ingatannya selalu tertuju pada sosok istrinya.


"Suster, tolong panggilkan pasien selanjutnya."


"Baik, Dokter."

__ADS_1


Perawat wanita itu pun membuka pintu, lalu memanggil nama seorang pasien.


"Ibu Nanas Amanda Afdarianto!" panggil perawat itu dengan suara lantang. Lima kali ia memanggil, barulah menerima sahutan.


"Kau bilang namanya siapa?" tanya Evan dengan kerutan tipis di kening.


"Ibu Nanas, Dokter."


Ternyata ada lagi jenis buah hidup yang tidak berasal dari pohon. Ya ampun, kenapa orangtuanya memberi nama Nanas?


Evan terkekeh geli. Ya, nanas adalah satu-satunya buah yang tidak pernah disukai oleh Evan. Selain rasanya yang asam, nanas juga juga bisa menimbulkan nyeri pada mulut, termasuk bibir dan lidah.


Tak lama berselang, dua makhluk terlihat memasuki ruangan. Sontak Evan sangat terkejut mendapati siapa yang baru saja memasuki ruangan prakteknya.


"Anthony?" Kerutan di kening Evan semakin dalam menatap pria seumuran dirinya bersama sosok wanita yang terbilang masih terlalu muda.


"Kau, Evan?"


"Hai ... Lama tidak bertemu!" Meskipun banyak tanda tanya di benaknya, namun Evan menyambut teman lamanya itu dengan ramah. Pelukan pelepas rindu pun terjalin. Evan melayangkan tinju ke bahu teman semasa kuliahnya itu.


"Aku kira, kamu masih di Cappadocia?" tanya Anthony.


"Aku sudah pulang. Aku pernah mendengar skandal seorang arsitek kondang dengan seorang mahasiswa abadi," kelakar Evan seraya melirik Nanas. "Jadi ini istrimu, ya?"


Pria itu pun mengenalkan istri barunya.


Evan mempersilahkan sepasang suami dan istri itu untuk duduk. Sebelum melakukan pemeriksaan awal, Evan lebih dulu menanyakan nama lengkap, usia dan beberapa hal lain. Kemudian dilanjutkan dengan memeriksa tekanan darah.


Perawat wanita itu pun membantu Nanas muda itu untuk berbaring di ranjang pasien, menyingkap pakaian hingga batas bawah dada dan mengoles gel di permukaan perutnya.


Evan mengambil sebuah alat dan hendak menggeser benda itu di atas perut Nanas, membuat mata temannya itu membelalak.


"Apa yang akan kau lakukan? Tidak boleh!" pekik Anthony menghalau tangan Evan.


Hah, tidak boleh? Ada apa dengan makhluk ajaib ini? gerutu Evan dalam hati.


"Jangan disentuh, Kau mau modus ya?"


Rahang Evan terbuka menatap pria yang baginya mendadak ajaib itu. Sebab setahunya, Anthony adalah seorang pria pendiam dan terkesan cool.


"Lama tidak bertemu sepertinya lidahmu semakin licin. Sepertinya kau harus diperiksa juga. Jangan-jangan kabel merahmu putus," sindirnya sambil tertawa kecil.


"Jangan bicara sembarangan! Lagi pula suami mana yang suka istrinya dipegang laki-laki lain?"


"Baiklah, aku 'kan hanya menjalankan tugas."


"Pokoknya kau tidak boleh lihat atau pegang!" teriak Anthony sekali lagi dengan nada yang lebih menekan.


Sementara Nanas muda yang melihat tingkah suaminya hanya dapat tersenyum kecut.

__ADS_1


Untung teman, kalau bukan sudah kuusir. gerutu Evan dalam batin.


Dengan bantuan asistennya, pemeriksaan berlanjut. Evan menatap ke layar monitor dan menjelaskan beberapa hal.


"Nah itu anakmu." Evan menunjuk gambar pada layar monitor yang menampilkan titik putih berbentuk kacang, yang membuat alis pria itu saling bertaut.


"Kau mau menipuku ya? Kenapa bentuknya seperti kecebong? Seharusnya kan seperti bayi?"


Ya ampun, aku pikir Kak Zian satu-satunya tokoh novel paling ajaib, ternyata masih ada lagi. Sabar Evan ...


"Itu gambar embrio. Memang awal kehamilan bentuknya masih seperti itu dan belum berbentuk manusia," jawab Evan sambil menahan tawa.


Meskipun masih tampak bingung, namun Anthony mengangguk tanda mengerti. Tatapannya tak pernah lepas dari layar monitor. Dengan pikirannya yang melayang dengan ribuan pertanyaan tentang bentuk embrio.


"Van, kapan kecebongnya berubah jadi bayi?" Sebuah pertanyaan polos yang membuat Evan rasanya ingin menjadi pembunuh bayaran seperti di film-film. Ia menarik napas dalam.


"Akan berubah sendiri seiring dengan berjalannya waktu." Ia pun memberikan jawaban seadanya. Pasien kali ini cukup membuatnya pusing tujuh keliling.


Konsultasi berlanjut. Evan memberikan beberapa petunjuk penting tentang menjalani kehamilan di trimester pertama.


"Terima kasih, Van," ucap Anthony setelah Evan memberi resep obat yang harus ditebus di apotek.


"Sayang, keluarlah duluan. Aku masih ada perlu dengan dokter ini."


"Oh, baiklah ..." Wanita itu mengikuti keinginan sang suami dengan keluar lebih dulu, sementara Evan langsung tertawa begitu pintu tertutup.


"Apa kau ada rekomendasi seorang dokter kandungan wanita? Aku bisa gila kalau konsultasi dengan dokter pria. Untung teman."


Evan masih tertawa. Tetapi ia dengan cepat memberikan nomor telepon seorang dokter wanita.


"Memang kau tidak lihat nama yang tertera di depan pintu?"


"Aku tidak sempat melihatnya."


Anthony sudah akan melangkah keluar, namun Evan kembali memanggilnya.


"Oh ya ... apa kau tidak merasa terlalu tua untuk Nanas mudamu itu?" kelakar Evan membuat mata Anthony melotot.


"Brengsek!"


.


.


.


Evan kembali duduk di kursi. Setidaknya pertemuan dengan teman lamanya tadi cukup menghibur. Sebagai dokter kandungan, tak jarang ia bertemu dengan suami pasien yang kadang cukup posesif.


Teringat kembali kepada Hanna. Evan mengeluarkan ponsel dari laci dan mulai mengetikkan pesan untuk istrinya itu.

__ADS_1


Hai, Sayang ... Tolong maafkan kesalahanku. Tunggu aku pulang. Akan aku jelaskan semuanya tanpa merahasiakan apapun lagi. Hanna Cabrera, aku mencintaimu dan hanya dirimu.


***


__ADS_2