
Siapa yang sudah membawa mereka ke mari?
Evan belum dapat berkata-kata. Matanya melirik ke kanan dan kiri untuk mencari.
Sementara Hanna langsung mengancingkan kembali piyamanya saat mendengar suara dari dua makhluk yang paling dirindukannya. Menyibak selimut dan berlari kecil menuju pintu. Hanna tersenyum dengan mata berkaca-kaca saat meyakini bahwa penglihatannya tidak salah.
"Sky ... Star!"
"Mommy!" ucap sepasang bocah kembar itu bersamaan.
Hanna tak dapat membendung rasa bahagia itu. Ia berjongkok dan memeluk kedua anaknya, begitu pun dengan Evan. Meskipun sudah mengacaukan malam indahnya, namun kedatangan si kembar membuatnya sangat bahagia.
Mereka saling memeluk demi melepas kerinduan. Hanna menciumi wajah kedua anaknya bergantian.
"Apa Mommy sangat merindukan aku dan kakak?" tanya Star mengusap cairan bening yang mengalir di ujung mata sang mommy.
"Sangat! Mommy sangat merindukan kalian. Ayo, peluk mommy lagi, Sayang!" Sky dan Star kembali memeluk mommy-nya.
Sementara Evan mengusap rambut Sky. "Anak-anak ... siapa yang membawa kalian kemari?"
"Uncle Zian!" jawab kedua anak itu dengan penuh semangat.
Evan menepuk dahinya pelan. Kakaknya itu memang kadang memiliki ide di luar nalar.
"Mereka mengadu padaku susah menghubungi mommy-nya. Kadang mau mengucapkan selamat malam saja susah karena ponselnya sering mati. Jadi mereka meminta menyusul," ucap Zian santai. "Selain itu Sky takut mommy-nya akan mengalami alergi lagi."
Wajah Hanna tiba-tiba memerah. Beruntung pencahayaan temaram karena sebagian lampu sudah dimatikan.
__ADS_1
Sementara Evan mendengus mendengar jawaban kakaknya itu. Ingin memaki, tetapi tentu saja ia tak akan berani. Sebab mungkin telinganya akan kembali menjadi korban.
Dia pasti sengaja datang untuk mengganggu. Ya ampun, ini ujian yang sesungguhnya.
"Kak Zian kemari bersama siapa? Apa hanya bertiga dengan anak-anak?" tanya Evan.
"Tidak!"
"Lalu bersama siapa? Apa Nay juga ikut?"
"Aku pikir akan menyenangkan kalau kita semua liburan bersama di negara asal kita. Jadi aku bawa saja seluruh keluarga kita untuk liburan di Turki. Kebetulan Naya sangat ingin pergi ke Cappadocia dan naik balon udara."
"Jadi di mana mereka sekarang?"
"Mereka semua menunggu kita di Istanbul. Tapi dua anak ini sudah tidak sabar bertemu mommy-nya, jadi aku bawa saja ke sini sekalian."
Evan mengangguk mengerti.
Hanna menggeleng seraya tersenyum. Putranya itu memang sangat posesif. "Tidak lagi, Sayang. Mommy sudah sembuh."
"Apa Daddy yang mengobati mommy?" Star ikut bertanya.
"Malah daddymu yang membuat mommy alergi," celetuk Zian tanpa mengindahkan ekspresi wajah Evan.
Sepertinya ia memang sangat suka menjahili adik bungsunya itu. Terlihat saat Evan melayangkan tatapan memelas, Zian malah asyik bersiul dengan riang seolah tidak terjadi apa-apa.
"Tidak, Sky. Mommy sudah tidak alergi lagi. Tidak ada merah-merahnya lagi," ucap Evan ketika menyadari tatapan Sky.
__ADS_1
"Benar, Mommy?" Ia hendak memastikan dengan bertanya kepada mommy-nya.
"Iya, Nak. Jangan khawatir. Mommy sudah tidak alergi lagi."
"Yeay ... Berarti badan mommy tidak merah-merah lagi, kan?"
Hanna tersenyum kecut. Pertanyaan polos Sky dan Star lagi-lagi melukis semburat merah di pipinya. Apa lagi saat menyadari kakak iparnya berusaha menahan tawa dengan mengatupkan bibirnya.
"Em ... Sky, Star ... Ini sudah malam, Nak. Ayo kita ganti baju di kamar kalian dan tidur." Hanna mencoba mengalihkan perhatian.
"Tapi aku mau tidur dengan Mommy," pinta Star dengan manja.
"Aku juga, Mommy," tambah Sky.
"Boleh, tapi kalian harus ganti baju dulu." Hanna melirik Zian yang masih berdiri dengan gaya santainya. "Kak Zian, terima kasih sudah membawa mereka kemari. Maaf merepotkan."
"Tidak masalah, aku senang bisa menemani mereka. Perjalanan kami sangat menyenangkan. Iya kan, Sky ... Star."
"Benar, Uncle. Kita kemari naik helikopter yang sangat besar, Mommy," jawab Sky dengan penuh semangat, sambil melukis lingkaran di udara dengan dua jari telunjuknya.
"Sepertinya sangat seru. Baiklah, sekarang kita ke kamar ya."
Hanna pun membawa kedua anaknya menuju kamar sebelah untuk berganti pakaian. Sementara Evan menatapnya dengan raut kecewa.
Mereka kan bisa tidur sendiri, kenapa harus ditemani coba? Gagal lagi kan?
"Kenapa wajahmu jadi kesal begitu? Apa sesuatu sedang mengganggumu?" tanya Zian, membuat Evan menghela napas panjang.
__ADS_1
Jika saja bukan kakakku, pasti sudah aku cekik!
***