
"Gimana keadaan Mia?" tanya Eri dengan nafas memburu. Setelah mendapat kabar dari Angel, Eri langsung mendedikasikan rapatnya pada asistennya. Di belakangnya menyusul Irfan dan Fino.
"Masih di dalam," jawab Angel resah, ngga tenang.
"Lho Ton, ngapain lo di luar?" Kening Irfan mengernyit ketika melihat Toni mondar mandir di depan pintu ruang bersalin.
"Si cemburuan itu ngga ngijinin gue masuk," kesal Toni ngga tenang. Walaupun dia tau di dalam sudah ada beberapa dokter kandungan yang pengalaman, tapi perasaannya tetap ngga tenang jika nhga melihat langsung.
Fino nyengir, walaupun perasaan cemas menyelimuti hatinya tapi kata kata kesal Toni membuat hatinya tergelitik geli.
"Dia itu selalu memprioritaskan perasaan cemburunya di atas segala galanya," semprot Ando yang baru datang sambil melonggarkan ikatan dasinya
"Sudah, sekarang kita do'akan agar proses kelahiran Mia lancar," kata Aldi mencoba menyabarkan teman temannya. Dia juga baru tiba, kebetulan lokasi meeting dengan kliennya ngga jauh dari runah sakit.
"Iya, yang penting kita do'akan keselamatan Mia dan anaknya saat ini. Dia butuh banyak do'a," tegas Angel ikut menengahi.
"Kamu ngga apa apa sayang?" Eri menrangkul.bahu istrinya dan menatapnya khawatir. Angel terlihat berkeringat.
"Aku ngga apa apa," balas Angel dengan mata masih cemas memandang pintu kamar bersalin.
"Kamu tadi ngga lari lari, kan?" tuduh Eri membuat Angel terdiam.
Dia lupa kalo saat ini sedang hamil muda.
Melihat Angel yang diam membuat Eri membuang nafas kesal.
"Kamu, kan, juga lagi hamil, sayang," omel Eri sewot campur khawatir.
"Maaf," bisik.Angel.merasa bersalah.
"Kita periksa keadaan Eri junior," tegas Eri ngga mau dibantah Angel.
"Eri junior?" Aldi membelalakkan matanya ngga percaya.
"Angel, Lo hamil?" seru Ando membuat perhatian mereka beralih pada Angel.
"Padahal tadi kita ke sini berlarian," seru Rosa sambil menutup mulutnya.
"Lo harus bawa Angel periksa, Er," sambung Rosa memerintah.
"Ya udah. Gue yang periksa," sambar Toni cepat.
"No!" teriak Eri dan Angel berbarengan membuat Toni mencibir..Sedang yang lain hanya terkekeh pelan.
"Gue mau cari dokter kandungan yang perempuan," sergah Eri galak.
"Ya, sono," usir Toni.
"Maaf ya, Toni," ucap Angel agak ngga enak.
"Ngga pa pa, Angel. Temuin dokter Fitri aja. Dia masih standby di ruangannya," sahut Toni mengerti.
"Makasih," sahut Eri sambil membawa Angel pergi.
"Semoga anaknya mirip segala galanya dengan Angel," dengus Toni pelan membuat mereka terkekeh.
"Akhirnya anak itu berhasil juga," sela Aldi.
"Anak anak kita bisa barengan gedenya," lanjut Irfan.
"Mungkin nanti mereka bisa berteman," tambah Aldi.
"Atau kalian malah jadi besan," timbrung Ando membuat tawa mereka kembali berderai derai
Rosa ikut tertawa, dia merasa lega, suasana tegang mulai mencair.
__ADS_1
"Ando, gimana keadaan Mia?" tanya mami Ando yang baru saja tiba bersama mama Vandra.
"Masih di dalam, ma," jawab Ando sambil menyalim mamanya dan mami Vandra. Begitu juga Aldi, Toni, Fino dan Rosa.
"Kalian sudah kumpul di sini?" tanya Sonya-mami Vandra sambil mengusap rambut Rosa.
"Tadi tante lihat Eri sama.Angel," lanjut mami Vandra lagi
"Iya, tante. Eri mau periksa kehamilan Angel. Tadi Angel dan Rosa lari lari ke sini," jelas Ando.
"Angel hamil? Alhamdulillah," seru mami Vandra bahagia. Sedangkan mama Ando yang ngga begitu mengenal Angel ikut tersenyum senang tanpa berkomentar.
"Iya tante, belum sebulan," sambung Toni membantu menjelaskan.
"Hamil muda," baru kali ini mama Ando memberi tanggapan.
"Sebenarnya masih dirahasiakan tante. Tapi Eri keceplosan," kekeh Toni membuat mereka ada yang tertawa dan ada yang tersenyum lebar. Sudah paham akan sifat Eri.
"Jadi orang tua mereka belum tau?" tebak mami Vandra sambil menggelangkan kepalanya yang diangguki Toni dan teman temannya.
"Tante Reta dan Om Jupiter kapan datang ya ma?" tanya Ando setelah derai tawa usai.
"Mereka dalam perjalanan ke sini. Pesawatnya baru saja mendarat," jelas mama Ando.
"Vandra kuat ngga ya di dalam," lirih mami Vandra khawatir.
"Semoga Sonya," jawab mama Ando berusaha menenangkan sahabatnya.
"Itu papa dan Om, ma," tukas Ando ketika melihat dua laki laki separuh baya yang berjalan tergesa gesa menghampiri mereka.
"Gimana Mia?" tanya papi Vandra cemas dengan nafas memburu. Begitu juga papa Ando yang menghampiri istrinya dengan tatapan ngga kalah cemasnya.
"Masih di dalam," jelas mami Vandra sambil memggenggam tangan suaminya. Beliau pun merasakan perasaan cemas yang luar biasa.
"Sakit Van," rintih Mia berusaha kuat.
"Iya sayang. Dokter, apa sebaiknya operasi saja?" tanya Vandra yang ngga tega melihat penderitaan Mia.
"Sebentar lagi adek bayinya mau lahir pak. Pembukaan sudah sempurna. Ayo bu, tarik nafas pelan pelan, hembuskan," ucap sang dokter yang menangani Mia selama hamil.
Mia pun hanya bisa pasrah dan mengikuti saran dokter, karena dia merasa Alano akan segera lahir.
"Sabar ya sayang. Tinggal dikit lagi," bujuk Vandra sangat lembut dengan perasaan ngga tega. Mia hanya mengangguk sambil menggigit bibirnya.
Setengah jam kemudian, bayi merah yabg tampan pun lahir ke dunia bersamaan dengan jerit ngga tertahankan Mia.
Vandra mengecup kening Mia yang berkeringat sangat lama dan lembut.
"Terima kasih sayang. Terima kasih," katanya berulang ulang penuh haru. Dia mengingat mamanya yang melahirkannya, abangnya dan kakak kembarnya. Betapa kuatnya mamanya.
Satu aja cukup buat Vandra. Dia ngga sanggup melihat penderitaan Mia. Alano mereka ngga akan kesepian. Dia sudah memiliki banyak sepupu. Belum lagi anak teman2 dekatnya.
Begitu Vandra dan suster yang menggendong bayinya keluar, mami dan papinya bersama orang tua Ando langsung mendekat dengan air mata bahagia.
"Alano sudah lahir, mi," kata Vandra sambil memeluk maminya erat. Rasanya Vandra ingin bersujud pada wanita kuat yang sudah berkorban nyawa melahirkannya bersama ketiga saudaranya.
"Iya sayang. iya," sambut maminya penuh haru.
"Bayinya sangat tampan," puji mama Anso dan diangguki papa Ando dengan wajah berseri.
"Tante ke dalam ya, Van, lihat Mia," ucap mama Ando dan diangguki Vandra.
"Iya, tante."
Bersama suaminya keduanya memasuki ruang bersalin dan melihat keadaan Mia.
__ADS_1
"Selamat bro," ucap teman teman dekatnya bersahut sahutan sambil memeluk Vandra. Suasana berubah menjadi sangat ceria.
"Vandra, ini cucu mama?" tanya Reta-mama Mia yang baru saja tiba bersama suaminya.
"Iya, ma, pa. Ini Alano," balas Vandra bangga sambil menunjukkan putranya.
Mama Mia meneteskan air mata, begitu dengan papanya.
"Tampan sekali," puji papa Mia penuh haru.
"Iya, sangat tampan, Jupiter," balas memuji papi Vandra. Kemudian keduanya bersalaman dan dilanjut berpelukan.
"Terimakasih Dewa, selalu menjaga putriku," kata papa Mia sangat terharu.
Papi Vandra hanya mengangguk sambil tertawa kecil. Kemudian Papa Mia memeluk Vandra.
"Terima kasih, Vandra. Terima kasih," ucap papa Mia berulang ulang. Mengingat Vandra yang selalu memjadi tameng hidup buat Mia.
"Iya pa," sambut Vandra dengan dada berdebar senang. Akhirnya mertuanya bisa kembali tepat waktu. Selama ini selain mengurus pekerjaan di luar negeri, papa Jupiter sekalian berobat, membersihkan darahnya dari kandungan obat bius yang disuntikkan ke tubuhnya dulu.
Kemudian pintu ruang bersalin pun terbuka, dan brankar Mia keluar bersama.orang tia Ando. Mia akan dipindahkan ke ruangannya.
"Sayang, kamu ibu yang hebat," sambut mama Mia dengan air mata yang bercucuran sambil menggenggam tangan putri kesayangannya.
"Mama, papa," panggil Mia juga dengan air mata yang berlelehan di kedua pipinya.
"Sayang, kamu putri papa dan mama yang hebat. Ibu terbaik buat Alano," puji papa Mia juga menggenggam tangan putri tunggalnya yang sempat hidup menderita dulu. Sekarang tidak ada lagi yang boleh menyakitinya keluarganya, tekat papa Mia dalam hati.
Beliau merasa sangat beruntung karena memiliki menantu Vandra yang ternyata putra rekan bisnisnya. Bahagia melihat keluarga Vandra memperlakukan Mia dengan sangat baik. Bahkan keluarga kedua abangnya yang selalu membela keluarganya hingga mendepat cukup kesulitan dari almarhum mamanya. Papa Mia ngga henti hentinya bersyukur. Apalagi istrinya pun sudah kembali padanya. Benar benar kebahagiaan yang ngga ternilai harganya.
Mami Vandra mendekatkan putranya pada Mia.
"Dia sangat tampan," puji mami Vandra sangat lembut
"Iya mi," sahut Mia dengan mata penuh binar pada putranya yang berhasil dia lahirkan. Segala rasa sakit hilang sudah begitu melihat sang putra.
"Kamu tampan seperti dady sayang," bisik Mia lembut di telinga putranya membuat Vandra tersenyum.
"Sudah di azankan, sayang?" tanya mama Vandra mengingatkan.
"Sudah ma, tadi di dalam," sahut Vandra cepat. Begitu bayi itu dibersihkan dan diberikan padanya, lantunan azan sudah dibisikkan di telinga putranya. Mia yang melihat itu tersenyum dengan air mata yang mengalir pelan.
*****
"Dokter, anak kami ngga apa apa, kan?" tanya Eri sangat khawatir membuat Angel mengulum senyum.
Diluar dugaannya, Eri ternyata sangat perhatian pada calon putra mereka yang berada dalam kandungannya.
Dokter wanita yang berumur sekitar empat puluhan itu pun tersenyum maklum akan kecemasan calon ayah muda di depannya.
"Tenang pa. Bayinya sehat. Ibu Angel beruntung karena kehamilannya sangat sehat."
Eri lega mendengarnya.
"Syukurlah," ucanya dengan wajah ceria.
"Ingat Angel, kamu lagi hamil. Kamu harus pelan pelan kalo jalannya ya," kata Eri memperingatkan sambil mengacak gemas rambut depan Angel.
"Iya, maaf," ucap Angel merasa bersalah.
"Ayo, sekarang kita lihat Vandra dan Mia. Sepertinya anak mereka sudah lahir," kata Eri sambi berdiri.
"Terima kasih dokter," pamit Eri sebelum melangkah pergi bersama Angel.
Sang dokter pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1