Me And The Rich Man

Me And The Rich Man
Chapter 53


__ADS_3

Evan membolak-balikkan tubuhnya di atas ranjang. Ia belum  dapat memejamkan mata sejak satu jam lalu. Hampir satu bulan tidak dapat bertemu dengan Hanna dan anak-anaknya karena Zian dan Fahri menyembunyikannya di sebuah tempat yang tidak diketahui.


“Ah, sial! Di mana mereka menyembunyikan Hanna?” gerutunya sembari menyangga kepala dengan lengan dan menatap langit-langit kamar. 


Suara pintu diketuk membuat lamunan Evan membuyar. Osman muncul dari balik pintu setelah mendapat sahutan dari Tuannya. Evan pun langsung bangun dan duduk di sofa. Berharap Osman membawa kabar baik. 


“Bagaimana? Kau bawa kabar buruk apa?” 


“Saya tidak temukan Nona Hanna, Tuan,” jawab Osman. 


Dengusan kesal berhembus. Rasanya Evan akan gila terpisah lagi dari wanita yang sangat ia rindukan itu. Baru saja bertemu dan saling menyatakan perasaan, namun keluarganya seolah sepakat untuk menyembunyikan wanita itu.


Bahkan keponakan-keponakannya ikut bekerja sama dan enggan memberitahu jika Evan bertanya. Seolah ini adalah bentuk hukuman yang mereka berikan. 


“Kau memang tidak berguna! Apa saja yang kau dan anak buahmu kerjakan!? Menemukan hal kecil saja tidak bisa.” 


Osman menggerutu dalam hati. 


Kalau hanya hal kecil bagi Anda, coba saja cari sendiri. Begitu batin Osman berbicara. 


“Sepertinya mereka menyembunyikan Nona Hanna dan anak-anak di tempat yang sangat aman, Tuan. Siapa yang dapat menebak rencana Tuan Zian?” 


“Tidak usah sebut nama itu! Terlalu menyebalkan.” 


Osman tersenyum getir, membuat Evan menghadiahinya lemparan bantal.


“Semua ini karena mulut bocormu! Seandainya kau tidak sembarangan membocorkan rahasia, semua ini tidak akan terjadi.” 


“Ehm ... Tapi, Tuan ... Anda kan tahu bagaimana kakak Anda. Belum lagi si Botak, orang kepercayaannya itu sangat setia dengan tuannya.” 

__ADS_1


“Tidak seperti kau, dasar pengkhianat!” 


Osman merasa tersindir. Ia mengusap punggung lehernya. 


Seandainya saya tidak melihat sinyal bahaya, saya pun tidak akan sampai melapor, Tuan. Kakak-kakak Anda akan mencekik saya sampai mati kalau Nona Kecil sampai punya adik lagi.


“Baiklah, kalau begitu aku punya tugas untukmu. Anggap saja itu untuk menebus pengkhianatanmu.” 


“Siap Tuan,” balas Osman dengan mantap. “Ada tugas apa?” 


“Bawa ke hadapanku si Botak menyebalkan itu, meskipun kau harus menculiknya.” 


Tubuh Osman tersentak mendengar perintah tuannya. Baru memikirkan saja sudah membuatnya merinding. Lalu bagaimana ia punya keberanian membawa paksa seorang pria yang konon kabarnya seorang mantan mafia berbahaya itu. 


“Kalau kita melakukannya, bukan dia yang akan diculik. Tapi kita lah yang akan dia culik lebih dulu.” 


“Itu urusanmu. Aku tidak mau tahu.” 


***


Evan hampir terlonjak ketika membuka pintu dan menemukan Osman di sana.


"Ada apa? Kau bawa kabar buruk apa lagi?"


"Kali ini kabar baik, Tuan. Saya sudah membawa dia ke mari."


Kelopak mata Evan melebar. Rasa tak percaya mendengar ucapan asistennya itu.


"Kau berhasil? Lalu di mana dia?"

__ADS_1


"Di bawah."


Mereka pun menuju sebuah ruangan di mana Osman menyekap seorang pria. Ia memerintahkan beberapa anak buahnya menculik seseorang sesuai perintah tuannya. Dan sekarang, mereka benar-benar membawanya dari Istanbul ke Amasya.


Tampak pria itu duduk di kursi dengan tangan dan kaki terikat. Tatapannya sangat dingin.


"Osman, kenapa kau mengikatnya?" tanya Evan mendekati kursi yang diduduki pria itu.


"Bukan saya, Tuan. Dia sendiri yang mengikat tangan dan kakinya."


"Benarkah? Apa anak buahmu membiusnya saat membawanya ke mari?"


"Tidak juga."


"Lalu?"


"Dia yang membius dirinya sendiri," ucap Osman tanpa rasa berdosa.


Evan mengangguk mengerti sambil mengusap dagunya. "Berarti bukan kita yang menculiknya kan?"


"Tentu saja tidak!"


Di sana, Pria itu sudah mendengus mendengar pembicaraan dua orang yang berdiri tepat di hadapannya.


"Heh, Botak! Kau dengar Osman bilang apa kan, jadi jangan membuat laporan sembarangan pada Kak Zian. kami tidak menculikmu. Kalau memang kau sangat sibuk, kenapa tidak katakan pada Osman. Malah ikut dengan sukarela," ujar Evan menirukan gaya bicara Zian.


Botak terdiam. Ia merasa akan gila dengan tingkah tuan dan asistennya itu.


Osman menggelar sebuah kertas besar di hadapan Botak, namun pria itu tak menunjukkan reaksi apapun.

__ADS_1


"Ini adalah peta Negara Turki," ujar Evan menunjuk benda itu dengan tongkat kecil. "Sekarang tunjuk satu daerah di mana Kak Zian dan Kak Fahri membawa Hanna!"


*****


__ADS_2