
****
Dengan tangan yang masih gemetar, Hanna meraih buku yang telah tergeletak di lantai itu. Ia menarik napas dalam. Mendongakkan kepala ke atas dan kembali mengusap air mata yang mengalir di kedua sisi pipinya.
Hanna menjatuhkan tubuhnya di kursi. Dalam keheningan, ia membuka lembar pertama buku berisi tulisan tangan suaminya itu.
Baru di lembar pertama, butiran air mata sudah kembali berjatuhan. Betapa tidak, nama Kanaya Indira Adiwinata terukir indah dengan tinta emas.
Hanna terdiam beberapa saat. Seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk membuka lembar berikutnya, yang kemungkinan besar akan menorehkan luka yang jauh lebih dalam lagi.
***
Hai Ibu ...
Apa kabar? Aku sangat merindukanmu. Apa Ibu juga begitu?
Ibu ...
Bolehkah aku menceritakan sesuatu?
Hari ini aku bertemu seorang gadis asing secara tidak sengaja.
Ini sangat aneh, Bu ... Aku tidak pernah merasa tertarik dengan gadis mana pun. Tapi dengannya sangat berbeda.
Aku merasa dia cantik seperti Ibu. Senyumnya juga lembut dan hangat. Aku suka melihat wajahnya saat sedang tersenyum.
Entahlah, aku tidak mengerti apa ini ... tapi dia berhasil menghipnotisku di hari pertama bertemu.
Oh, ya Bu. Aku berhasil memaksanya memberi nomor teleponnya dan kami pasti akan segera berteman.
Dia bilang namanya ... Kanaya ...
***
Hai Ibu ...
Ucapkan selamat padaku!
Akhirnya aku bisa sering dekat dengannya. Dia akan bekerja di kafe-ku. Aku jadi bisa sering melihatnya.
Bukankah itu sebuah keberuntungan?
__ADS_1
Apa Ibu tahu, tenyata dia gadis yang sangat mengagumkan.
Semangatnya menyala seperti matahari. Dia selalu tersenyum walaupun sedang lelah.
***
Ibu ...
Doakan aku ya.
Hari ini aku akan menyatakan perasaanku. Tadinya aku mau menyimpannya sendiri untukku. Aku merasa tidak layak untuknya.
Tapi ... Rafli benar, bagaimana aku bisa tahu perasaannya kalau tidak kuungkapkan.
Karena itulah hari ini aku akan menemuinya dan mengatakan apa yang kurasakan.
Ibu harus mendoakan ku, ya ...
***
Ibu ...
Haruskah aku bersedih?
Sangat patah hati.
Gadis itu ternyata sudah menikah dan kejutan paling buruknya adalah, dia ternyata menikah dengan Kakakku sendiri.
Kak Zian ... Bagai mana aku bisa menyukai seorang wanita yang sudah menikah. Aku benar-benar tidak tahu.
Aku bodoh sekali.
Ternyata sesakit ini menerima kenyataan bahwa orang yang dicintai adalah milik orang.
Aku harus bagaimana, Bu ...
Aku benci keadaan ini. Saat seluruh hati memuja. Tapi keadaan menuntut untuk melupakan.
****
Dear Kanaya ...
__ADS_1
Apa kau tahu ...
Aku di sini melihatmu seorang diri.
Hari ini ... setelah perjuangan hidup yang tidak mudah, akhirnya kau temukan kebahagiaanmu.
Aku ikut senang.
Kau seperti seorang putri dengan menggunakan gaun putih itu.
Aku tahu kau sedang sangat bahagia dan aku bisa merasakannya dari sini.
Walaupun hatiku sekarang sedang dipenuhi dengan rasa sakit, tapi setidaknya, aku senang akhirnya kau temukan kebahagiaanmu.
Terima kasih karena sudah pernah hadir dan mengisi hatiku.
Aku tidak akan pernah berhenti berdoa, semoga kau selalu bahagia ...
Naya, aku mencintaimu!
***
Dua jam dihabiskan Hanna untuk membaca buku catatan yang menyimpan rahasia itu. Isak tangis memenuhi seisi kamar. Hanna membuka lembar terakhir dan menemukan foto kakak iparnya di sana.
"Kak Naya ..."
Ia masih ingat pertama kali bertanya tentang cinta pertama suaminya kepada Elma. Namun, kakak iparnya itu enggan menjawab.
Dan beberapa waktu lalu, Hanna juga bertanya kepada suaminya. Namun, Evan pun mengalihkan pembicaraan ke arah lain dengan gelagapan.
"Kenapa mereka menutupi ini dariku?"
Ceklek!
Hanna buru-buru menyeka air matanya ketika mendengar suara pintu kamar terbuka dan detik itu juga ia sembunyikan buku catatan milik suaminya ke bawah bantal.
Evan muncul dari balik pintu dengan senyum merekah. Dengan tangan yang disembunyikan di belakang punggung.
"Hai sayang. Maaf, aku baru datang."
Mendadak senyum itu meredup ketika melihat wajah istrinya yang memucat. Melihat hidung Hanna yang memerah dan ujung mata yang tampak basah, ia meyakini jika istrinya itu habis menangis.
__ADS_1
"Ada apa? Kau habis menangis?"
****