Me And You

Me And You
BERAKSI


__ADS_3

Setelah Abhi pergi meninggalkan ruangannya, perasaan Doni merasa cemas. Ada yang salah, batinnya ngga tenang.


Doni pun keluar dari ruangannya..Tapi dia malah bertemu dengan Mikaela yang berdiri di depannya.


Gadis ini kelihatan terkejut melihat Doni yang keluar dari ruangannya dan sudah berdiri di depannya.


"Kamu ngapain di sini?" selidik Doni heran. Dua biang bolos, kenapa malah ke ruangannya bersamaan di hari ini? Yang satu udah pergi, yang satu lagi sedang berdiri bingung.


"Pak, sa... saya mau minta ijin," katanya gugup.campur gagap. Mikaela merutuki kegagapannya yang muncul tiba tiba.


Mata Doni menyorot tajam.


"Mau kemana?" tanyanya kemudian


"Sa .... saya mau ...."


"Ngomong yang benar. Saya buru buru," potong Doni cepat. Dia memang terburu buru. Perasaannya makin ngga enak. Dia mencemaskan Abhi.


Mikaela menarik nafas panjang. Dia juga bingung kenapa harus gugup sampai gagap menghadapi kepala sekolahnya yang jutek. Untung tampan.


Eh, batinnya kaget dengan pikiran konsletnya.


"Saya mau ke resort yang akan dikunjungi, Kak Erika," ucapnya akhirnya berhasil lepas dari gugup dan gagapnya. Walaupun Mikaela merasa aneh dengan detak jantungnya yang ngga normal.


Tatapan kepseknya begitu tajam, sekan menembus hatinya yang paling dalam.


Doni ngga menjawab. Mulai menimbang. Doni tau resort yang di maksud Mikaela. Tapi arahnya berbeda dengan tujuannya.


"Baiklah. Kamu ikut saya dulu, nanti saya sendiri yang akan antarkan kamu ke resort," putus Doni kemudian melangkahkan kakinya melewati Mikaela yang masih bergeming.


z


Eh, batinnya kaget. Tentu saja diijinkan udah syukur. Kini malah mau diantar.


"Ayo, mau ikut nggak?" tanya Doni ketika baru sadar kalo Mikaela ngga ada di sampingnya.


Dia pun menoleh ke belakang dan keningnya berkerut melihat gadis itu masih diam saja bagai patung.


Doni menghela nafas panjang. Beneran ni anak kecil, batin Doni sambil melangkahkan kakinya cepat ke Mikaela.


"Ayo," katanya sambil.menarik tangan Mikaela agar mengikutinya.


Wajah Mikaela merona, dia melirik tangannya yang digenggam kepsek tampan ini sambil mengikuti langkahnya. Mikaela tersenyum malu. Mikaela tambah menundukkan kepalanya saat beberapa guru menatap mereka curiga ketika melewatinya. Sialnya lagi kepsekmya tetap cuek meggenggam jari jarinya sambil terus melangkahkan kakinya.


"Kita naek motor pak?" tanya Mikaela kaget melihat Doni berhenti di depan sebuah motor balapnya.


Doni juga bingung. Dia mau cepat menyusul Abhi, karena itu lebih memilih naek motor.dari pada mobil. Ngga nyangka kalo dia akan membawa Mikaela juga.


"Kamu pake legging?" tanya Doni sambil memakaikan helmnya pada Mikaela yang masih berdiri bingung.


Doni tersenyum tipis karena melihat anggukan Mikaela.


Kenudian setelah mengenakan helmnya yang diambil dari mottor sebelahnya, Doni pun menunggangi motornya.


"Naik cepat," katanya sambil memiringkan motornya.


Dengan ragu Mikaela menaikinya. Roknya pun tersingkap. Tapi kali ini pahanya terselamatkan dengan legging merahnya.


Pikiran Doni langsung piknik saat melirik melalui spionnya.


Merah lagi?


"Pegangan yang erat," kata Doni tanpa ragu menggas motornya membuat Mikaela langsung mengeratkan tangannya di pinggang Doni sambil menahan jeritan kagetnya.


Motor pun melaju kencang meninggalkan parkiran khusus dirinya.


Mikaela merasa heran, dia ngga takut melihat cara Doni yang ngebut sambil gesit menyalip di antara motor dan mobil, membelah jalanan. Malah Mikaela merasa nyaman menempelkan tubuhnya di pungggung kepsek idola sekolahnya.


*


*


*


"Kamu harus pake rompi anti peluru ini," kata Arven sambil menyerahkan rompi berwarna hitam pada Erika yang baru saja keluar dari kamarnya.

__ADS_1


Erika menatap Arven seakan mengatakan, apa dia harus membongkar dandanannya yang sudah sempurna ini?


Seakan tau apa yang dipikirkan Erika, Arven menganggukkan kepalanya


"Erika, menurutlah. Om juga pake," kata Om Halim sambil menunjukkan rompi yang melekat di tubuhnya.


"Baiklah," katanya menurut walau jengkel..Kenapa tidak dikasihkan dari tadi sebelum dia memaksimalkan penampilannya, gerutunya dalam hati.


Arven tersenyum melihat wajah manyun Erika.


Kamu beda dengan kamu yang tersesat dulu, batin Arven dalam senyumnya.


Arven menatap punggung Erika sampai menghilang ke dalam kamarnya.


"Kakek nenek kamu sudah sampai di tempat papi mu?" tanya Om Halim sambil memgulum senyum melihat tatapan Arven pada Erika.


"Sudah Om."


Arven sengaja mengembalikan kakek dan neneknya ke tempat papimya. Keadaan sangat tidak kondusif. Bahaya mengintai mereka kapan saja. Sekarang malah mereka menjemput bahaya itu. Semoga mereka semua baik baik saja, harap Arven dalam do'anya.


"Syukurlah," balas Om Halim ngga tenang. Bisa dibayangkan betapa kerasnya debaran jantungnya. Mereka sedang memancing bos penjahat agar bisa dengan cepat merimgkusnya.


"Om Halim tetaplah di belakangku. Jangan jauh jauh," katanya mengingatkan.


"Iya," balas Om Halim tenang.


Ngga lama kemudian, Erika muncil dari dalam kamar ya.


Cantik, batin Arven memuji. Mata mereka bersitatap sebentar sebelum Erika memalingkan ke arah yang lain. Kembali Arven menyunggingkan senyum tipisnya.


"Kita berangkat sekarang," kata Erika sambil mellangkahkan kakinya melewati Arven dan Om Halim. Dalam hati Erika kesal pada Omnya karena terlalu menurut pada Arven.


Arven mengikutinya bersama Om Halim dengan menahan senyumnya.


Gadis kecilnya sekarang udah dewasa dan berubah menjadi wanita yang ambekan.


Kali ini mereka akan berhadapan langsung dengan Bobby dan anak buahnya.


*


*


*


"Oke." balas Valen sambil berdiri.


"Om Nirwan pamit ngga menemani kita. Beliau mengejar Abhi," kata Ilham sambil menyembunyikan fakta yang sebenarnya.


"Benar begitu?" tanya Valen pelan. Hatinya pun masih ngga tenang.


"Iya," jawab Ilham.dengan wajah meyakinkan hati Valen.


Perasaan Valen yang mau meninggalkan teman temannya untuk melindungi Abhi membuatnya belum bisa berkonsentrasi.


Karena jarak mereka lebih dekat ke arah resort, rombongan Valen segera mendekat. Tentunya mereka menggunakan topeng tipis untuk mengecohkan perhatian Bobby dan anak buahnya.


Mereka pun menunggu Erika di ruang lobby hotel yang baru selesai di bangun.


Akhirnya Erika, Arven dan Om Halim datang. Mereka memasuki lobby dengan orang orang yang menunggu segera berdiri untuk menyambut kedatangan pewaris utama grup Arwana


DOR!


Kejadian berlangsung sangat cepat, sebuah suara tembakan terdengar.


Erika memegang dadanya. Arven langsung memeluk Erika yang hampir jatuh.


DOR!


DOR!


DOR!


Keadaan mulai panik. Orang orng mencari tempat untuk melimdungi diri. Bunyi tembakan bersahut sahutan memekakkan telinga.


Valen, Ferdi, Celon, Ilham dan Emir mulai memperhatikan suasana. Sesuai rencana mereka akan pura pura kalah sampai Bobby muncul.

__ADS_1


Dan benar saja. Bobby dengan wajah palsunya menampakkan diri. Begitu juga anak buahnya . mereka mengelilingi Arven dan Erika yang berada di tengah ruangan.


"Dia menatap garang pada Erika yang sedang dipeluk Arven. Seringai tipis tercetak di bibirnya ketika melihat ada noda darah di balik jas Erika.


"Kamu siapa?" tanya Erika dengan nafas terengah.


Bobby tertawa keras. Setelah agak lama dia baru berhenti dan menatap kejam pada Erika.


"Aku kekasih saudara tirimu!"


Erika sempat terkejut..Setaunya Anastasia hanya merasa memiliki satu kekasih, yaitu Andre. Kekasih halunya.


Mata Bobby menatap berkeliling, kemudian tersenyum sinis.


"Ternyata pembunuh itu ngga ada di sini," lanjut Bobby lagi membuat Arven dan Erika memgerenyitkan dahinya, bingung akan ucapan Bobby.


Valenkah? duga Arven dalam hati.


Kemudian Bobby menembakkan pistolnya ke langit langit hotel membuat banyak orang berseru kaget dan takut. Suasana terasa mencekam dalam kepanikan.


"Sebentar lagi dia akan menangis. Anaknya akan mati," tawa Bobby menggetarkan hati yang mendengar.


Ilham dan Emir memegang lengan Valen erat erat ketika dirasa laki laki itu akan merusak segala rencana.


"Tenanglah. Banyak yang menjaga Abhi," kata Ilham membuat Valen menatapnya marah.


"Sial! Kamu tau anakku dalan bahaya tapi kamu merahasiakannya!" sentak Valen kesal dengan suara tertahan.


"Maaf. Tapi aku telat menyadarinya," kata Ilham jujur.


Dia mulai menyadari setelah mereka semua berkumpul. Abhi pasti target utama Bobby karena sudah membunuh Anastasia. Awalnya dia berpikir si kembar. Karena itu dia meminta Valen menjemput si kembar bersama putrinya. Tapi tidak ada pergerakan sama sekali dari orang orang Bobby ke Sekolah SD anak anak mereka.


"Andre dan Vandra bersama Om Nirwan mengikuti Abhi," kata Enir membuat Valen menoleh.


Valen menatapnga geram. Lalu dia menatap Celon dan Ferdi yang ternyata sedang menatapnya ngga enak.


"Sorry," bisik keduanya berbarengan.


Pantasan hatiku ngga tenang.


Valen memejamkan mata. Kalo terjadi apa apa pada Abhi, Sarah pasti akan menyalahkannya. Seperti dulu, saat Abhi kecil di culik.


HP Ilham bergetar. Bibirnya mengukir senyum miring. Om Arif sudah mengamankan sniper sniper Bobby. Saatnya mereka bergerak.


"Kita mulai sekarang," katanya pada keempat temannya.


"Siap," sahut Ferdi kemudian memberikan tanda pada Arven.


Arven dengan cepat melemparkan tas kecil milik Erika ke pistol yang dipegang Bobby.


Bobby yang lengah terkejut karena pistol.di tangannya terlepas.


"SIAL!" umpatnya keras.


Tanpa sempat berpikir panjang, anak anak buahnya yang juga ngga dalam posisi ngga siap langsung diringkus orang orang Om Arif dan puluhan staff hotel yang berambut cepak.


"Sial!" maki Bobby marah. Kenapa dia ngga menyadari, seluruh staf di hotel ini berambut cepak. Mereka memanipulasinya dengan menggunakan blangkon.


Karena kaget melihat anak anak buahnya sudah di ringkus dengan mudahnya, Bobby ngga menyadari sebuah tendangan menyambar wajahnya.


BUK!


"AAARRGGHH," jeritnya saat jatuh terjengkang. Di wajahnya tercetak jelas alas sepatu Valen.


Dengan geram, Valen mencengkeram kerah bajunya.


"KAU SIALAAAN!" maki Valen sambil meninju penuh amarah pada wajah yang sudah memar oleh tendangannya.


Bobby ngga sempat menjerit, karena dia langsung pingsan oleh pukulan keras mantan juara nasional karate lima kali bertirut turut.


"Periksa bajunya, ada bom apa tidak," perintah Ferdi begitu melihat Valen sudah meninggalkan tubuh Bobby yang terkapar pada anak buahnya yang tim gegana.


Dengan panik, Valen mencoba menelpon Abhi, tapi tetap ngga diangkat.


"ANGKAT ABHIII!" teriaknya menggelrgar membuat semua orang berpaling menatapnya.

__ADS_1


__ADS_2