Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Chapter 137


__ADS_3

Hanna membuka matanya. Hal pertama yang tampak dalam pandangannya adalah raut wajah khawatir kakak-kakak iparnya.


Mendapati sebuah surat yang ditinggalkan suaminya membuat Hanna tak dapat membendung kesedihan, hingga akhirnya pingsan. Beruntung tak lama setelahnya, Elma masuk ke kamar dan mendapati Hanna terbaring di lantai. Kepanikan pun mewarnai pagi di mansion keluarga Azkara.


"Kau sudah bangun?" ucap Elma. Melalui senyum seolah ia ingin menegaskan bahwa semuanya baik-baik saja.


“Kak Elma, Kak Naya ...” 


Pandangan Hanna berkeliling sekali lagi. Dengan harapan di dalam hati bahwa kejadian tadi hanyalah sebuah mimpi buruk. Namun, ketiadaan Evan di kamar telah menegaskan bahwa suaminya itu benar-benar telah pergi. 


Isak tangis pun mulai terdengar, membuat Elma, Naya dan Elsa mendekat. Memeluk dan berusaha menguatkan adik iparnya itu. 


“Kenapa dia harus pergi sendirian? Kenapa tidak membawaku bersamanya? Padahal aku tidak akan merepotkannya,” lirihnya membenamkan wajah di pelukan kakak iparnya. “Dia bahkan tidak memberitahu dan berpamitan padaku sebelum pergi.” 


Tidak ada yang dapat dilakukan wanita-wanita itu selain memeluk Hanna.


“Tenanglah, Hanna. Evan punya alasan untuk tidak mengizinkan kita semua menemaninya,” ucap Elma mengelus rambut panjang Hanna.

__ADS_1


“Kak Elma benar, Hanna. Evan bukan seseorang yang suka membagi kesusahannya dengan siapapun. Tapi yakinlah dia akan segera kembali begitu kondisinya membaik,” tambah Elsa. 


"Aku mau menyusul, Kak! Tolong minta siapapun mengantarku ke sana. Aku harus menemaninya." Hanna memohon dengan memelas, namun baik Elma, Elsa maupun Naya tak tak mengiyakan begitu saja.


Karena sebelum pergi, Evan telah berpesan agar tidak seorang pun dari keluarga Azkara yang boleh menyusulnya. Sekali pun itu Hanna.


"Jangan khawatir, Evan akan kembali." Naya duduk di sisi Hanna dan kembali memeluknya. "Kenapa suami-suami kita melakukan hal yang sama setiap mereka berada dalam kesulitan? Apa kalian tidak merasa bahwa mereka semua sama?"


"Maksudnya?" Hanna menatap Naya dengan penuh tanya.


"Aku juga pernah mengalaminya. Suamiku pernah meninggalkanku selama dua tahun. Aku dan Dennis disembunyikan di sebuah vila di tengah hutan. Aku pikir dia pergi ke tempat yang jauh, ternyata dia sedang ditahan selama dua tahun dan aku tidak tahu itu," kenang Naya yang tiba-tiba teringat kejadian beberapa tahun lalu. "Dia juga hanya meninggalkan sebuah surat untukku dan memintaku untuk tidak bertanya kepada siapapun kemana dia pergi."


"Aku juga. Kak Willy pernah ditahan selama tiga bulan. Dia tidak merahasiakannya, tapi dia tidak mau aku menemuinya di penjara. Jadi selama beberapa bulan, kami tidak bertemu." Elsa pun teringat masa-masa sulit ketika menjalani awal kehamilan tanpa suaminya.


"Kak Elma, kenapa laki-laki di keluarga kita memiliki karakter yang hampir sama. Itu kan egois namanya," protes Naya.


"Mungkin mereka tidak mau kita sedih kalau melihatnya dalam keadaan terpuruk. Hanna, sama seperti yang dialami Naya dan Elsa, Evan juga pasti akan kembali untukmu. Jadi jangan sedih, karena perpisahan ini hanya untuk sementara."

__ADS_1


Mendengar kisah masa lalu yang dialami kakak-kakak iparnya membuat Hanna mengusap air mata yang mengaliri wajahnya. Ia masih ingat pesan suaminya untuk tidak menangis dan menjadi ibu yang kuat untuk anak-anaknya.


"Di mana anak-anakku, Kak?" tanya Hanna setelah mampu membendung air matanya. Kini ia sudah lebih tenang.


"Mereka sedang bermain di taman belakang. Aku belum berani memberitahu tentang kepergian daddynya."


Hanna mengangguk pelan. "Aku yang akan jelaskan kepada mereka nanti."


Elma meletakkan menu sarapan ke atas meja. Sejak terbangun tadi, Hanna sama sekali belum mengisi perutnya.


"Baiklah. Sekarang ayo sarapan, Evan berpesan agar kau menjaga kandunganmu dengan baik."


Hanna melirik beberapa menu sarapan yang dibawa Elma untuknya. Ada potongan buah, sandwich dan jus.


"Terima kasih, Kak. Aku merasa sangat merepotkan kalian."


"Kau bicara apa, Hanna. Kita adalah saudara. Tidak ada yang direpotkan di sini." Ia memeluk adik iparnya itu.

__ADS_1


Sedangkan Hanna menyandarkan kepala di bahu wanita itu. Setidaknya ia harus merasa beruntung, karena Evan meninggalkannya di tengah sebuah keluarga yang hangat.


"Aku akan menunggu dengan sabar dan menghukumnya begitu dia kembali. Berani sekali dia meninggalkanku."


__ADS_2