
“Bukankah kita sedang berperan sebagai orang asing yang baru pertama kali bertemu? Jadi jangan bicarakan tentang masa lalu dulu.”
Evan mencoba menghindari pertanyaan itu. Baginya saat ini hal terpenting adalah membangun hubungan baru dengan Hanna tanpa bayang-bayang masa lalu.
“Aku setuju,” ucap Hanna membuat Evan tersenyum lega.
“Baiklah, Nona Hanna Cabrera. Bagaimana kalau kita pergi ke tempat lain saja. Di sini terlalu bising dan aku tidak begitu suka.”
“Kau akan mengajakku ke mana?” tanya Hanna penasaran.
Evan tampak berpikir sejenak. Dengan tangannya yang masih melingkar erat di pinggang wanita itu. “Bagaimana kalau kita ke taman saja. Selain gratis, di sana juga lumayan romantis. Maaf, aku tidak punya banyak uang untuk membawamu ke tempat yang mewah. Kita akan berkencan seperti orang biasa pada umumnya.”
Senyum di wajah Hanna semakin mengembang. “Sepertinya tawaranmu lumayan menarik. Dengan terpaksa aku akan ikut denganmu.”
Sambil bergandengan tangan, Evan dan Hanna meninggalkan pesta dansa itu. Menuju ke sebuah taman yang romantis di Kota Istanbul. Evan melepas jas dan membalut tubuh Hanna demi melindunginya dari udara dingin.
Mereka berjalan-jalan di sebuah taman layaknya sepasang kekasih. Terdapat kafe-kafe kecil dengan musik. Hanna sangat menikmati malam ini. Ia tampak antusias melihat-lihat beberapa kedai makanan yang menyajikan cemilan khas Turki yang manis.
“Bagaimana kalau kita duduk di sana sambil mengobrol.” Evan menunjuk kursi yang terdapat pada sebuah taman kecil. “Di sekitar sana juga ada pedagang di pinggiran taman. Mungkin kau tertarik membeli jajanan sambil minum teh hangat?”
“Baiklah. Aku butuh minuman hangat, malam ini udara cukup dingin.”
Evan membawa Hanna untuk duduk di sebuah kursi. Suasana di tempat itu tidak begitu ramai seperti tempat lainnya. Hanya ada beberapa kursi taman yang kosong. Lampu-lampu taman yang berwarna kekuningan menambah kesan romantis.
"Tunggu di sini. Aku akan membeli sesuatu untukmu."
"Baiklah, tapi jangan lama ya." Hanna menatap punggung tegak Evan yang perlahan menjauh.
Sambil menunggu, ia mengeluarkan ponsel dari dalam tas, membuka galeri foto dan menatap foto dan video anak-anaknya yang dikirim kakak iparnya siang tadi. Sky dan Star terlihat sangat ceria saat mengunjungi kebun binatang.
__ADS_1
"Padahal baru dua hari, tapi aku sudah sangat merindukan mereka. Sky ... Star ..."
Hanna memeluk ponsel di dadanya. Kerinduan begitu kuat menguasainya.
"Maaf membuatmu menunggu lama." Kehadiran Evan yang tiba-tiba membuyarkan lamunan wanita itu. "Kau menangis?"
Hanna menggeleng pelan, mengusap ujung matanya dengan jari, kemudian meraih minuman pemberian Evan. "Aku tidak apa-apa. Aku hanya sedang merindukan seseorang."
Melirik foto dua anak di layar ponsel milik Hanna, Evan tersenyum. "Mereka siapamu?"
"Em ... Adik-adikku."
"Wah, mereka lucu sekali ya? Apa mereka kembar?"
Hanna menjawab dengan anggukan kepala.
"Boleh aku melihatnya lebih dekat?"
"Kau yakin mereka adik-adikmu? Tapi mengapa aku merasa mereka sangat mirip denganku? Apa lagi anak laki-laki ini."
Tak terima, Hanna merebut kembali ponsel dari tangan Evan. "Kau ini percaya diri sekali ya. Mana mungkin adik-adikku mirip denganmu."
"Baiklah. Terserah kau saja. Ngomong-ngomong kalau punya waktu aku ingin berkenalan dengan mereka."
"Tapi mereka tidak suka orang asing. Adik laki-lakiku sangat posesif. Dia tidak akan membiarkanmu mendekatiku. Dia akan mengira aku memiliki alergi jika berdekatan denganmu."
"Emh ... kalau begitu, akan kudapatkan kakaknya dulu, baru mencuri hati adik-adiknya."
Hanna tertawa kecil, kemudian memasukkan kembali ponsel ke dalam tas. Baru saja ia akan menikmati teh hangat itu, namun tiba-tiba hujan turun dengan cukup deras.
__ADS_1
Hanna melepas jas milik Evan, yang kemudian mereka gunakan untuk melindungi kepala dari derasnya hujan yang mengguyur. Berlari sambil tertawa menerobos hujan.
"Ini rumah siapa?" tanya Hanna ketika melihat sebuah bangunan megah di hadapannya.
"Aku meminjamnya dari seseorang. Lumayan untuk berteduh malam ini. Di luar hujan sangat deras."
.
.
.
Hanna membeku oleh rasa takjub ketika memasuki sebuah kamar yang sangat indah layaknya kamar pengantin.
Kakinya melangkah diantara kelopak bunga yang bertaburan di lantai. Hanya ada cahaya dari lilin-lilin kecil yang berada di beberapa sudut kamar, tetapi sudah cukup untuk menerangi.
"Keringkan dulu rambutmu." Evan menyerahkan handuk kecil, lalu masuk ke kamar mandi.
Sementara Hanna mengeringkan rambut dan tubuhnya masih terbalut gaun yang basah. Ia tampak gemetar akibat rasa dingin yang seolah menusuk ke tulang.
Tak lama berselang, Evan baru keluar dari kamar mandi. Tatapannya langsung tertuju pada Hanna yang berdiri dengan posisi membelakang.
Pakaian yang basah itu membuat lekuk tubuh Hanna terlihat jelas. Evan berjalan mendekat dan memeluk dari belakang.
Hanna merinding saat merasakan tangan kekar itu melingkar erat di perutnya. Hawa dingin yang sempat ia rasakan berubah menjadi rasa panas. Evan membalikkan tubuhnya hingga kini mereka saling berhadapan dalam posisi yang sangat dekat. Hingga Hanna dapat merasakan hangat hembusan napas laki-laki itu.
Evan mendekatkan wajahnya hingga hanya tersisa jarak kurang dari satu jengkal. Detak jantung Hanna kian berpacu saat tatapan mereka bertemu.
Evan berbisik,
__ADS_1
"Aku sudah siapkan air hangat untukmu. Mandilah."
****