Me And You

Me And You
Masih Kangen


__ADS_3

"Ada apa Bang?" tanya Eri begitu melihat Ilham datang bersama Iqbal, ponakannya yang gendut.


"Abang ada proposal kerja sama. Pelajari ya," kata Ilham sambil menyodorkan sebuah flashdisk yang langsung diterima Eri.


"Oke Bang. By the way, lukisan abang sekeluarga udah jadi," kata Eri sambil menunjuk sebuah kotak persegi panjang ukuran cukup besar yang terbungkus rapi di sofanya.


Tangan Eri pun mengambil Iqbal dalam pelukan Ilham.


"Thank's," ucap Ilham dengan mengangkat sedikit sudut bibirnya ke atas.


"Kamu tambah gendut aja. Kayak Mel dulu," katanya sambil mencium pipi tembam Iqbal yang langsung manyun.


"Udah Om," larangnya dengan suara yang cukup jelas khas anak kecil membuat Ilham dan Eri tersenyum geli.


Iqbal memang spesial, dia sudah ngga cadel begitu usianya dua tahun. Bicaranya pun sudah cukup jelas. Dan ini adalah duplikat Ilham. Jarang bicara panjang panjang. Beda sama Melia yang sangat cerewet, kloningnya Luvi seratus persen.


"Jangan lupa datang besok," kata Ilham sambil melirik pada bunga Aster yang ada di meja kerja Eri.


Bunga itu sudah berada dalam vas kaca bening yang berisi air separuhnya.


Dari sekian banyak bunga yang di dapatnya selama pameran, hanya bunga aster itu saja yang di simpan Eri di kantornya.


Andai saja pemilik bunga itu tau, Ilham tersenyum miring.


Atau apalagi kalo istrinya yang selalu kepo ini tau, pasti akan pecah lagi kesenangannya mengganggu Eri, sepupu tengilnya itu sampai titik darah penghabisan.


Ilham memalingkan wajahnya ke arah lain untuk menyembunyikan ekspresi gelinya dari Eri.


Ternyata kamu ngga bodoh bodoh juga.


"Kamu mau kado apa dari Om?" tanya Eri sambil menatap Iqbal dengan sayang.


"Lego pesawat ruang angkasa," serunya senang membuat pipi tembamnya sampai kemerahan.


Eri menatapnya gemas kemudian mencubit puncak hidung ponakannya yang kali ini ngga marah.


Ilham dan Eri tertawa melihat kelakuan Iqbal yang hanya tertawa tawa sambil membiarkan tangan Eri mengganggu wajahnya.


"Bunga Aster dari secret admirer?" tanya Ilham dengan mata menyorot lekat pada Eri yang terlihat salah tingkah.


Eri hanya menyeringai untuk menutupi kegugupannya.


"Abang jadi ingat rumah Angel. Ada kebun aster putih ya," ganggu Ilham lagi dan tertawa dalam.hati melihat Eri yang pura pura sibuk dengan Ilham.


Tumben Bang Ilham banyak omong, batin Eri heran. Eri berusaha ngga mengacuhkan Ilham.

__ADS_1


"Kamu sudah bertemu Angel?" tanya Ilham lagi ke topik utama.


Gotcha.


Pantas Luvi senang mengganggu Eri. Pasti Luvi akan senang melihat perubahan wajah Eri sekarang.


Ilham kembali menarik sedikit sudut bibirnya melihat wajah Eri yang berubah sangat masam.


Benar benar ngga bisa disembunyikan lagi rasa patah hatinya. Ilham mentertawai sepupu Luvi dalam hatinya.


"Apa besok dia akan datang?" tanya Eri antara kesal dan ingin tau.


"Abang ngga tau. Abang juga belum pernah ketemu," jawab Ilham jujur.


Memang benar, yang sudah bertemu dengan Angel, cuma Luvi.


Eri menghela nafas kasar. Dia percaya pada yang dikatakan Ilham.


"Apa dia sudah kembali dari Paris?" gumam Eri perlahan, tapi masih bisa ditangkap pendengaran Ilham yang suoer tajam.


"Mungkin."


"Eh," Eri kaget, ternyata Ilham mendengar gumamannya.


Ilham tersenyum tipis.


"Ngga ada yang perlu dibicarakan," balas Eri cepat. Hatinya masih sakit dengan penolakan Angel. Sampai sekarang.


Walaupum di depan semua orang Eri berusaha tetap cuek, seakan akan penolakan itu ngga berarti apa apa untuknya.


Ilham menatap Eri mengerti. Ngga mau membahas lagi.


"Bang Ilham pulang dulu, ya," katanya smabil mengambil si gendut Iqbal dari pelukan Eri.


"Janji ya, Om," ucap Iqbal dengan nada suara lucunya.


"Ya bos," sahut Eri sambil mengacungkan kedua jempol tangannya.


Iqbal pun melambaikan tangannya dengan manja pada Eri sampai papinya menutup pintu ruangan Eri.


Damn it, rutuk Eri kesal ketika memandang bunga Aster yang memang sengaja dia taroh di meja kerjanya.


Bahkan di kamar tidurnya juga ada. Begitu juga lukisan setangkai bunga Aster putihnya.


Eri menggusar rambutnya, kesal. Kenapa dia masih saja menyukai hal hal yang berhubungan dengan Angel.

__ADS_1


Ingatan bunga Aster ini membuatnya tiba tiba tersenyum getir. Waktu kecil Eri sengaja memetik beberapa bunga Aster di depan Angel yang masih gendut. His fatty girl.


Tentu aja Eri akan mendapatkan lemparan sendal atau sepatu Angel yang selalu akan marah.


Kepala dan punggungnya sering banget kena sasaran lemparan itu. Tapi Eri ngga pernah kapok. Dia selalu senang mengganggu Angel. Tapi itu dulu banget.


Eri membuang nafasnya kasar.


Mungkin ngga ya, Angel akan datang? batinnya setengah berharap.


Eri menatap kembali bunga Asternya.


Hatinya benar benar bodoh. Masih saja suka sama mantan cewe gendut yang sudah menolaknya.


*****


Eri tersenyum karena berhasil mendapatkan lego pesawat yang limited edision.


Sekarang Eri akan mencari hadiah boneka beruang buat Melia, kakak Iqbal. Bisa merajuk gadis kecil itu kalo ngga menerima kado darinya. Eri jadi tersenyum sendiri.


Tapi saat melewati rak boneka, darahnya seakan tersedot semua ke otaknya. Sepasang matanya ngga bisa teralihkan.


Angel, bisiknya dalam hati.


Lima tahun dia ngga pernah bertemu dengan Angel secara langsung.


Sekarang gadis itu berdiri ngga jauh dari tempatnya berada.


Angel sedang memilih boneka beruang. Bisa dipastikan untuk Melia. Eri bisa melihat sebelah tangan Angel memegang kotak lego juga seperti yang dibelinya.


Eri ngga pernah bisa melepaskan tatapannya dari Angel.


Gadis itu semakin cantik. Rambut panjangnya semakin berkilau. Pantasan rambutnya ngga pernah absen dikontrak iklan shampo.


Kening Eri berkerut melihat tubuh Angel yang semakin ramping.


Kenapa dia kurus begitu ya. Masih diet juga? Dasar, ngga menikmati hidup, cibir Eri dalam hati.


Tapi dia semakin cantik.


Bibir Eri menyunggingkan senyum miringnya.


Eri cepat menyembunyikan tubuhnya ketika Angel menolehkan kepala ke arahnya. Tapi ngga lama kemudian, Angel melangkahkan kakinya pergi setelah menentukan pilihan boneka beruangnya.


Eri menatap kepergian Angel sampai sosok itu menjauh dan ngga terlihat lagi dengan sorot hampa.

__ADS_1


Gue gila ya. Masih aja gue kangen sama Lo, Angel. Padahal Lo udah campakkan gue.


__ADS_2