Me And You

Me And You
Sampai Tuntas


__ADS_3

"Bang Bobby ketangkap?" tanya Arabella kaget.


"Iya, nona," lapor anak buah Bobby yang bisa melarikan diri. Ngga banyak, ngga nyampe sepuluh orang. Padahal mereka mengerahkan hampir tujuh puluh orang, karena ini adalah amunisi terakhir Bobby1 untuk balas dendam


Arabella ngga bisa bayangkan berapa banyaknya polisi yang menangkap Bang Bobby dan teman temannya.


"Bom bom kita di hotel juga sudah dijinakkan," sambungnya lagi.


"Sekarang ada berapa teman teman mu yang tersisa?" tanya Arabella setelah menghembuskan rokoknya. Dia masih ngga percaya ketua mafia narkoba ini berhasil dikalahkan.


"Kurang lebih tiga puluhan lagi, nona," jawab anak buahnya patuh. Sebelum melakukan penyerangan ke resort, Bobby sudah memerintahkan anak buahnya yang tersisa untuk mematuhi Arabella.


"Apakah Bang Bobby bisa dilepaskan dengan jaminan?" tanya Arabella ingin tau.


"Tidak nona. Bos besar akan dieksekusi mati. Yang tertangkap akan di penjara seumur hidup tanpa keringanan hukum sama sekali."


Arabella menghembuskan lagi asap rokoknya. Pikirannya buntu. Besok dia akan membalas dendam pada teman teman Eri di acara pernikahan saudaranya. Hatinya masih sakit begitu mengingat siksaan yang dia dapat di penjara dari napi napi wanita di sana. Terutama napi yang mati terbakar, itu pimpinan di selnya.


Wajah dan tubuhnya pasti ada yang memar memar setiap harinya. Dia bagaikan babu yang dipekerjakan secara paksa tanoa upah untuk mengerjakan pekerjaan mereka. Mereka ngga segan segan memukul dan menendangnya. Rambut panjang indahnya sudah sangat pendek karena dengan semena mena digunting mereka. Makanya dia dendam. Dan memutuskan untuk membuat kepala napi di selmya yang mati terbakar menggantikannya.


Setelah bebas, Arabela pun langsung melakukan perawatan. Tapi bekas bekas penganiyaan di penjara itu belum semuanya hilang. Punggung dan kepalanya masih sering sakit karena selalu dibenturkan di tembok penjara.


Arabella betul betul mendendam pada Vandra dan teman temannya. Dia juga membenci mereka semua.


Tapi dia tau, pasti sekarang mereka sudah bersiap menyambutnya. Bom bom yang akan meledakkan mereka pun sudah berhasil dijinakkan. Mereka sepertinya sudah tau kalo dirinya masih hidup. Bukan Anastasia yang selama ini dia perankan. Dia seperti sudah mati langkah.


Tiba tiba sekelebat pikiran buruk muncul di kepalanya.


"Kamu diikuti?"


Anak buahnya terkejut. Sama sekali ngga kepikiran hal tersebut. Dia dan sembilan temannya tanpa pikir panjang lari menyelamatkan diri dari pemyergapan ke tempat persembunyian Arabella.


"Kita harus cepat pergi dari sini," kata Arabella sambil mematikan rokoknya.


"Oke Nona."


"Siapkan mobil," titahnya sambil mengambil tasnya. Mereka harus cepat pergi dari sini.


"Siap, Nona," kata anak buahnya yang berbadan kekar.


Dia langsung mengumpulkan anak buahnya yang tersisa dan menyiapkan mobil.


Tapi mereka semua terkejut, begitu membuka pintu markas.


Anak buahnya yang berada di luar sudah ditaklukan. Arabella sampai menutup mulutnya melihat banyaknya polisi yang berkumpul.

__ADS_1


"Halo Arabella," sapa Ferdi dengan senyum mirimgnya. Di sampingnya ada Valen yang juga berdiri santai dengan tangan yang ditaruh di saku celananya. Di sampingnya juga ada Ilham, Celon, Emir, dan Andre.


Arabella terkejut melihat Ande juga ada di situ. Targetnya atas perintah Bobby.


Andre sedkit memicingkan mata, berusaha mengingat karena merasa familiar. Ternyata Arabella belum mengganti pakaiannya. Bibir Andre mengembangkan senyum smirk. Ternyata bukan Anastasia. Hanya gadis ngga jelas yang menyamar.


Om Arif memerintahkan anak buahnya membuntuti anak buah Bobby yang sengaja dibiarkan melarikan diri. Karena mereka ingin membasmi sampai tuntas.


Dan dugaan Om Arif benar, sisa sisa anak buah Bobby menuju ke markas tersembunyi mereka. Akhirmya mereka semua bisa digerebek, termasuk Arabella.


Apalagi di hotel tempat resepsi Aldi dan Aurelia-adiknya Arabella, terdapat beberapa bom yang bisa meledakkan hotel tersebut.


Andre menatap lega ketika Arabella dan sisa sisa anak buah Bobby di bawa tanpa perlawanan. Emir menepuk pundaknya, keduanya pun tersenyum lega.


*


*


*


"Kta mau kemana, pi?" tanya Oliv bingung karena papinya datang menjemputnya di sekolah. Padahal jam pulang sekolah belum berakhir.


Dua kali dia ijin keluar kelas. Pertama Abhi dengan pernyataan ngga jelasnya. Sekarang papinya. Padahal Oliv harus menyelesajkan ulangannya. Alhasil, ada dua soal yang dia kosongkan karena belum.dijawabnya. Bukan karena ngga tau, tapi karena papinya ngga mau dia menunggu.


Sekarang mereka berjalan menuju parkiran. Bibir Oliv masih manyun. Kalo begini terus, juara umum yang selalu dipegangnya bisa diambil alih temannya.


Mata Oliv membulat saking kagetnya. Dia kepikiran maminya, karena melihat keadaan papinya sehat sehat saja.


"Mami kenapa, pi?" tanyanya sambil menahan pintu mobil yang akan ditutup papinya.


"Mami baik baik saja," kata Ferdi tenang membuat Oliv bernafas lega.


Dengan santai papinya berjalan memutari bagian depan mobil dan ngga lama kemudian sudah duduk sebagai supir.


"Kalo bukan mami, siapa yang sakit?" tanya Oliv dengan raut wajah heran.


Papi hanya tersenyum sambil menjalankan pelan mobilnya.


"Tadi Abhi nemuin kamu? Dia ngomong apa?" tanya Ferdi sambil mengerling memggoda putri tunggalnya.


"Kok, papi tau?" kaget Oljv dengan wajah tiba tiba terasa panas.


"Nebak aja," kekeh Ferdi membuat Oliv karena merasa terjebak.


"Abhi ngomong apa?" tanya Ferdi jahil.

__ADS_1


"Lupa," jawabnya asal membuat Ferdi tambah tergelak dengan tingkah merajuk Oliv. Persis istrinya.


"Kamu suka ngga sama Abhi?" todong Ferdi semakin jahil.


Oliv ngga menjawab, hanya melengos, menatap ke luar jendela mobil.


"Papi penasaran, Abhi ngomong apa sama kamu," ganggu Ferdi lagi.


"Kan Oliv udah bilang, lupa," ngeyel Oliv. Dia ngga mau kepancing sama dadynya.


Ferdi tergelak sambil menggelengkan kepala.


"Kalo setelah lulus kalian nikah, gimana?"


Oliv langsung terbatuk.


Nikah sama Abhi? NO!


Oliv ngga bisa bayangin kalo tiap pergi sama Abhi pasti banyak cewe cewe yang minta difoto hanya dengan Abhi saja. Dia akan jadi obat nyamuk.


"Papi sama mami pengen besanan sama orang tua Abhi. Kita sobatan dari jaman SMP sampai sekarang," kata Ferdi mulai serius membuat Oliv ngga bisa menolak keinginan orang tuanya.


Oliv teringat kata kaya Abhi yang mau menuruti keinginan orang tuanya. Apa dia bisa hidup tenang dengan cowo yang suka tebar pesona itu. Apalagi cowo itu selalu saja mengomentari penampilannya. Seolah ngga ada kosa kata yang lain di kepalanya.


Oliv terdiam. Dia bingung mau menjawab apa. Sampai matanya tersadar ketika papinya memasuki parkiran rumah sakit.


"Siapa yang sakit, pi?"


"Abhi tadi kecelakaan," kata Ferdi sedikit berdusta.


Dada Oliv berdegup keras.


Bukannya tadi dia baik baik saja?


"Setelah dari sekolah kamu, dia kecelakaan. Lumayan, kakinya ketimpa motornya."


Oliv masih diam.


Kasian juga.


"Ayuh," ucap Ferdi sambil membuka pintu mobil.


Oliv terpaksa menurut. Bukan dia ngga khawatir dengan keadaan Abhi. Tapi kata papinya setelah lulus SMA, nikah sama Abhi sangat menganggu pikirannya.


Oliv masih ingin kuliah. Dia ingin menjadi pengacara. Oliv ingin membantu papinya untuk menjebloskan para penjahat ke penjara.

__ADS_1


Tapi kalo nikah, trus punya anak, Oliv belum siap. Sangat ngga siap. Apalagi ayah anaknya si Abhi. Cowo yang suka ditempeli cewe cewe. Bisa bisa dia yang ngurus anak sendirian sambil ngajuin gugatan cerai. Karena suami mudanya menelantarkan mereka.


"Oliv," panggil Ferdi agak keras membuat lamunan ngga jelasnya ambyar.


__ADS_2