
Perlahan kelopak mata Hanna mulai terbuka, ketika tirai jendela kaca yang tersibak meloloskan cahaya matahari menerpa wajahnya. Tubuhnya menggeliat pelan demi mendapatkan posisi berbaring yang nyaman. Sisa lelah itu masih terasa, meskipun semalam ia dapat tidur dengan nyenyak. Tetapi dengan melihat dua malaikat kecil yang terbaring di sisinya menciptakan senyum bahagia.
“Anak-anakku ...” Ia menciumi kening kedua anaknya dalam. Lega sekaligus bahagia. Ketakutan yang selama dua hari mencekiknya telah sirna.
Pandangannya kini terarah kepada wajah teduh yang masih terlelap. Hanna menyibak selimut dan beranjak turun dari tempat tidur. Ia menjatuhkan tubuhnya di sisi suaminya dengan sangat hati-hati agar tak membangunkannya.
Dipandanginya wajah itu lekat, mengagumi setiap bagiannya. Hidung yang mancung, dagu terbelah, dan bulu-bulu halus di sekitar wajahnya. Ia baru tersadar betapa beruntungnya seorang Hanna Cabrera memiliki seorang suami sesempurna itu.
Entah sadar atau tidak, tangan Hanna terulur menyentuh wajah itu. Membelainya dengan lembut. Lalu dengan dorongan perasaan yang begitu sulit ia kendalikan, bibirnya telah terbenam di kening suaminya. Dalam dan lembut.
“Selamat pagi, Suamiku.”
Dengan malu-malu ia berbisik pelan, berharap Evan tak mendengar bisikan mesra itu. Lalu kemudian beranjak bangun dari tempat tidur. Namun baru satu langkah, tangannya telah ditarik hingga terjerembab dan jatuh di dalam pelukan suaminya. Hanna terkejut, bulu matanya bergerak dengan lucu ketika beberapa kali.
“Selamat pagi juga, Istriku?” ucap Evan dengan senyum mengembang.
Kelopak mata Hanna melebar, pipinya memerah. Merinding sekaligus geli mendengar bisikan itu. “Ka-kau sedang pura-pura tidur, ya?”
__ADS_1
“Tidak ... Aku benar-benar tidur. Kau lah yang sudah membangunkanku. Apa kau tidak tahu kalau aku sangat sensitif dengan sentuhan?”
Rasanya Hanna ingin menghilang saat itu juga karena rasa malu. Ingin bangkit, namun tangan Evan begitu kokoh melingkar di pinggangnya. Tak memberinya celah untuk melepaskan diri.
“Kau tadi mengusap wajahku seperti ini.” Tangan Evan terangkat membelai wajah Hanna, menelusuri dari kening, pipi, dagu hingga bibir. Seperti yang dilakukan Hanna tadi kepadanya. “Lalu menciumku seperti ini.” Evan membenamkan ciuman di kening, lalu menatap wajah merona bak udang rebus itu. “Aku tidak tahu kalau Hanna Cabrera yang galak bisa semanis ini.”
“A-Apa kau sedang mengejekku?”
“Tidak.”
“Kalau begitu, lepaskan aku. Aku mau mandi.”
“Mau apa kau?”
“Tidak ada, hanya memelukmu saja. Kau pikir kita bisa melakukan sesuatu saat anak-anak ada di sini?” ucapnya seraya merapikan anak rambut yang berada di sekitar wajah sang istri, menyelip ke belakang telinga.
“Tentu saja tidak. Aku tidak mau mereka melihat sesuatu yang tidak pantas.”
__ADS_1
Evan terkekeh, lalu membelai pipi Hanna dengan lembut, hingga tatapan mereka saling bertemu. Keduanya seakan larut di sana. Evan mencondongkan wajahnya semakin mendekat, hingga keduanya dapat saling merasakan hembusan napas yang memburu.
Saat kedua bibir itu hampir menyatu, tiba-tiba Evan tersadar.
"Setidaknya kita harus memastikan tidak ada gangguan untuk itu," bisik Evan menatap Sky dan Star.
***
Readerlicious cantikly : Gantung Thor kayak cucian. 😑
🤣
Btw baca juga Karya lombaku yang baru rilis ya. mohon dukungannya man teman
Klik profil aku dan cari judul HIDDEN WIFE
__ADS_1
terima kasih 🙏