Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Chapter 77


__ADS_3

“Tadi kau memperlihatkan sesuatu yang mengejutkan padaku. Bagaimana kalau aku mulai dengan membalasnya. Memperlihatkan padamu sesuatu yang berbeda.” Evan menarik ujung handuk yang melilit pinggangnya-- yang akhirnya membuat Hanna menjerit. 


“Ja-jangan! Jangan buka di sini!” pekik Hanna semakin membenamkan wajahnya pada bantal. Kuku-kukunya mencengkram erat permukaan benda itu. Sesekali ia tampak mengintip demi memastikan Evan tidak bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


Hanna menghela napas lega ketika melihat bagian bawah tubuh suaminya masih terbalut handuk putih.


"Kenapa kau melihatku begitu?" ketus Hanna saat menyadari tatapan Evan.


“Karena kau sangat lucu. Katakan, kenapa aku harus menutupi bagian ini? Bukankah kau punya hak untuk melihatnya sesukamu?” Evan mencoba meraih bantal yang berada dalam pangkuan Hanna. Tetapi Hanna semakin mengeratkan pelukannya, sehingga mereka terlibat saling berebut.


“A-ku malu. Tolong jangan menggodaku seperti ini.” 


Melihat tingkah Hanna, Evan mengatupkan bibirnya demi menahan tawa, kemudian duduk di tepi tempat tidur dan langsung melingkarkan tangannya ke tubuh wanitanya itu.


“Ayolah, Sayang ... Tidak usah semalu itu. Lagi pula di sini hanya ada kita berdua.” 


Evan menarik bantal yang masih digenggam Hanna dengan sedikit memaksa, kemudian meletakkan di belakang punggungnya. Sementara Hanna langsung menutup wajahnya dengan telapak tangan dan bersandar di ceruk leher suaminya. 

__ADS_1


Matanya terpejam saat menyesap aroma wangi tubuh itu. Sangat damai, hingga Hanna merasa terbang ke awan. Tangan yang menutupi wajahnya perlahan turun dan melingkar di pinggang suaminya.


"Seperti ini kan enak." Evan mendorongnya hingga terbaring. Hanna terdiam, membeku dan tak dapat berbuat apapun. Terpaku menatap wajah suaminya yang entah mengapa begitu memikat malam itu. 


Ujung jari Evan mulai bermain di permukaan kulit wajah Hanna, sehingga ia dapat merasakan betapa lembut dan halusnya wajah itu, lalu membenamkan ciuman di kening. Cukup lama Evan bermain di sana, hingga Hanna tampak lebih menikmati dan tidak semalu tadi.


“Apa sekarang sudah boleh?” tanya Evan, lalu disambut Hanna dengan anggukan kepala walaupun masih jelas malu-malu. 


Perlahan tangan Evan bergerak ke bawah, membuka kancing piyama satu persatu.


Dengan gerakan yang cukup cepat, Evan telah berhasil melepas seluruh pakaian yang membalut tubuh mereka. Kini hanya selimut yang menutupi.


Hanna tersentak saat Evan membenamkan bibirnya di leher dan dada. Meninggalkan tanda-tanda cinta di sana. Sementara tangannya terus menjelajah ke daerah mana pun sesukanya.


"Jangan! Aku mohon jangan!" Ia menahan dada suaminya ketika Evan telah berada di atasnya.


Wajah Hanna yang tadinya merona merah telah memucat, dengan tubuhnya yang gemetar.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Tolong jangan! Le-lepaskan a-ku!" Hanna mendorong tubuh Evan yang telah berada di atasnya hingga bergeser ke samping, lalu dengan cepat menyilangkan tangan di depan dada.


Isak tangis pun mulai terdengar. Meskipun tak mengatakan apa yang membuatnya menangis ketakutan, namun Evan dapat menebak. Hanna trauma dengan apa yang dialaminya tujuh tahun lalu. Ketika Evan dengan buas melahapnya.


"Maafkan aku," bisik Evan memeluknya dari belakang. Sementara Hanna masih menangis hingga terdengar sesegukan.


"Aku tidak akan memaksamu seperti waktu itu. Maafkan aku."


***


Maaf ya, aku pengen banget kreji up, tapi aku sedang dalam pengungsian akibat banjir yang melanda Makassar-Gowa dan sekitarnya. Jadi jangan heran kalau bab ini ngaco banget. akan segera aku revisi typo dll.


Doain semoga cepat surut yaaa.


Terima kasih. 🙏

__ADS_1


__ADS_2