
Naya dan Elma tampak sedang kewalahan membujuk Sky yang sedang menangis mencari mommy-nya.
Anak laki-laki tampan itu duduk di sebuah kursi dengan derai air mata yang tak dapat terhenti. Kedua tangannya memeluk erat bingkai foto sang mommy, meletakkan di depan dadanya sambil memanggil nama mommy-nya.
"Sky ... Sudah, Nak! Jangan menangis lagi. Mommy baik-baik saja dan sedang bersama Daddy. Mereka akan segera kembali." Naya berjongkok di hadapan Sky, membelai rambutnya dengan lembut. Akan tetapi tangis Sky tak kunjung mereda. Malahan kini mulai terdengar sesegukan dengan suara yang nyaris serak.
"Kak Elma, bagaimana ini? Sky terus menangis," ucap Naya menatap Elma.
Elma hanya mengangkat bahu, kemudian langsung duduk di sisi keponakannya itu, memeluk dan menyandarkan di dadanya. Tangannya bergerak mengusap punggung dengan lembut.
"Tenanglah, anakku. Semuanya baik-baik saja. Ibu akan menghubungi daddymu dan memintanya membawa mommy pulang."
"Daddy jahat, Ibu Elma ... Daddy membawa mommy pergi karena mommy alergi dengan Daddy. Daddy pasti akan menghukum mommy lagi."
Naya dan Elma saling melirik dengan menahan tawa. Antara kasihan dan lucu melihat tingkah Sky yang begitu mengkhawatirkan mommy-nya. Ia bahkan tak mengizinkan Evan mendekati Hanna.
Sedangkan Star sudah lebih tenang setelah Kay dan Dennis membawanya berjalan-jalan di taman belakang. Gadis kecil itu mulai mengerti setelah Dennis dan Kay menjelaskan bahwa mommy-nya baik-baik saja.
Berbeda dengan Sky yang begitu sulit diluluhkan.
"Mommy ... aku mau mommy! Mommy hilang!" Sky terisak-isak dan sesekali mengusap air matanya dengan jari-jari mungilnya.
__ADS_1
Tak lama berselang, pintu kamar itu terbuka. Sosok Zian muncul dari balik pintu dengan banyak balon di tangannya. Ia benar-benar tahu, Sky sangat suka dengan balon.
Perlahan tangisan itu mulai terhenti. Sky sejenak melupakan mommy-nya dan terfokus pada balon berwarna-warni itu.
"Sky, coba lihat, aku membawa balon yang sangat banyak untukmu." Zian meletakkan alat pemberat di lantai yang mengikat tali balon-balon itu agar tak beterbangan di udara.
"Semua balon ini untukmu. Apa kau tahu, setiap balon ada hadiahnya. Kau boleh meledakkannya satu persatu untuk mengetahui apa isi di dalamnya."
"Benarkah? Isinya apa saja?"
"Macam-macam, Nak. Ada permen, voucher makan kebab gratis, dan tiket jalan-jalan ke tempat wisata."
Zian menyerahkan sebuah tongkat kecil yang dapat digunakan untuk meledakkan balon. Sky tampak tak sabar untuk meledakkan balon-balon itu satu persatu dan melihat kejutan apa di dalamnya.
Zian menarik napas panjang, menggaruk-garuk kepalanya pertanda bingung. Otaknya sedang menjelajah mencari penjelasan yang masuk akal untuk diberikan kepada Sky.
"Oh ya, Sky ... Apa kau mau dengar satu rahasia?"
Sky mengangguk pelan, seakan siap untuk mendengarkan penjelasan pamannya.
"Mommy dan Daddy mu sedang pergi berlibur. Mommy pergi ke tempat yang sangat menyenangkan. Apa kau tahu, mereka akan pulang dengan membawa adikmu yang baru. Jadi kau tidak boleh menangis lagi."
__ADS_1
"Adik baru?"
"Iya, benar. Mereka akan pulang dengan membawa adik yang baru."
Binar bahagia seketika terlihat dalam mata Sky. Ia menyeka sisa air mata yang membasahi pipinya.
"Memangnya Evan dan Hanna kemana?" tanya Elma dan Naya.
Zian tersenyum, kemudian mengeluarkan secarik kertas dari saku piyamanya dan menyerahkan kepada Naya.
_________________
Kak ... Maafkan aku,
Aku pergi membawa Hanna tanpa meminta izin dan meninggalkan anak-anak.
Kami butuh waktu berdua untuk mengikis jarak di antara kami.
Hanna masih memiliki trauma atas apa yang kulakukan padanya tujuh tahun lalu dan mungkin tidak akan mudah untuk menghilangkannya.
Karena itu, aku mau memulai semuanya dari awal dengannya. Di tempat pertama kali kami bertemu.
__ADS_1
Aku akan menitipkan anak-anakku selama seminggu. Sampaikan pada Sky dan Star bahwa mommynya akan baik-baik saja.
****