Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Chapter 40


__ADS_3

Di rumah ....


Para pelayan tampak sibuk menyiapkan makan malam. Jika biasanya mereka hanya membuat dua hingga tiga menu saja, kini mereka menyediakan banyak menu istimewa untuk Nona dan Tuan mudanya.


"Elara, cincang dagingnya kecil-kecil. Tuan muda Sky tidak suka kalau potongan dagingnya besar," ucap kepala koki.


"Baik."


"Kau juga." Kepala koki menunjuk seorang pelayan lain. "Buat irisan daging ayamnya lebih tipis. Nona Star bisa tersedak."


"Baik."


"Setelah selesai buatlah puding sebagai makanan penutup."


"Baik."


Salah satu pelayan tampak menghela napas panjang. Sejak beberapa hari lalu mereka cukup bekerja keras. Mulai dari menyiapkan dua kamar anak-anak secara mendadak, hingga memasak lebih banyak dari biasanya.


"Elara, apa menurutmu Tuan akan menikahi Nona Hanna?" tanya seorang pelayan yang tengah duduk di kursi sambil mengiris daging.


"Sepertinya begitu. Ah, Nona Hanna beruntung sekali kalau sampai menikah dengan orang terkaya di Kota Amasya," balas pelayan lain sambil menggelengkan kepala, ekspresi antara kesal dan iri.


"Kau benar. Siapa yang tidak mau menikah dengan Tuan Azkara. Dia sangat kaya, pebisnis sukses, seorang dokter dan terutama sangat tampan. Selain itu dia berasal dari keluarga terpandang. Jika saja punya kesempatan, aku pun akan merayunya."

__ADS_1


Sambil mengobrol, mereka sesekali melirik kepala koki yang sibuk memanggang roti. Elara meletakkan jari telunjuk di depan hidung. "Pelankan suaramu. Meryem tidak suka para pelayan bergosip."


"Ngomong-ngomong, menurutmu bagaimana Nona Hanna bisa punya anak dari tuan?"


"Tidak usah heran, aku pernah dengar pembicaraan Tuan Osman dengan seseorang, katanya Nona Hanna itu dulu bekerja di sebuah klub malam. Sudah pasti dia merayu tuan sampai punya anak darinya."


Dua pelayan lain tampak sangat terkejut mendengarnya. "Ya ampun, dia bekerja di klub malam?"


"Pelankan suaramu!" pekik Elara memperingatkan mereka, melirik kepala koki dengan ekor matanya.


"Kalau aku punya kesempatan seperti Nona Hanna, aku juga akan merayunya. Entah dengan cara apa Nona Hanna melakukannya."


Mereka tertawa kecil.


"Sekarang Nona Hanna akan menggunakan anak-anaknya untuk menjerat tuan agar menikahinya."


"Sepertinya begitu. Aku lihat, tuan sangat menyayangi anak-anak itu. Aku bahkan tidak yakin bahwa kedua anak kembar itu benar-benar anaknya."


Tak tahan mendengar pembicaraan itu, ia melangkah masuk, membuat pembicaraan itu seketika terhenti, hingga hanya terdengar suara peralatan memasak yang saling beradu.


Hanna berjalan menuju lemari pendingin melewati beberapa pelayan. Mengeluarkan sebotol air mineral dingin, lalu menutup pintu kulkas dengan membantingnya kasar, lalu setelahnya berjalan keluar.


"Untung pintu kulkasnya kuat," bisik Mahide.

__ADS_1


Brak! Hanna menutup pintu dapur dengan membanting keras, hingga membuat para pelayan itu terlonjak.


"Lihatlah! Betapa tidak sopannya wanita ," balas Elara.


*


*


*


Setelah mendengar pembicaraan para pelayan di rumah, Hanna langsung masuk ke kamar Star meninggalkan Evan dan kedua anaknya.


Pandangannya berkeliling ke setiap sudut kamar itu. Sejak menginjakkan kaki di rumah besar itu, ia memilih tidur di kamar putrinya, bukan di kamar yang telah disediakan para pelayan untuknya.


Hanna juga menolak semua fasilitas yang diberikan Evan--termasuk kartu, mobil, dan pakaian bagus yang sudah disediakan untuknya dan memilih pakaian lamanya yang usang. Ia tak ingin dinilai memanfaatkan situasi.


"Aku harus apa sekarang? Bukankah aku seperti benalu di sini? Tidak tahu malu sekali rasanya berada di rumah orang kaya itu."


Hanna termenung seorang diri. Jika bukan demi Star dan Sky, ia tidak akan mau menginjakkan kaki di rumah itu. Hanya karena anak-anaknya lah ia menurunkan ego, agar Star dan Sky mendapatkan kehidupan yang lebih layak, tidak kelaparan, tidak kedinginan di malam hari, dan tidak lagi mendapat hinaan dari orang-orang. Selain itu, Star dapat melanjutkan pengobatan agar dapat berjalan normal lagi layaknya anak lain.


"Semua orang akan berpikir aku seperti itu. Aku menjebak dan merayunya."


Hanna menangis dalam hati. Dadanya terasa dihimpit bongkahan batu besar hingga membuatnya kesulitan bernapas.

__ADS_1


****


__ADS_2