
DUA MINGGU SEBELUMNYA
"Angel, kamu masih tidur?" tanya Eri lembut. Padahal biasanya tiap subuh, Angel sudah bangun. Melakukan olahraga pagi di halaman belakang rumah mereka.
Eri yang sudah bangun duluan dan melakukan jogging di sekitaran kompleks rumah mereka jadi heran, ketika memasuki rumah yang tetap sepi dan dalam.kondisi sama seperti yang dia tinggalkan. Biasanya Angel sudah membuatkannya secangkir teh.
"Kepalaku pusing," ucap Angel lemah.
Reflek Eri memegang kening Angel.
"Kamu hangat. Kita ke dokter ya," respon Eri cepat.
"Nggak usah. Aku mau tidur aja," tolak Angel sambil memejamkan lagi matanya.
"Ngga boleh nolak. Tunggu aku mandi bentar," titah Eri sambil.masuk ke kamar mandi. Kaosnya terasa lengket akibat keringat karena joggingnya.
Ngga lama kenudian, Eri tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat Angel yang masih tertidur. Setelah berganti pakaian, Eri menyibakkan selimut yang dipake Angel sampai menutupi lehernya.
Eri tersenyum, ternyata Angel sudah menggantiakn bajunya dengan dres selutut.
"Ih, ngga mandi," cibir Eri sambil memggemdong Angel.
Karema terusik Angel membuka matanya dan lamgsung mengalungkan lengannya pada leher Eri dengan manja.
"Udah sikat gigi belum?" cela Eri sambil membuka pintu kamar.
"Sudah tadi subuh. Emang kamu," ucap Angel balas menyindir membuat Eri tergelak.
"Loh, tuan muda dan nyonya mau kemana?" tanya bi Irma ketika melihat tuan mudanya menggendong istrinya.
"Mau bawa Angel berobat, bi Irma."
"Nyonya sakit apa?" tanya bi Irma khawatir. Ngga biasanya nyonya nya sakit. Wajah nyonya mudanya juga pucat.
"Mana Eri tau bi. Makanya mau dibawa ke dokter," kekeh Eri membuat bi Irma tersenyum malu.
"Iya sih, tuan," katanyq menyahut sambil membantu mrmbuka pintu.
"Hati hati tuan,"ucap bi Irma sambil.menahan pintu mobil ketika Eri menaruh tubuh Angel di kursi di sampingnya.
"Makasig bi. Eri pergi dulu," pamitnya sambil.menutup pintu mobil Angel.
"Iya tuan muda."
"Makasih ya bi Irna," ucap Angel setelah menurunkan kaca mobil.
"Hati hati nyonya. Semoga sakit yang menyenangkan," tukas bi Irna dengan senyum cerahnya.
"Emang ada sakit menyenangkan, bi?" tanya Eri yang sudah masuk ke dalam mobil sambil melongokkan kepalanya ke arah bi Irna. Angel pun menatap bi Irma bingung.
"Ada dong, tuan muda. Misalnya, sakit mau punya bayi," tawa bi Irma senang.
Eri dan Angel saling pandang, kemudian keduanya tertawa. Sudah tidak terlalu berharap, soalnya sudah beberapa kali kecewa.
"Bibi do'ain, kali ini berhasil," kata bi Irna dengan suara meyakinkan.
__ADS_1
"Semoga ya, bi," ucap Angel penuh terima kasih dan juga sangat berharap
"Kalo beneran hamil, bibi saya kasih bonus dua kali gaji," janji Eri sambil menghidupkan mobilnya dan meninggalkan bi Irma yang tertawa senang.
Angel jadi tersenyum melihatnya dari kaca spion.
"Er, kalo nanti aku ngga hanil, tetap kasih bonus ya ke bi Irma," ucap Angel sambil menatap Eri lembut.
"Iya, Angel," janji Eri membuat Angel tersenyum lagi
*
*
*
Ternyata kali ini do'a bi Irma manjur. Angel dinyatakan hamil. Mereka begitu senang sampai berpelukan dan tertawa kegirangan.
"Tapi bu Angel harus hati hati ya. Ini baru trimester pertama. Ibu Angel ngga boleh terlalu capek," kata dokter Lidya mengingatkan. Dokter Lidya yang membantu Luvi melahirkan, dan sepagi ini beliau sudah membuka prakteknya
"Denger tuh, Angel. Kamu ijin ngga ngantor dulu ya," kata Eri auto khawatir.
"Sementara bu Angel sakit, sebaiknya di rumah dulu, istirahat," imbuh dokter Lidya.
"Tuh, dengerin lagi Angel," kata Eri dengan nada ngga bisa dibantah.
"Iya."
"Pak Eri bisa ambil vitamin di ruang sebelah. Bu Angel tiduran aja dulu," tukas dokter Lidya lembut.
Tapi langkahnya terhenti ketika.melihat Sandrina yang baru saja memasuki ruang praktek dan sedang menuju ke.meja resepsionis.
Awalnya Eri ngga mau menyapa, dia masih saja kesal jika ingat oeristiwa dulu, tapi suara Sandrina menghentikan langkahnya.
"Kamu di sini, Eri? Angel hamil?" tanya Sandrina beruntun.
Mau ngga nau Eri terpaksa menghentikan langkahnya.
"Iya."
"Oh."
"Kamu sendirian? Mana Irfan?" tanya Eri sambil melihat ke arah pintu luar, mencari sosok Irfan.
"Irfan kerja."
"Oh."
Dalam hati Eri heran juga, kenapa Irfan ngga menemani istrinya ke dokter kandungan. Seperti bukan Irfan sahabatnya saja.
Hening.
"Kamu ..." keduanya serentak berbicara.
"Kamu aja duluan," kata Eri agak rikuh.
__ADS_1
Sandrina tersenyum tipis.
"Aku keguguran, Eri."
"Haah?" kaget Eri dan baru kali ini dia memperhatikan periut Sandrina yang tampak rata.
"Kok, bisa?" sambung Eri ngga ngerti. Dalam.hati dia merutuk kesal, kenapa ngga ada yang bercerita padanya. Apa dia lagi lagi jadi orang terakhir yang tau?
"Aku dan Irfan bertengkar. Irfan mendorongku sampai terjatuh. Mungkin karena emosi," cerita Sandrina dengan mata berkaca kaca.
Eri terdiam. Dia menatap Sandrina penuh selidik. Tapi mata istri teman dekatnya itu ngga seperti berbohong. Terlihat jujur. Tapi haruskah dia percaya?
"Aku mengalani pendarahan. Irfan membawaku ke rumah sakit. Bayi kami meninggal dalam kandungan," kata Sandrina sambil menghapus air matanya.
Eri masih mematung. Dia hanya diam membisu. Bingung harus bereaksi seperti apa. Sejujurnya dia marah karena Irfan berlaku kasar pada istrinya. Tapi Eri ngga mau membuat Sandrina salah paham dengan reaksi simpatik yang dia berikan.
"Maaf, aku jadi cerita," kata Sandrina sambil.menghapus lagi air matanya. Dia merasa kecewa demgan respon Eri yang seperti ngga peduli. Padahal Sandrina ingin Eri mendekapnya guna meredakan kesedihannya.
"Ngga pa pa. Kamu yang sabar ya," ucap Eri akhirnya. Setelah mengantar Angel pulang, dia akan menemui Irfan.
"Aku duluan ya. Kamu pasti mau ambil vitamin buat Angel, kan?" kata Sandrina mengingatkan.
"Oh iya." Eri menepuk keningnya. Kenapa dia bisa lupa, omelnya membatin.
"Aku duluan ya. Nanti aku bicara sama Irfan. Dia ngga boleh kasar sama kamu lagi," kata Eri sebelum pergi.
Sandrina ngga menjawab, hanya tersenyum getir menatap punggung yang selalu dirindukannya pergi menjauh.
*
*
*
Angel masih tertidur ketika Eri dengan tergesa gesa masuk.ke ruangan dokter.Lidya. Setelah pamit pada sang dokter, Eri kembali menggendong Angel yang kali ini sangat nyenyak todurnya.
"Aku kira kamu bakalan marah karena aku lama banget ngambil vitaminnya," bisik Eri dengan wajah sumringah.
Dia suka Angel yang bersikap manja begini padanya.
Mata Angel baru terbuka ketika Eri mendudukannya ke dalam mobil.
"Aku ketiduran," kata Angel dengan wajah tersipu
Eri tersenyum sambil mencubit pipi Angel sebelum menutup pintu mobil.
Sepanjang jalan Eri hanya diam dengan banyak pikiran di kepalanya. Sementara Angel tertidur lagi.
Dengan siapa aku bisa cerita, kesal Eri sambil menggusar rambutnya. Begitu sampai di rumah, dia mencoba menelpon Irfan, tapi nomer Irfan lagi ngga aktif.
Ngga biasanya, batinnya heran.
Eri menatap lama wajah Angel yang masih tertidur.
Dia ngga mungkin meninggalkan Angel. Akhirnya Eri ngga jadi menemui teman dekatnya itu dan memutuskan menemani Angel.
__ADS_1