
"Reksa? Lo Reksa, kan?" seru Nesa sambil melangkahkan kakinya hingga kini sejajar dengan Clara.
Reksa ngga menyahut. Netranya masih menyorot tajam pada gadis cantik di depannya.
Sangat cantiik, batinnya mengakui pendapat Vero dan Toni. Tapi sepertii ada sesuatu yang mengusik hatinya. Dia seakana pernah mengenal gadis ini. Tapi lupa, kapan dan dimana.
"'Heh, lo kenapa ke sini," ketus Nesa merasa ngga dianggap keberadaannya. Walaupun sudah cukup lama ngga bertemu, tapi wajah Reksa ngga terlalu berubah. Mantan tunangan Mia.
Tanpa sadar Nesa mendengus kesal. Nesa tau pria tampan yang berdiri gagah di depannya patah hati karena Mia.
Bencinya Nesa mengingatnya. Seakan para pria tampan ditakdirkan untuk mencintai sepupunya saja. Bahkan Mia pun kini dikelilingi pria pria tampan yang berkualitas dari sahabat suaminya.
Pria kurang ajar ini juga menolak.dirinya ketika almarhum neneknya mengalihkan pertunangannya dari Mia.
Aku bukan serep, batinnya masih gondok dan kesal. Harga dirinya masih terluka.
"Lo ngapain di sini?" Reksa balik bertanya ngga peduli dengan sorot mata yang tetap fokus ke arah Clara.
Nesa yang mengikuti arah pandang Reksa, kemudian mencibir.
Ternyata Reksa menaruh perhatian juga ke Clara.
"Ini rumah teman gue," balas Nesa ngga ramah.
Clara masih mematung walaupun air mukanya terkejut mengetahui Nesa mengenal laki laki beringas ini.
Perasaannya ketar ketir, sangat takut kalo laki laki ini masih mengingat dirinya. Apalagi sorot mata laki laki ini sangat tajan.dan dalam.
"Kita pernah kenal?' tanya Reksa dengan nada suara yang ditekan
"Nggak," jawab Clara singkat dan cepat samhil mengalihkan tatapannya dari Reksa. Ngga kuat dia ditatap sebegitunya.
Jangan sampai laki laki ini curiga, harapnya sangat takut. Bayamgan malam itu terbayang lagi. Clara menggigit bibirnya, resah.
"Ando ada keperluan. Dia memintaku untuk menggantikannya menemanimu pergi malam ini," terang Reksa tanpa basa basi.
Clara dan Nesa saling tatap. Melihat wajah Clara yang nampak sangat enggan membuat Nesa mengambil sikap.
"Ooo, ya sudah. Kamu pulang aja. Clara.mau istirahat, ngga jadi pergi," usir Nesa sambil meraih tangqn Clara, menggenggamnya.
Keningnya mengernyit karena tangan.Clara terasa dingin. Nesa menatap Clara penuh tanya.
"Kenapa lo yang jawab? Harusnya dia, kan?" tuding Reksa tajam.
Clara merinding. Dia semakin mendekatkan tubuhnya pada Nesa.
"Cla, apa lo mau?" tanya Nesa sambil memalingkan wajahnya pada Clara.
Clara hanya menggelengkan kepala. Saat ini dia hanya ingin segera kembali ke kamar.
__ADS_1
"Okey kalo gitu. Tapi kata Ando acara ini penting kan," tukas Reksa ngga menyerah. Misinya membuat gadis di depannya berpaling dari Vandra dan menyelamatkan Ando. Tugas mulia, decihnya sinis dalam hati.
"Ngga pa pa, Nanti Clara telpon omnya," Nesa kembali menjawab.
Reksa mendengus sebal. Matanya menatap Nesa ngga suka. Malam ini Clara meminta Ando menemaninya ke acara ulang tahun perak om dan tantenya. Clara diminta membawa pasangan. Jika ngga, Clara akan langsung dijodohkan dengan putra relasi om dan tantenya. Itu yang dikatakan Ando padanya tadi di kafe.
Reksa memajukan kakinya sangat cepat menghampiri keduanya. Dengan ngga terduga, Reksa meraih pinggang Clara dan mengangkatnya seperti malam itu di klub.
DEG DEG
Jantung Reksa berdebar keras. Seperti dejavu. Rasanya dia seperti mengangjkat ulang lagi cewe onsnya. Ukuran pinggang dan berat tubuh yang sama, hanya panjang rambut dan harumnya saja yang berbeda.
"Lepaska,n" kaget Clara setelah terkesiap mendapat perlakuan yang sama dari Reksa.
"Reksa, kamu apa apaan, sih," seru Nesa marah.
Tad sesaat Reksa sempat bergeming. Kemudian tanpa mempedulikan jeritan Nesa dan Clara, Reksa melangkah keluar dengan Clara yang meronta di punggungnya, minta diturunkan.
PLAK
Clara terdiam mendapat tamparan kuramg ajar Reksa di bokongnya.
"Diamlah, atau aku akan berlaku lebih parah dari ini," ancam Reksa sambil terus melangkah.
Jantung Clara semakin bertalu. Laki laki ini sangat mengerikan.
"Reksa, turunkan Clara," teriak Nesa sambil.berlari mengejar Reksa yang berjalan sangat cepat seakan tubuh Clara hanya sekarung kapas.
Tanpa setahu keduanya, Reksa sudah mengamankan para satpam dan pelayan yang berada di rumah Clara. Tentu saja Eri, Toni, Vero dan Ando yang melakukannya. Demi kelancaran misi, keempat orang itu sudah memberikan obat bius hingga para pembantu Clara terlelap tanpa tau apa yang terjadi.
Setelah mendapat ancamannya, Clara yang terdiam memudahkan Reksa yang kemudian memasukkannya ke dalam mobil.
Saat mendudukkan Clara di kursi penumpang, dua pasang mata mereka bersitatap sejenak. Kemudian Reksa dengan cepat memutuskannya dan menutup pintu mobil karena mendengar suara teriakan Nesa yang semakin mendekat.
Dengan cepat Reksa masuk ke dalam mobilnya. Tapi ketika akan menutup, Nesa dengan cepat menahannya.
"Reksa, kamu gila," teriak Nesa marah.
Reksa lagi lagi hanya mendengus dan menepis tangan Nesa sambil membanting pintu mobilnya.
Reksa pun menjalankan mobilnya tanpa mempedulikan hampir menabrak Nesa yang membuat gadis itu langsung menyingkir sambil mengumpat marah.
Clara menatap Nesa dari kaca belakang mobil sebelum keluar dari gerbang rumahnya dengan panik.
"Nesa akan telpon polisi," ancam Clara dengan suara bergetar. Dia takut. Sangat takut.
Reksa hanya tersenyum.miring. Urusan Nesa sudah ada yang mengurus.
"Sialan," jerit Nesa frustasi. Kakinya terus menghentak dengan kesal. Tapi ngga lama kemudian tubuhnya lunglai ketika mulutnya dibekap dengan sapu tangan yang sudah dibasahi kloroform.
__ADS_1
"Apa yang akan kita lakukan dengan dia?" tanya Vero ketika melihat Nesa yang berada di pelukan Ando.
"Gue ingin sekali melakban mulutnya," geram Eri sambil berkacak pinggang.
Ando tertawa. Dia setuju saja, karena sepupumya itu sangat pedas mulutnya.
Ngga lama kemudian Fino dan Toni datang.
"Beres," ujar Toni sambil menunjuk ke arah beberapa kamera cctv.
"Gue dipanggil cuma buat misi ngga guna gini," dengus Fino sebal. Kencannya dengan Rosa bemar benar akan sangat terlambat karena misi gila ini. Ini semua gara gara telpon mendadak dari Toni, satu jam sebelumnya. Karena rasa setia kawan lah Fino manut saja memenuhi permintaan para org ngga waras ini.
Keempatnya tertawa tergelak gelak.
"Hitung hitung ngetes perasaan lo ke.Clara," sinis Eri.dalam tawa memgejeknya.
"Betul," sambut Toni cepat, juga masih tergelak.
Ando dan Vero ngga berkomentar, tapi dari mimiknya, Fino tau mereka juga sama mengetawainya.
"Kampret kalian semua. Gue duluan. Rosa bisa pecat gue jadi suaminya kalo gue sampai sangat telat," maki Fino sambil melarikan kakinya pergi ke arah mobilnya yang terparkir di luar gerbang bersama dua mobil lainnya.
Mereka membutuhkan Fino untuk memanipulasi cctv rumah Clara dan beberapa tetangga di depannya. Karena itu pria galau itu dilibatkan.
Mereka masih tertawa melihat Fino yang tergesa gesa pergi meninggalkan rumah Clara.
"Eh, si Nesa mau diapain?" tanya Toni sambil melirik Nesa yang masih tertidur karena kloroform yang diambil.dari ruang prakteknya. Toni penyumbang kloroform demi kesuksesan misi mulia ini.
"Gue bawa dia ke dalam," kata Ando sambil membawa Nesa ke dalam rumah Clara.
"Gue rasa Reksa berhasil," komen Eri ketika mereka tinggal bertiga.
"Pastilah. Reksa itu pemaksa," timpal Vero yang sangat paham watak sepupunya. hanya saja dia berharap Reksa ngga berlebihan terhadap Clara. Lagian Reksa saat ini hanya fokus pada cewe onsnya yang masih belum ketemu.
Gila, cuma cewe ons aja ngga bisa dia lupain. Kena karma lo, maki Vero dalam hati. Setengah mengumpat setengah senang. Biar aja cewe itu hilang, ngga mungkin juga cewe begitu jadi istri sah salah satu pewaris tunggal grup yang merajai bidang properti.
"Kta lihat saja," tambah Toni santai.
Tiba tiba hpnya bergetar.
"Dimana lo?" suara Vandra terdengar kesal.
"Ada apa?" tanya Toni heran, ngga biasanya Vandra menelpon.
"Anak gue udah lahir. Gue udah jadi dady," seru Vandra kencang membuat Toni menjauhkan telponnya. Walau kesal, tapi dia ikut senang melihat kegembiraan di wajah sahabatnya.
"Syukurlah," jawab Toni lega. Akhirnya anak khayalan mereka lahir juga.
"Suruh Ando ke sini. Katanya Ando dengan kalian ya," tuduh Vandra yakin benar. Suaranya penuh tekanan.
__ADS_1
Toni tertawa. Pasti sahabatnya lagi kesal campur senang. Senang akhirnya anaknya yang selalu diributkan namanya udah lahir, tapi kesal karena harus mencari Ando. Mantan saingannya.