Me And You

Me And You
Menyelamatkan Abhi


__ADS_3

"Vandra, hati hati," kata Mia agak berat. Di takut kalo ada apa apa dengan Vandra. Beberapa bulan lagi Mia akan melahirkan. Dia sangat takut membuatnya masih memeluk erat Vandra.


"Do'ain kita baik baik aja," kata Vandra lembut sambil mengecup puncak kepala Mia.


"Ya, pasti," ucap Mia pelan.


"Tenang, aku akan jaga suani kamu. Dasar, kamu masih aja cengeng," kata Ando separoh mencela. Vero yang berdiri diseberang mobil tersenyum miring.


Mia ngga mempedulikannya. Dia menarik kepalanya dari Vandra.


"Kamu juga hati hati Ando. Aku ngga mau kamu kenapa kenapa juga," katanya sambil berpaling pada sepupunya yang hanya cengengesan menatapnya.


"Mia, aku cemburu," goda Vandra agar wajah Mia ngga sedih lagi. Dia juga berat meninggalkan Mia. Tapi Abhi dalam bahaya. Bang Ilham mengabarkan ada pergerakan yang menguntit Abhi dalam jumlah cukup banyak.


"Dasar childish," ejek Ando kemudian tertawa bersama Vero.


Vandra pun tertawa sambil membelai rambut istrinya. Vandra suka Mia yang mandiri menjadi manja dengannya.


"Anak dady, jaga mami ya," kata Vandra sambil mengelus perut Mia di balik bajunya.


Mia tersenyum manis, apalagi saat merasakan gerakan di perutnya.


"Bayi kita bilang iya," kekeh Vandra ketika merasakan balasan aktif dari bayi di dalam perut Mia.


"Aku pergi," pamitnya sambil masuk ke dalam mobil. Begitu juga Ando dan Vero setelah sama melempar senyum melihat betapa mesranya si dingin dan kaku itu dengan Mia.


Tapi mereka dikejutkan dengan kedatangan dua mobil yang memasuki gerbang rumahnya dan berhenti di belakang mobil Ando.


"Teganya ngga ngasih tau," seru Eri sambil membuka mobil dengan nada kesal. Di sampingnya Aldi melambaikan tangannya.


"Pengantin harusnya di pingit woi," seru Ando kemudian terkekeh bersama Aldi.


"Yang bulan madu ikutan juga," kekeh Vero membuat mereka kembali tertawa.


"Gue ngga mau ya, kali ini ngga ikut juga," pungkas Eri ketus. Beberapa kali dia ketinggalan beraksi bersama teman teman gilanya.


Mereka kembali terkekeh. Mia pun mengembangkan senyum lebarnya


Di belakang mobil Eri, Toni dan Igo keluar bersama Fino.


"Doni udah duluan," kata Toni memberitau ketika melhat mata Vandra seperti mencari seseorang.


"Oke, kita berangkat," titah Vandra setelah mengangguk dengan hati heran. Padahal dia ngga menghubungi Doni dan teman temannya yang baru datang. Apalagi Aldi yang besok akan nikah.


"Gue ikut Lo, Van," kata Fino sambil berlari ke mobil Vandra.


"Oke, dag sayang," kata Vandra sambil melambaikan tangannya pada Mia begitu Fino yang jadi supirnya menjalankan mobil.


"Daag Miaa......," seru yang lainnya usil sambil berlalu pergi.


Mia tersemyum sambil terus berdo'a agar mereka semua selamat dan baik baik saja.


"Aku pergi, ya," pamit Andre setelah rombongan Vandra pergi. Dia barusan keluar bersama Rasya.


"Hati hati," kata Rasya cemas.


Andre tersenyum.


"Ya sayang," sahutnya sambil


mengecup lama kening istri cantiknya.


"Hati hati, Bang Andre," ucap Mia.


"Ya. Kamu tenang aja," kata Andre sambi memakai helm fullface nya.

__ADS_1


Dia pun melajukan motornya menyusul Vandra dan teman temannya.


"Tenanglah, mereka akan baik baik saja," ucap Rasya sambil memggandeng Mia masuk ke dalam rumah.


Elka sedang berada di dalam rumah untuk mengalihkan perhatian anak anak mereka agar ngga curiga. Terutama si kembar adiknya Abhi.


"Iya, kak..Semoga," sahut Mia sambil mengikuti langkah Rasya.


Dalam hatinya Mia terus berdo'a untuk Vandra dan teman temannya. Juga untuk bang Valen dan teman temannya juga. Keadaan cukup genting. Bahkan mertuanya juga sudah pergi dari tadi. Ngga tau kemana.


*


*


*


Abhi heran, melihat dari kaca spion beberapa motor dan mobil mengikutinya sejak dia meninggalkan sekolah Oliv.


Tapi Abhi terkejut melihat mobil suv di depannya seperti akan menabraknya.


"Sial!" makinya sambil menghindar. Ngga susah buat Abhi sebagai anak motor untuk melakukan itu.


Tapi Abhi terkejut melihat motor yang melaju di depannya, membawa penumpang yang menodongkan senjatanya tepat ke kepala Abhi.


Abhi menundukkan tubuhnya sama rata dengan jok motor. Dia terkejut karena di belakangnya juga ada peluru yang akan menghantamnya. Untung posisi nya benar benar rendah. Peluru melewati sejengkal di atas tubuhnya.


DOR!


DOR!


Pengendara motor di depannya terkena tembakan dan jatuh terkulai dengan motor bersama penumpangnya yang terus saja melaju ke arah Abhi.


Abhi dengan tangkas memiringkan motornya menghindar.


DOR!


"Sialan," makinya ketika ban belakangnya terkena tembakan hingga meletus.


Mata Abhi bertatapan dengan mata penumpang motor yang jatuh terseret motor temannya. Wajahnya menyeringai kejam sambil menodongkan pistol tepat ke wajah Abhi yang berubah pias.


"MATI!" Teriaknya sambil menarik pelatuk pistolnya.


Tapi sebelum itu terjadi sebuah motor datang menabrak motornya sampai terpental.


DOR!


DOR!


BUK!


"Aarrgghh!"


Tembakannya meleset, mengarah ke atas sebelum pistolnya jatuh akibat tembakan dari orang di depannya. Dan orang itu bersama motor dan temannya terbanting ke aspal jalanan dengan sangat keras.


DOR !


DOR !


DOR !


DOR !


Bunyi tembakan bersahut sahutan. Sementara Abhi terjatuh dengan motor menimpa kakinya. Sakitnya lumayan. Sepasang matanya menangkap senyum Om Andre dan Om Doni yang sudah menyelamatkannya. Yang membuat Abhi kaget, ada kakak kelas yang kapan hari itu dikerjainya nangkring di belakang Om Doni. Cewe itu menatap garang padanya walau wajahnya terlihat pucat karena masih shock.


DAAARRR!

__ADS_1


DAAARRR!


DAAARRR!


Motor dan mobil saling bertubrukan.


Dan yang membuat Abhi terpana, Om Nirwan dan Opanya keluar dari mobil bersama dua laki laki paruh baya lainnya menembak kaki kaki orang yang jatuh dari beberapa motor dan kaca kaca depan mobil mobil yang menguntitnya sejak dari tadi. Layaknya film action sedang live.


Abhi tersenyum bangga melihat kharisma opanya dan teman teman sebayanya. Ngga akan dia lupakan kejadian hari ini. Sangat berkesan di hatinya.


Di belakangnya, Om Vandra dan teman temannya keluar mengamankan orang orang yang ditembak tadi.


"Beres, Pi," ucap Vandra sambil mengikat tangan anak buah Bobby bersama teman temannya.


"Periksa, mereka bawa bom atau ngga," perintah Dewantara-papi Vandra pada Om.Nirwan.


"Siap," balas Om Nirwan sambil menyuruh anak buahnya menggeledah para anak buah Bobby yang sudah ngga berdaya, beserta motor motor dan mobil mobilnya.


"Kamu ngga apa apa?" tanya Andre sambil mengangkat motor yang menimpa kaki Abhi.


"Lumayan, Om," sahutnya sambil meringis.


"Kamu hebat," puji Andre tulus sambil membantu Abhi berdiri. Dia teringat, saat tubuh Abhi sejajar dengan jok motornya, Andre balas menembak orang yang akan menembak Abhi.


Andre terpaksa melakukannya. Telat sedikit, Abhi akan kehilangan nyawanya, karena orang itu mengincar kepala Abhi. Walau pun tembakannya sedikit meleset karena malah mengenai pembawa motornya. Tapi arah tembakan penjahat itu jadi berubah.


Abhi terseyum tipis. Dia tau tadi Om Andre yang menembak saat tubuhnya sejajar dengan jok motornya. Kejadiannya super cepat, Abhi ngga yakin bisa selamat kalo mengulang adegan tadi.


"Clear!" tegas Om Nirwan ketika anak buahnya ngga menemukan satu bom pun.


Vandra dan Dewantara menghampiri Abhi. Bahkan Dewantara memeluk cucu kloningnya erat.


"Opa akan beli stasiun tv buat kamu," katanya membuat yang mendengarnya tertawa. Begitu juga Abhi.


"Dady mu telpon, pasti dia cemas banget," kekeh Opa Dewantara lagi. Vandra ikut tertawa membayangkan wajah santai Valen yang sekarang pasti sangat tegang menunggu kabar dari putra tersayangnya.


Abhi tersenyum sambil mengangkat telpon dadynya.


"Kamu baik baik saja?" seru Valen dengan perasaan cemas dan marah.


"I'm oke, Dad. Ini ada opa, Papa Bang Om Celon, Papa Om Doni, Om Nirwan, Om Andre, Om Vandra dan teman temannya," sahut Abhi ceria.


Terdengar helaan nafas lega Valen.


"Syukurlah. Kamu jadi latihan setelah ini?"


"Engga, Dad, aku mau ngundurin diri. Opa mau beli stasiun tv buat aku."


Ngga ada jawaban.


Sepi.


Dua detik.


Lima detik.


Tujuh detik.


"DADY KAN, PERNAH TAWARIN. TAPI DULU KAMU TOLAK MENTAH MENTAH!"


Nggiiiiing.


Gila. Bisa pecah gendang telinga, batin Abhi kaget.


Abhi spontan menjauhkan hpnya dari telinganya akibat seruan keras dady nya.

__ADS_1


Vandra, dan Opa Dewantara yang sempat mendengar kata kata marah Valen jadi tergelak.


__ADS_2