
"Fino, kamu mau bawa aku kemana?" tanya Rosa kesal karena dia dipaksa mengikuti langkah lebar Fino. Padahal Rosa menggunakan heels yang cukup tinggi. Sepuluh centi. Cukup menyulitkan.
Fino akhirnya menghentikan langkahnya ketika mereka sudah berada dekat samping lift . Sepi.
"Kita harus bicara," kata Fino sambil melepaskan pegangannya pada Rosa. Dia menatap dalam wajah cantik yang terkesan judes di depanya.
Rosa pun tanpa.sadar mengamati penampilan Fino. Seperti yang dia duga, mantan tunangannya hanya memakai jas dengan kemeja di dalamnya, tanpa dasi. Bahkan dua kancing kemeja bagian atasnya dibiarkan terbuka. DIa terlihat macho. Tanpa sadar Rosa tersenyum.
"Aku tampan, kan. Aku yakin kamu pasti ngaku dalam hati aku lebih gentle dari Zaki," tukas Fino lebih percaya diri.
"Yakin?" sinis Rosa berusaha menyembunyikan senyumnya yang tadi sudah terukir.
"Yakinlah," sergah Fino sambil menaruh kedua tangannya di saku dan menatap Rosa tajam.
Rosa juga berdiri santai dan tetap membalas tatapan mantan tunangannya yang lagi aneh.
"Kamu mau bicara apa?" tanya Rosa dengan sikap menantang. Dia tau saat ini Fino sedang berusaha mengintimidasinya.
Fino tiba tiba tersenyum melihat sikap angkuh Rosa.
"Kenapa kamu ngga balas pesanku?"
"Apa itu penting?" tanya Rosa sambil mengalihkan tatapanya ke arah lain. Rasanya jengah juga ditatap setajam itu oleh Fino.
"Sangat penting," tandas Fino dengan menekan nada suaranya.
Rosa menhembuskan nafas perlahan dengan pikiran mumet. Entah apa yang ada dalam otak laki laki di depannya ini. Padahal Rosa benar benar ingin menjauh, walau akhirnya tetap bertemu juga malam ini. Di luar sangkaannya akan menemui Fino dimana dia belum sepenuhnya menata hati.
"Aku ingin kita menikah. Segera," tegas Fino sambil terus memperhatikan wajah Rosa yang terlihat sangat terkejut akibat ucapannya.
Kemudian wajah terkejut itu perlahan mulai tenang. Sudut bibir Rosa terangkat ke atas.
"Leluvon apa ini?" tanya Rosa menahan marah. Dia merasa dipermainkan. Jelas jelas malam ini Fino datang bersama dambaan hatinya sejak lama. Tapi mengapa malah memintanya untuk menikah.
"Aku serius," sergah Fino masih dengan nada yang ditekan.
"Aku bukan cadangan. Bukan ban serep setelah kamu ditolak," sarkas Rosa ngga dapat lagi menahan rasa kesalnya.
"Kamu bukan cadangan atau ban serep. Aku hanya ingin memastikan perasaanku saja. Juga perasaannu," tukas Fino cepat.
Dia ngga mau Rosa salah pahan.
Rosa tertawa sinis.
"Bagaimana aku bisa menikah dengan laki laki yang masih saja suka melihat perempuan yang dipujanya. Bahkan di depannya," seru Rosa marah. Untung saja lorong dekat lift tempat mereka berada masih sepi.
"Dengar, aku tau mataku salah. Aku masih belum bisa mengabaikan yang cantik cantik dan seksi di depanku," tukas Fino jujur.
Riosa mendelikkan matanya kesal mendengar pengakuan Fino.
__ADS_1
Sangat menyebalkan, batinnya tambah gusar.
"Tapi hatiku ngga. Kamu sudah membuatku terbiasa dengan kata kata sinismu. Ini juga aku menuruti saran Ando," ujar Fino menjelaskan sekaligus membela diri dan menjadikan Ando sebagai alibinya.
"Kenapa harus membawa nama Ando," sentak Rosa judes untuk menyembunyikan perasaan tersipunya.
Fino juga menyukainya? batinnya ngga percaya.
"Ando minta aku menggunakan Clara untuk mengetes, gimana perasaanku sebenarnya. Rupanya aku hanya kagum karena dia sangat cantik. Eits. jangan marah dulu. Toni juga bilang begitu," kata Fino cepat sambil tetap membawa nama teman temannya untuk membuat Rosa lebih percaya.
"Bilang apa?" tanya Rosa tambah sebal.
"Siapa?" tanya Fino bingung dengan pertanyaan Clara.
Rosa menghentakkan heelsnya dengan kesal.
"Toni! Katamu Toni juga. Maksudnya apa?" sergah Rosa yang amarahnya rasanya sudah sampai ke ubun ubun.
Fino malah tersenyun geli melihatnya. Ngga disangkanya, Rosa yang galak bisa kelihatan lucu juga kalo marah.
"Toni bilang, Clara sangat cantik." Kali ini Fino ngga dapat menahan tawanya melihat raut cemberut Rosa.
"Kalian ngapain di sini?" tanya Papi Fino yang tiba tiba sudah berdiri di depan mereka dengan wajah menahan tawa. Begitu juga istrinya yang berada di sanpingnya. Mereka berdua sempag mendengar pertengkaran keduanya.
"Papi! Mami?" kaget Fino melihat kehadiran orang tuanya. Tawanya pun langsung terhenti.
"Tante! Om?" Rosa pun ngga kalah kagetnya. Wajahnya langsung merona. Malu banget.
Rosa hanya diam. Dia sibuk berpikir, apa orang tua Fino mendengar pertengkarannya dengan Fino. Sangat memalukan kalo memang benar.
"Fino kamu benar benar memalukan papi," kekeh papi sambil menepuk keras bahu putranya sampai Fino mengaduh.
"Sakit, pi," ringis Fino.
"Kapan kita melamar Rosa. Mami mu udah ngga sabar punya cucu," kekeh papi ngga peduli dengan ringisan putranya. Dia terus saja menepuk bahu Fino karena hatinya saat i ni sangat senang. Akhirnya keluarga mereka jadi besanan, sesuai harapan almarhum kedua orang tua mereka.
"Segera, pi," jawab Fino sambil meringis menahan sakit membuat Rosa menahan bibirnya agar ngga tersenyum.
Rasain, umpatnya dalam hati dengan perasaan puas. Sementara sang papi terus saja menepuk bahu putranya dengan keras diiringi ringisan Fino. Entah sengaja atau engga, tapi Rosa senang akan penyiksaan yang dilakukan papi Fino pada putra kurang ajarnya.
"Rosa, Fino kelimpungan waktu kamu putusin. Maafkan Fino, ya," bujuk mami pada Rosa yang masih diam saja. sambil memperhatikan interaksi antara Fino dengan papinya.
"Fino itu labil. Tapi sekarang udah nggak lagi. Mami jamin seratus persen. Oh iya, kok, kamu bisa kenal putra pak Akbar?" tanya mami tetap kepo di sela bujukannya.
"Teman SMA kita, mi," jelas Rosa pelan.
"Oh, pantas saja. Rupanya pasangan yang dibawanya adalah kamu," ucap mami kemudian tertawa.
"Malah calonnya dibawa Toni. Dasar Toni, nanti akan mami kasih tau sama Ami biar dijewer," tambah mami lagi makin terkikik membuat Rosa akhirnya tersenyum.
__ADS_1
Mereka malam ini memang pada aneh aneh, membawa pasangan pasangan yang salah. Dan ketahuan pasangan aslinya lagi.
Kasian juga Toni, tambah dicuekin Ami ntar, batin Rosa geli.
"Gimana Rosa, setuju ya. Tante akan telpon mami kamu. Atau malam ini juga kita ke Surabaya, nemuin mami dan papi kamu?" tanya mami Fino tapi dengan nada yang ngga ingin dibantah.
"Oke, asisten papi akan pesan tiket pesawat Kita langsung ke bandara aja," tukas papi sambil menyeret putra keduanya melangkah pergi dengan wajah bahagianya.
Rosa hanya menatap kepergian keduanya, masih dengan wajah bingung.
"Ayo sayang," ucap mami Fino juga sambil melangkah pergi dan Rosa pun terpaksa mengikuti langkah mami Fino. Wajah Mami Fino pun nampak sangat bahagia.
Ini terlalu cepat, batin Rosa merasa bingung.
*
*
*
Sementara itu di parkiran, Eri masih mengejar Vandra yang berjalan cepat ke arah mobilnya.
"Van, apa Lo ngga kasian sama Clara. Kasih tau dia baik baik. Jangan kasar," kata Eri sambil menahan pintu mobil Vandra yang sudah dibuka.
Vandra menatap Eri kesal.
Tumben Kepo.
"Maksud Lo apa?" sentak Vandra mulai marah
"Sorry, gue nggak maksud ikut campur," sahut Eri agak ciut. Jarang sekali Vandra marah sampai membentaknya.
"Ya udah. Reseh Lo," ketus Vandra sambil masuk ke dalam mobil. Matanya kembali menyorot marah ketika Eri masih menahan pintu mobilnya.
"Apa lagi!"
Spontan Eri melepaskan pegangannya pada pintu mobil ketika mendengar bentakan Vandra yang menggelegar.
"Kasih tau dia jangan dekat dekat sama gue lagi. Ji-jik gue tau!"
Eri hanya bisa terpaku mendengar makian Vandra yang sangat kejam. Vandra pun melarikan mobilnya dengan kencang tanpa Eri bisa berbuat apa apa lagi. Bahkan tadi Vandra seperti sengaja akan menabraknya, membuat jantungnya berdebar sangat kencang.
Dengan gontai Eri memasuki mobilnya yang tadinya berada di samping Vandra dan juga melajukan dengan cepat meninggalkan parkiran.
Wajah Clara pucat mendengar makian Vandra. Toni yang di sampingnya hanya bisa meliriknya cemas. Takut Clara pingsan lagi. Tapi kemudian Toni menghela nafas lega melihat Clara terlihat tegar walauoun wajahnya masih pias.
"Mia mau melahirkan ngga lama lagi. Pikiran Vandra ngga tenang. Jangan kamu pikirkan kata katanya," kata Toni berusaha menghibur. Walau dia pun masih kaget mendengar ucapan kasar Vandra.
Clara hanya diam saja. Dia masih syok akan unpatan Vandra tadi. Sakit sekali sanpai ke dalam relung hatinya.
__ADS_1
Apa dia semenjijikkan itu?
Air matanya bergulir perlahan. Clara menangis menahan isakannnya..Toni pura pura ngga .melihatnya. Dia kasihan melihat Clara yang masih belum move on dari Vandra. Tapi cinta ngga bisa dipaksakan.