
Kelopak mata Hanna mulai terbuka perlahan. Hal pertama yang hadir dalam pandangannya adalah suasana kamar yang sudah dihias seindah mungkin.
Bola matanya kembali berair menatap bunga-bunga yang bertabur di lantai. Seharusnya malam ini menjadi malam paling indah baginya. Namun justru menjadi hari yang sangat menyedihkan dengan hilangnya Sky dan Star.
“Kau sudah bangun?” Kakak iparnya masuk dengan membawa makanan. Hanna menatapnya penuh harap.
“Kak Naya, apa sudah ada kabar tentang anak-anakku? Apa mereka sudah menemukannya?”
Naya meletakkan nampan ke atas meja. Ia memeluk Hanna yang mulai menangis lagi. “Mereka masih mencarinya. Evan juga sudah lapor polisi. Semoga mereka segera ditemukan. Sekarang makanlah dulu.”
“Bagaimana aku bisa makan, Kak. Sementara aku tidak tahu di mana dan bagaimana anak-anakku.”
“Tenanglah, Hanna. Orang-orang KIA sudah bergerak. Mereka pasti menemukannya.”
Hanna menyibak selimut dan menurunkan kakinya ke lantai, namun Naya menghalangi. “Kau mau ke mana?”
“Aku mau pergi mencari mereka, Kak!”
“Jangan Hanna! Suamiku meminta kita semua tetap di rumah. Lagi pula keluar rumah di saat sekarang cukup berbahaya. Ancaman bisa datang kapan saja.”
“Tapi aku tidak bisa diam saja sementara anak-anakku dalam bahaya di luar sana. Tolong mengerti aku, Kak!”
Hanna beranjak pergi, namun baru tiga langkah tubuhnya sudah lunglai. Naya menahannya dan membantunya untuk duduk kembali. “Lihat kan, kau masih sangat lemah. Lebih baik kita di rumah menunggu kabar.”
__ADS_1
****
Sementara itu sedang dilakukan pemeriksaan di mana-mana. Kepolisian bekerja sama dengan pengawal KIA group mencari keberadaan Star dan Sky. Dalam hitungan jam berita tentang hilangnya sepasang anak kembar itu sudah tersebar di seluruh pelosok negeri.
Keluarga Azkara juga membuat pengumuman siapa pun yang dapat memberi informasi keberadaan anak-anak akan diberi imbalan yang besar.
Evan dan saudara-saudaranya saling berpencar mencari. Kini Evan sedang berada di bandara untuk melihat jalannya pemeriksaan. Kepolisian dan pengawal Kia memeriksa di berbagai sudut.
“Tuan ...” panggil Osman yang baru keluar dari sebuah ruangan.
“Kau ada informasi apa?”
“Ini data penumpang dari Turki ke Indonesia sejak sebulan terakhir.”
“Saya menemukan nama Cleo Verduci tercatat sebagai salah satu penumpang dari Istanbul tujuan Jakarta delapan hari lalu. Datanya ada di halaman sepuluh.”
Evan menatap Osman penuh tanya karena setahunya Cleo menggunakan nama belakang yang sama dengan Hanna. “Cleo Verduci?”
“Orang kita di Istanbul sudah menyelidikinya. Nama asli Cleo Cabrera adalah Cleo Verduci. Nama belakang dari ayah kandungnya.”
Evan meremas map yang diberikan Osman dengan amarah yang tertahan. Kini ia yakin Cleo lah yang menculik anak-anaknya.
“Sudah pasti dia yang menculik anak-anakku. Sekarang periksa data pengunjung semua hotel dan penginapan yang ada di kota ini. Jangan sampai ada yang lolos satu pun.”
__ADS_1
“Baik, Tuan.”
***
“Arrgh! Teriakan seorang wanita menggema setelah melihat tayangan di TV. Ia melempar gelas minuman di tangannya hingga pecahannya berhamburan.
“Bagaimana ini? Sekarang aku tidak bisa ke mana-mana! Mereka melakukan pemeriksaan di setiap sudut jalan.”
Cleo menjambak rambutnya sendiri, pandangannya lalu berpindah pada dua bocah kecil yang saling memeluk dengan ketakutan di sudut ruangan.
“Mommy ... Daddy ...” lirih Star dan Sky dengan suara gemetaran.
“Berhenti menangis atau aku akan mengurung kalian di kamar mandi!”
Namun ancaman itu tak membuat tangis itu terhenti, justru Star semakin kencang menangis.
****
Hai hai, sambil nunggu up baca karya temanku yaaa...
di bawah ini
__ADS_1