Me And You

Me And You
Irfan Yang Menikah


__ADS_3

Pesta pernikahan Irfan dan Sandrina berlangsung meriah. Walaupun di penuhi banyak gosip dan drama, akhirnya kedua keluarga bisa tersenyum senang.


"Menikah juga dia," kekeh Eri bersama teman temannya. Bahkan Vero dan Ando juga ada. Mereka berkumpul bersama pasangan mereka. Kecuali Igo dan Doni.


Kalo Igo memang belum punya perempuan yang serius di dekatnya. Sedangkan Doni belum berani membawa Mikaela. Cewe itu masih terlalu kecil. Lagi pula sejak kejadian bom dulu, Doni mengurangi intensitas kedekatan mereka, cenderung menghindarinya.


Apalagi sebagai kepala sekolah, Doni ngga mau ada rumor buruk tentangnya. Lagi pula banyak wanita dewasa yang cantik dan seksi yang selalu disampingnya. Sekarang Doni meneruskan jejak Irfan yang sudah berhenti bersama Toni dan Igo.


"Dia ngga kelihatan kepaksa, kan?" canda Fino.


"Wajahnya terlihat bahagia," bantah Toni kemudian terkekeh.


"Incarannya sejak pameran Lo, Er, si Sandrina tuh," komen Toni membuat mereka makin tergelak. Sementara pasangan mereka hanya mengulum senyum saja.


"Masa?" kaget Eri benar benar ngga nyangka kalo Irfan beneran serius.


"Kalo aja ngga hamil, Irfan mungkin langsung kabur," cela Igo.


"Sempat heboh di twitter juga. Irfan parah," tambah Vero sambil menggelengkan kepalanya kemudian tertawa. Dia datang bersama rekan bisnis wanitanya.


"Sandrina kelihatan malu. Tapi Irfan cuek aja. Tingkat pedenya mirip seseorang," sindir Toni sambil melirik Eri yang sama sekali ngga merasa tersinggung.


Yang lainnya hanya tertawa.


Ngga mempan, batin Vandra geli.


"Ngga lama lagi sodara ketemu gede gue nikah," cetus Eri sambil memegang gelas minuman no alkoholnya.


Aldi hanya tersenyum miring.


"Aurel, kamu beneran ngga lagi hamil, kan?" sambung Eri masih belum percaya kalo Aurelia akan dinikahi Aldi.


Aldi menatap Eri kesal.


Selalu aja bertanya ngga tau waktu dan tempat, dengusnya kesal dalam hati.


"Ngga, Bang," tepis Aurelia dengan wajah malu. Seakan dia berada dalam ruang sidang, dan harus menjawab pertanyaan dari jaksa penuntut.


"Eri, sopanlah" cela Doni sambil menggelengkan kepalanya. Padahal udah nikah tetap aja ngga tau situasi.


Kasihan Angel menikahi bocil, hina Doni membatin.


"Gue kan cuma nanya," sergah Eri tanpa rasa bersalahnya.


"Kalo hamil, pasti Aldi udah digantung bang Ilhamlah," kata Toni memanasi.


"Siapa tau Bang Ilham malah bersyukur, adiknya akhirnya menyusul gue nikah," kekeh Eri mengejek Aldi yang hanya melengos dan meneguk minuman di gelasnya.


Obrolan ngga ada manfaatnya, batinnya sambil melirik Aurelia yang menunduk.


"Bang Eri ngga mau kamu kena rayuan recehnya Aldi, Aurel. Nyari yang lebih baik, kan, banyak. Tapi kamu kok, mau aja dinikahin dia tanpa hamil," jelas Eri dengan nada songongnya.


"Lo itu yang beruntung dipilih Angel jadi suaminya," sarkas Toni membela Aldi membuat Eri menjebikkan bibirnya.


Aldi ingin sekali menoyor kepalanya yang kali ini ngga ada isjnya. Tapi karena ada Angel, Aldi segan melakukannya. Dia hanya bisa menggeram dalam hati melihat Aurelia semakin menundukkan kepalanya. Tapi dia menatap Toni dengan tatapan penih terimakasih karena sudah membelanya.

__ADS_1


"Lebih baik kita misah meja aja, ya," putus Angel sambil memberikan lirikan tajamnya pada Eri.


"Lho, kamu marah? Jangan pindah, tetap di sini aja," tahan Eri bingung melihat kekesalan yang dipancarkan mata Angel untuknya.


"Meja di sana kosong," kata Mia sambil menunjukkan meja yang kosong, ngga jauh juga dari tenpat mereka berada.


"Boleh juga. Kita ke sana," kata Rosa setuju. Lagian para lelaki ini kalo sudah ngumpul pasti akan ngomong sembarangan. Dari tadi Rosa ingin menyela dan mengajak para perempuan menyingkir dari meja para lelaki yang bikin kesal.


"Vandra, aku pindah ya," pamit Mia sebelum mengikuti yang lainnya pergi.


"Oke," kata Vandra mengerti.


"Angel," panggil Eri ngga terima ditinggal pergi tanpa pamit. Tapi Angel hanya melembaikan tangannya di balik punggungnya sambil menggandeng Aurelia.


"Sudah, itu juga gara gara kamu," kesal Toni sambil mendelikkan matanya pada Eri


"Gue kan cuma nanya," kata Eri tetap ngga merasa salah.


"Pertanyaan Lo ngga lihat tempat. Harusnya itu privat," dengus Aldi. Hampir saja dia menambahkan kata bego di akhir kalimatnya.


"Maksud Lo privat itu berdua aja. Lo ngga cemburu?" tanggap Eri dengan pola pikir beda chanel.


Aldi dan teman teman meeeka hanya saling pandang, begitu jauh perbedaan frekuensi pikiran mereka dengan Eri. Tapi kenapa bisa mereka dekat selama bertahun tahun.


"Gue ngga mau Angel juga cemburu. Gue lebih suka kita membahasnya bersama sama," kata Eri tetap merasa benar dengan isi pikirammya.


"Terserah Lo," sergah Toni auto pusing kalo tiap berdebat ngga satu frekuensi dengan Eri.


"Ngapain Lo yang jawab. Gue ngga ada urusannya sama Lo," pungkas Eri kesal. Kini dia menatap Angel sebal, yang sepertinya sudah nyaman jauh darinya.


"Iya, kita bisa bahas soal pemotor yang hampir menabrak Angel dan Sandrina saja," kata Ando mengalihkan topik.


"Ada kabar baru lagi?" tanya Aldi mulai tertarik. Sejak Eri menceritakan hal aneh itu, dia pun bersama yang lain berusaha menelusuri, apakah masih berhubungan dengan Bobby yang belum ketangkap atau engga


"Cuma ada tiga cctv di situ. Tapi sudut pengambilannya ngga pas," kata Eri yang baru teringat akan penyelidikannya.


Wajah yang tertutup helm fullface dan plat motornya palsu, menyulitkan untuk mencari pemotor ugal ugalan itu.


"Setelah itu ngga ada kejadian aneh lagi, kan?" tanya Vandra memastikan.


Mereka sama menggelengkan kepala.


"Mungkin kita terlalu cemas. Mungkin itu cuma orang mabok aja," sahut Igo.


"Tapi plat motornya palsu," kata Aldi ragu.


Mereka kembali terdiam.


"Kok, Bobby belum ketangkap, ya," tukas Doni gemas.


"Dia seperti belut," tambah Fino.


"Bang Valen ngga cerita apa pun, Van?" tanya Aldi sambil menatap Vandra.


Vandra menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Bang Valen baru aja sembuh. Bang Ferdi sepertinya belum mau melibatkannya lagi," jelas Vandra. Sekarang abang durjananya sudah bisa menggerakkan bahunya tanpa merasa sakit lagi.


"Bang Ilham juga ngga cerita?" tanya Vandra melanjutkan omongamnya dan balik menatap Aldi.


"Ngga sama sekali."


"Tapi tadi gue lihat mereka berkumpul. Tuh, di sana," tunjuk Toni dengan dagunya membuat mereka sama melihat kumpulan pria dan wanita yang lebih tua umurnya dari mereka.


"Mungkin mau membahas perjodohan Abhi dengan Oliv," ujar Vandra ngga acuh. Dia ngga yakin para lelaki kekanakan itu akan membahas mafia Bobby dengan para istri ada di antara mereka.


"Abhi mau dijodohkan?" seru Doni ngga percaya. Murid nakalnya.


"Mungkin ngga lama lagi juga bakal dinikahin," tawa Vandra santuy.


Doni pun ikut tertawa, membayangkan banyak siswinya yang pasti patah hati kalo mendengarnya. Abhi idola di sekolah. Bahkan siswi sekolah lain pun memujanya.


"Memangnya mereka.saling suka?" tanya Fino sensi dengan topik perjodohan.


"Dua duanya sama sama alergi. Orang tuanya aja yang ngebet," kekeh Vandra lagi membuat Fino tersenyum.kecut. Teringat nasibnya dengan Rosa.


Aldi dan yang lain pun ikut menimpali tawa Vandra.


Abhi yang selalu tebar pesona dijodohkan dengan Oliv yang cuek.


Kelihatannya menarik, batin Aldi geli.


"Abhi itu banyak fansnya. Oliv bakalan makan hati tiap hari," kekeh Doni.


Mereka pun ikut tertawa.


"Kita foto dulu dengan pengantin," kata Igo sambil menunjukkan ke arah antrian yang mulai sedikit.


"Gue panggil wanita wanita yang merajuk dulu," kata Eri sambil melangkah ke arah meja Angel dan teman temannya.


Akhirnya mereka pun berjalan ke arah pelaminan secara beriringan.


Tapi sudut mata Vandra menatap kepergian Luvi dan para istri lelaki kekanakan itu. Batinnya penuh prasangka ngga enak. Sampai di rumah, Vandra akan menginterogasi abangnya, Valen.


*


*


*


"Maksud Lo, si Bobby sekarang lagi nyamar?" tanya Valen serius.


"Yes," tegas Ferdi.


Valen, Ilham, Celon terdiam. Untungnya Luvi membawa Sarah, Olin dan Natasha pergi dengan alasan untuk memperlihatkan konsep pernikahan Aldi.


"Kasus pemotor yang hampir nabrak Angel juga janggal," kata Celon dengan kening berkerut.


"Benar. Seperti ancaman," tambah Valen.


"Mungkin kita sedang diamati dan mereka sedang menunggu kesempatan," kata Celon membuat ketiganya saling pandang dengan serius.

__ADS_1


"Keluarga kita harus dalam pengawalan," tandas Ferdi tegas. Kekhawatiran mulai merayapi hatinya. Sangat mengerikan kalo musuh mengincar keluarga mereka.


__ADS_2