Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Chapter 124


__ADS_3

Suasana kepanikan terasa mencekam. Orang-orang berkerumun di sekitar mobil yang baru saja terguling. Tampak beberapa pria berusaha mengeluarkan korban yang masih terjebak di dalam mobil.


Beberapa di antaranya hanya menjadi penonton dengan bergidik ngeri. Sedangkan yang lain tampak sibuk dengan ponselnya dan mengabadikan kejadian tersebut dengan merekam.


Kemacetan pun terjadi.


Tak lama berselang, sirine ambulan terdengar diiringi suara yang berasa dari pengeras suara yang meminta agar beberapa kendaraan minggir dan memberi jalan.


.


.


.


PRANG! 


Pecahan kaca menghambur membentuk kepingan kecil saat sebuah bingkai foto terjatuh menghantam lantai, menciptakan bunyi menggema yang memenuhi seisi kamar. Lamunan Hanna pun membuyar. Wanita yang sedang duduk di dekat jendela itu spontan melirik ke sumber suara. Tampak sebuah bingkai foto sudah tergeletak di lantai. 


Perasaan takut dan khawatir seketika merasuki hati Hanna. Konon katanya bingkai foto terjatuh tanpa sebab adalah sebuah pertanda buruk. Kakinya perlahan melangkah, duduk berjongkok dan meraih foto pernikahan berbingkai kayu yang masih utuh, hanya kacanya yang pecah berserakan di lantai. 

__ADS_1


“Kenapa fotonya bisa jatuh?” Ia melirik seisi ruangan. Sama sekali tak ada hembusan angin. 


Hanna menatap lekat gambar dirinya dan sang suami yang saling memeluk. Kebahagiaan yang tersirat melalui senyum di wajah keduanya tampak nyata. Ia mengusapnya dengan jari. 


“Auh!” Sisa pecahan kaca yang tertinggal pada bingkai foto mengiris jemarinya, meninggalkan rasa perih. Detik itu juga cairan merah menetes dan mengenai gambar wajah suaminya. 


Hanna terdiam beberapa saat. Hingga suara ketukan pintu yang terdengar mendesak menyadarkannya. 


“Masuk, tidak dikunci!” ucapnya sambil menatap pintu. Hanna baru akan membersihkan pecahan kaca, ketika Elma masuk ke kamarnya dengan tergesa-gesa. Jangan lupakan wajah pucat bercampur panik yang terlihat begitu jelas. 


“Hanna—” Ucapan Elma menggantung. Jemarinya saling meremas. Bibirnya terlihat ragu untuk berucap, terlebih saat menatap pecahan kaca dari bingkai foto yang berhamburan di lantai.


“Evan—” 


Bingkai foto yang sejak tadi digenggam Hanna pun terlepas begitu saja. Cairan bening mengalir di wajahnya tanpa dapat ditahan, ketika hatinya menyakini sesuatu yang buruk sedang terjadi kepada suaminya. 


“Evan kecelakaan. Kita harus segera ke rumah sakit, Fahri dan Zian sudah tiba lebih dulu.” 


Kelopak mata Hanna mengerjap seiring dengan air mata yang jatuh semakin deras. Tubuhnya luruh ke belakang, membuat Elma segera berjongkok dan menahan tubuhnya. 

__ADS_1


“Kak, tapi suamiku baik-baik saja ‘kan?” Suara Hanna terdengar gemetar, begitu pun tubuh lunglainya. Tatapannya sangat memelas tapi menuntut sebuah jawaban. 


Tak tahu harus menjawab apa, Elma hanya dapat memeluk Hanna yang kini menyandarkan kepala di bahunya.


“Lebih baik sekarang kita ke rumah sakit. Evan pasti baik-baik saja.” Ia membantu Hanna berdiri, kemudian keluar dari kamar bersama. 


.


.


.


Hanna meremas ujung pakaiannya kuat-kuat. Mobil baru saja meninggalkan mansion keluarga Azkara. Setelah sebelumnya menjelaskan kepada Sky yang terus menanyakan keadaan daddynya.


Tak sengaja bocah kecil itu mendengarkan pembicaraan beberapa pelayan yang mengatakan daddynya mengalami kecelakaan. Sehingga mau tidak mau Elma harus sedikit berbohong, karena Sky terus menangis.


"Tolong lebih cepat. Aku harus segera sampai ke rumah sakit!" ucap Hanna memelas kepada seorang pria yang duduk di kursi kemudi.


Evan ... Aku tidak akan macam-macam lagi. Aku tidak akan marah dan tidak akan cemburu lagi. Aku akan melakukan apapun untukmu, tapi tolong jangan tinggalkan aku.

__ADS_1


***


__ADS_2