
Evan seketika melayangkan lirikan memelas memohon bantuan kepada Elma untuk menjelaskan kepada Sky. Wanita itu pun membalas dengan seulas senyum tipis. Menjelaskan sesuatu kepada Sky harus sangat berhati-hati, karena pikiran anak lelaki itu tak sepolos yang dikira.
Ia sangat ingin melindungi mommy-nya dan tak rela siapapun menyakiti, meskipun itu adalah daddynya sendiri.
Sementara Evan larut dalam dugaan yang membuat hatinya terlampau bahagia, Elma malah dipusingkan sendiri memilih kata yang tepat untuk diberikan kepada Sky agar tak terjadi salah paham lagi.
Jari-jari Elma pun saling bertaut, melalui senyum ia seolah ingin Sky paham bahwa tidak terjadi sesuatu yang serius terhadap mommy-nya.
"Sky, mungkin yang terjadi kepada mommy-mu bukan alergi, Nak."
Sky masih menangis dan kini mulai terdengar suara isakan.
Sementara Fahri mengatupkan bibirnya. Tentu saja ia ingin menertawakan nasib Evan. Tetapi melihat kesedihan di wajah Sky, ia berusaha menahan keinginan menggebu itu.
"Lalu kenapa mommy muntah, Ibu? Mommy pasti alergi, kan?"
Elma menggelengkan kepalanya dengan cepat. Sementara yang lain memilih diam dan tidak menyahut. Sky anak yang memiliki pemikiran sangat kritis dan cerdas. Setiap jawaban yang diberikan kepadanya akan dibalas dengan pertanyaan lain.
"Mungkin saja di perut mommy sedang tumbuh adikmu. Artinya, sebentar lagi kau akan menjadi seorang kakak. Bukankah ini sangat keren?" Elma menekan kata 'keren' seperti saat Sky begitu antusias menceritakan sesuatu. Sky akan menyelipkan kata keren untuk hal apapun.
Bola mata Hanna pun langsung membesar mendengar ucapan Elma, tanpa ia sadari tangannya turun dan mengusap perut ratanya.
"Adik?" Sky masih tampak bingung. Terlihat dari raut wajah dan tatapannya yang bergantian mengarah kepada Hanna dan Elma.
"Iya, Nak. Karena itulah biarkan daddymu yang memeriksa mommy untuk memastikannya."
Sky menatap daddynya. Meskipun paham bahwa daddynya seorang dokter, namun baginya, Evan adalah virus yang harus dijauhkan dari sang mommy.
"Tidak!" pekik Sky dengan kepala menggeleng. "Ibu Elma, kalau Daddy ada di dekat mommy ... mommy akan merah-merah dan muntah. Mommy kan alergi dengan Daddy."
Cekik aku saja, Sky! gerutu Evan dalam hati sambil menepuk jidatnya.
"Bukan seperti itu, Sky. Maksud ibu ..." Elma menjeda dengan tarikan napas. "Kau akan memiliki adik lagi. Kau mau seorang adik bayi kan?"
__ADS_1
Sky menatap Hanna dengan raut kesedihan yang terlihat jelas, kemudian menatap Elma.
"Mau, Ibu ..."
"Itulah yang sedang terjadi pada mommymu, Nak. Jadi mommy bukan sedang alergi. Mengerti kan?"
Akhirnya, pikiran alergi terhadap Daddy yang menancap di benaknya sedikit terbantahkan mendengar penjelasan Elma, membuat wanita itu menarik napas.
Sky pun menyeka air mata yang baru saja membasahi pipi gempilnya.
Lihat saja, setelah ini akan ada pertanyaan lain dan kita harus menjawabnya dengan bahasa yang mudah dimengerti anak-anak. jerit Evan dalam batin.
*
*
*
Suara gemercik air terdengar dari dalam kamar mandi. Hanna menatap alat tes kehamilan di tangannya dengan perasaan campur aduk.
Ya, positif!
Untuk kedua kalinya benih kehidupan baru tumbuh di rahimnya. Hanna tersenyum, meski tampak bola matanya tergenang cairan bening.
Ia keluar dari kamar mandi. Melihat Evan yang duduk bersandar di tempat tidur dengan senyuman.
"Kemari!" Evan mengulurkan tangannya, lalu dengan gerakan lembut menarik tubuh istrinya hingga terjatuh di pangkuannya.
"Hasilnya ..." ucapan Hanna terpotong, karena sudah lebih dulu dibungkam Evan dengan ciuman.
"Aku tahu! Aku sudah menduga sebelumnya." Sambil terus menghujani wajah itu dengan kecupan sayang.
"Apa kau bahagia?" Hanna menatap wajah Evan, membuat laki-laki itu tertawa kecil.
__ADS_1
"Sayang ... laki-laki mana yang tidak bahagia dengan kehamilan istrinya? Bukankah kita harus merayakan ini?" bisiknya dengan senyuman menggoda.
"Merayakannya?"
"Iya. Tapi berdua saja." Ia berbisik lagi, kali ini diiringi desah napas. "Di sini."
Tanpa menunggu jawaban Hanna, Evan sudah berhasil membaringkannya. Mengurungnya dalam pelukan.
Evan merapikan rambut yang menutupi sebagian wajah Hanna dan dalam hitungan detik, Evan sudah menyatukan bibir mereka. Gerakan Evan yang cepat membuat Hanna tidak memiliki waktu untuk menolak ataupun menghindar.
Ia pun larut dalam hangatnya kebersamaan mereka. Evan selalu tahu daerah paling mematikan istrinya itu.
"Pintunya ..."
"Sudah aku kunci. Lagi pula anak-anak sudah tidur. Jadi tidak akan ada yang menganggu."
Evan menjelajahi leher dan membenamkan ciuman di sana. Dan benar saja, dalam hitungan detik, piyama yang tadi membalut tubuh Hanna sudah teronggok di lantai, membuat Evan menarik selimut dan menutupi tubuh polos mereka.
Pergumulan semakin memanas, Evan menghujani Hanna dengan sentuhan yang melenakan. Sangat lembut, hingga sejenak Hanna melupakan beban di hatinya.
Seketika kamar itu dipenuhi dengan suara-suara rintihan yang membuat gejolak dalam diri Evan semakin memuncak.
"Hanna, apa kau sudah tidur?" Suara Elma terdengar dari balik pintu.
Hanna menatap Evan yang kini masih menguasai tubuhnya. Evan pun meletakkan jari telunjuknya di depan hidung sambil menggeleng pelan.
"Biarkan saja."
Tanpa mengindahkan panggilan kakak iparnya, Evan melanjutkan permainannya. Mempercepat tempo gerakan hingga pada titik di mana segalanya terasa melayang.
Ia mengecup kening sebagai tanda selesainya aktivitas melelahkan itu. Lalu kemudian merebahkan tubuhnya di sisi sang istri dan memeluknya, dengan napas yang masih tersengal.
Sementara Hanna berbaring membelakang dan mendekap selimut di dadanya.
__ADS_1
Cairan bening itu mengalir lagi di ujung matanya.
****