Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Chapter 90


__ADS_3

Bulan madu kali ini benar-benar dimanfaatkan Evan untuk menikmati kebersamaannya dengan Hanna. Selepas sarapan dilanjutkan dengan mandi bersama. Sekarang keduanya sedang main perang bantal hingga seisi kamar menjadi sangat berantakan. 


Di mansion keluarga Azkara itu hanya ada mereka berdua, karena sebelumnya Evan telah meliburkan semua pekerja.


Evan melingkarkan tangan di perut wanitanya itu saat hendak berlari menghindarinya, dan menghempas tubuh mereka ke tempat tidur. Evan menggelitik perut hingga Hanna tak dapat menahan tawa. 


“Lepaskan! Ini sangat geli. Hahaha ...” Ia berusaha melepas tangan kekar itu, tetapi tenaganya kalah jauh dari Evan. Bahkan kini merasa kesulitan bernapas karena Evan menindih tubuhnya. 


“Aku akan menggigitmu kalau tidak melepasku.” 


“Gigit saja! Kalau merah, aku akan bilang pada Sky bahwa mommy-nya menggigitku dan dia akan menghukummu,” balas Evan mengancam, tetapi tangannya tak berpindah dari perut Hanna dan terus menggelitiknya. 


Bahkan ponsel sudah berdering beberapa kali, namun Evan tak memerdulikan panggilan itu. 


“Ponselmu berdering sejak tadi.” 


“Biarkan saja, paling itu dari Osman yang kurang kerjaan. Dia kan sangat suka mengganggu orang.” 


Hanna mendorong kuat-kuat dada suaminya hingga bergeser dan terbaring di sisinya. Ia akan beranjak, namun Evan menariknya hingga jatuh ke dalam pelukannya. Menjadikannya tawanan.


"Ponselmu bunyi terus!"


“Ugh, menganggu sekali.” Akhirnya menyerah, Evan menggerutu dan meraih ponsel dari atas meja. 


Benar dugaannya. Tertera nama Osman di layar ponsel yang membuat Evan mendengus. Padahal sebelumnya ia telah memperingatkan Osman untuk tidak mengganggunya.

__ADS_1


“Benar kan, Osman si pengganggu itu. Mau apa dia?” 


Hanna hanya tersenyum melihat suaminya yang terus menggerutu kesal. “Jawab saja, mungkin ada sesuatu yang penting.” 


Meskipun malas, Evan pun segera menggeser simbol hijau pada layar ponsel agar dapat terhubung dengan Osman.


“Ada apa?” sahut Evan dengan kesal. 


“Tuan, apa Anda sedang sibuk?” tanya Osman. 


“Kalau sudah tahu aku sedang sangat sibuk, kenapa kau terus menghubungiku? Apa kau tidak tahu kalau kau sangat mengganggu?” 


Keheningan hadir selama beberapa saat. Osman terdengar menghela napas panjang.


“Maafkan saya. Tapi ini sangat penting, Tuan.” 


“Memangnya ada apa?”


“Ada masalah di kafe dan saya membutuhkan bantuan Anda.” 


Mendadak wajah Evan berubah serius. Mengingat Osman adalah orang yang paling dapat ia andalkan dalam hal pekerjaan. Dan jika Osman sudah meminta bantuan, berarti sesuatu yang serius sedang terjadi. 


“Bantuan apa?” 


“Seorang wanita melapor bahwa anaknya keracunan setelah makan di restoran kita. Sekarang masalah ini sedang diselidiki pihak  kepolisian Kota Amasya."

__ADS_1


"Apa? Bagaimana bisa?"


"Semuanya masih dalam penyelidikan. Saya rasa akan lebih baik kalau Anda kemari. Mumpung masih di Istanbul."


"Lalu bagaimana keadaan anak yang keracunan itu?"


"Saat ini sedang menjalani perawatan di rumah sakit Amasya.” 


"Baiklah, aku akan ke Amasya hari ini juga."


Evan menatap Hanna yang berbaring di sisinya. Ia mencoba mendengarkan pembicaraan Osman dengan suaminya dengan serius.


"Ada apa?" tanya Hanna.


"Sayang, ada masalah di Amasya. Apa kau tidak keberatan kalau kita ke sana?"


"Memangnya apa yang terjadi?"


"Osman bilang seorang anak mengalami keracunan setelah makan di restoran."


"Baiklah, aku akan ikut kemana pun kau pergi."


Evan meragu, mengingat segala kenangan buruk yang dialami Hanna di Amasya. Berikut penghinaan orang-orang yang menyudutkannya selama bertahun-tahun.


****

__ADS_1


__ADS_2