Me And You

Me And You
Galau


__ADS_3

Aurelia bingung sambil menatap wajah mamanya yang masih saja bersedih sambil memandang foto kakaknya yang dikiranya sudah tiada. Apalagi dengan cara yang mengenaskan.


Aldi menggenggam tangan Aurelia lembut. Besok mereka akan menikah. Aldi sengaja mampir untuk memberitau calon istrinya kalo Arabella-kakaknya ternyata masih hidup.


"Kamu mau melihatnya?" tanya Aldi menawarkan. Walaupun dia agak malas berurusan dengan Arabella. Gadis itu sangat mengerikan dan kejam. Ngga disangka Aurelia adalah adiknya. Mereka begitu berbeda.


"Ngga usah, Kak," tolak Aurelia cukup mengerti. Pikirannya benar benar ngga mengerti dengan langkah yang diambil kakaknya untuk melarikan diri dari penjara. Nggak menyangka kakaknya bisa sekejam itu.


"Kak Aldi dan keluarga masih mau menerima aku?" tanya Aurelia dengan bibir bergetar. Rasanya dia ngga pantas bersanding dengan keluarga Aldi. Tingkah kakaknya akan memberikan nama buruk saja untuk Aldi dan keluarganya di depan relasi relasi mereka.ll


"Kamu ngomong apa, sih. Jangan berpikir yang aneh aneh. Besok kita akan menikah. Semua sudah selesai," kata Aldi sambil merengkuh pundak Aurelia lembut.


"Mungkin tante akan lebih senang kalo tau kakak kamu masih hidup," sambung Aldi lagi.


Aurelia menggeleng. Rasanya mamanya akan makin sedih, apalagi sampai mengetahui kelakuan kakaknya yang hingga kini masih hidup.


Kakaknya menukar nyawanya dengan nyawa orang lain menggunakan cara yang sangat kejam. Membiarkan orang itu mati terpanggang dalam keadaan masih hidup.


"Arabella akan ditempatkan di sel khusus. Bang Ferdi baru tau kalo dia mengalami pemganiyaan di sel lamanya," jelas Aldi membuat Aurelia menatap wajah calon suaminya terkejut.


"Penganiayaan?"


"Iya, maaf ya. Kita juga baru tau," kata Aldi agak menyesal. Saat ini mereka sudah agak menjauh dari kamar mama Aurelia.


Aurelia memejamkan mata, ngga tega membayangkan kakaknya diperlakukan dengan jahat. Memamg kakaknya keterlaluan. Sangat. Tapi tetap aja dia ngga tega membayangkan siksaan yang dialami kakaknya di dalam penjara.


"Nanti psikiter akan memeriksa kejiwaannya," tambah Aldi lagi.


"Makasih ya, Kak. Kakak terlalu baik," kata Aurelia sambil menghapus air matanya yang mengalir.


Aldi hanya mengusap puncak kepala Aurelia lembut.


Aku ngga baik. Aku sudah menodai kamu, batin Aldi menyangkal dalam hati.


"Akhirnya kamu bilang aku baik juga. Bahkan terlalu baik," kekeh Aldi pelan ketika Aurelia mengantarnya ke depan.


Wajah Aurelia yang tadinya sedih jadi bersemu merah. Teringat semua hal menyebalkan yang dilakukan laki laki cuek itu.


Aldi makin terkekeh melihat wajah yang memerah itu sekarang cemberut.


"Ngga boleh diralat," kata Aldi ambil menoyor kepala Aurelia sebelum menjauh.


Senyum Aurelia terkembang manis. Dia terus menatap pumggung Aldi yang terus berjalan tanpa menoleh ke mobilnya.


Aldi menatap Aurel sambil menahan pintu mobilnya.


"Besok harus jadi pengantin yang paling cantik ya," seru Aldi dengan senyum tampannya membuat kepala Aurelia ngga sadar mengangguk.

__ADS_1


Aurelia terus menatap mobil Aldi sampai meninggalkan rumahnya dengan senyum manis terukir di bibirnya. Juga hatinya.


*


*


*


"Hai," sapa Ferdi begitu membuka pintu rawat inap Aldi.


Kini semua mata menatap ke arah mereka berdua. Ada Valen, Sarah, Elka, Emir, Ilham, danLuvi.


Oliv terdiam begitu matanya beradu pandang dengan Abhi.


"Ayo masuk sayang," sambut Sarah sambil menghampiri Oliv membuat Oliv dan Abhi sama sama memutuskan pandangannya.


"Tulang kakinya Abhi geser dikit. Tapi ngga pa pa kok," kata.Sarah sambil membimbing tangan Oliv mendekati Abhi.


Elka dan Emir saling pandang dengan Luvi dan Ilham. Sama sama mengembangkan senyum menggoda. Apalagi melihat Oliv yang salah tingkah dan Abhi yang seperti biasa cuek.


"Calon mantu gue," ucap Valen sambil menepuk bahu Abhi yang hanya menyerimgai membuat yang lain pun tergelak. Kecuali Oliv yang wajahnya langsung merona dan perasaan yang sedikit bete.


Ini serius? batinnya resah.


"Kamu ini," ucap Sarah sambil menepuk punggung Valen walau tetap terkikik.


"Secepatnya..Tapi Gimana Abhi saja yang akan jadi imamnya," kekeh Ferdi ngga memperdulikan besarnya rasa malu putrinya.


"Aku terserah Oliv aja," jawab Abhi diplomatis membuat mereka semua tambah keras tawanya.


Elka hampir ngga percaya mendengarnya. Jika aja ada Vandra. Mungkin mereka akan saling mengerutkan kening melihat kepatuhan Abhi pada Bang Valen.


Bukan hal aneh kalo Abhi menentang keinginan Bang Valen. Dan Vandra pasti akan membelanya. Begitu juga dengan dirinya. Bagi mereka berdua, Abhi lebih dari sekadar ponakan.


Mungkin karena peristiwa ledakan bom itu. Abhi terlihat shock, apalagi Bang Valen sampai harus dioperasi. Dia pun berubah ngga ngeyel lagi dan lebih patuh pada Bang Valen.


Mungkin kedewasaan Abhi mulai matang. Apalagi Elka bisa melihat tatapan bahagia kedua sahabat sejati itu yang akan menjadi besan. Oliv juga sangat cantik, pasti Abhi tergoda juga.


"Sudah kita keluar dulu, biar Abhi dan Oliv bisa berduaan," tukas Valen sambil mengedipkan sebelah matamya pada Abhi yang hanya dibalas dengan senyum tipis.


"Oke-oke," balas Emir sambil merengkuh bahu Elka dan keudanya meninggalkan ruangan Abhi diikuti yang lainnya.


Oliv menggenggam erat lengan papinya begitu akan ikut pergi juga.


"Kenapa?" tanta Ferdi heran, apalagi melihat Oliv menggelengkan kepalanya.


Ferdi memgusap puncak kepala putri manjanya.

__ADS_1


"Abhi ngga gigit, paling ntar dicium," tukas Ferdi cuek.


"Papi," kaget Oliv dengan suara tertahan. Dia butuh maminya saat ini.


Ferdi mengacak acak rambut Oliv sebelum kemudian pergi ke luar dari ruangan rawat inap Abhi.


Begitu pintu ditutup papinya, jantung Oliv berdebar ngga menentu. Kini hanya dia berdua dengan Abhi.


"Jangan takut, gue nggak akan gigit," canda Abhi dengan senyumnya yang makin lebar.


Oliv mendelik kesal.


Emang kamu kucing, sungutnya dalam hati.


"Bisa ambilkan minum?" pinta Abhi setelah tawanya usai.


Tanpa menjawab, Oliv mengambilkan gelas yang berisi air putih dan memberikannya pada Abhi.


Saat menerima gelas,tamgan mereka bersentuhan. Abhi menatap lekat wajah cantik di depannya.


Oliv cepat melepaskan pegangan di gelasnya karena jantungnya semakin ngga terkenldali. Jari jari tangan Abhi terasa lembut


Abhi segera menghabiskan minuman yang tinggal separuh dengan mata terus menatap.Oliv yang semakin dalam menundukkan wajahnya.


"Nih," kata Abhi sambil menyodorkan gelasnya yang sudah kosong.


Oliv menerimanya dengan cepat. Walaupun masih mengenai jari jari tangan Abhi dan terasa hangat di kulitnya.


Gila, serunya dalam hati.


Abhi tersenyum melihat sikap Oliv yang terkesan gugup.


Cewe cewe memang selalu salah tingkah di dekatnya, Abhi menyeringai sombong.


"Kamu mau kita nikah setelah SMA?" tanya Abhi sambil memainkan hpnya.


"Nggak," jawab Oliv ketus membuat Abhi kembali nyengir.


Cewe antik, batinnya tergelak. Cuma Oliv yang selalu ngga ramah dengannya. Tapi entah kenapa, Abhi suka menggodanya. Melihatnya kesal adalah kesenangannya. Seperti candu.


"Kenapa?" tanya Abhi ingin tau. Jangankan dijadikan istri, di jadikan ttm aja cewe cewe di luar sana pasti ngga akan bisa tidur memimpikannya.


Abhi memalingkan wajahnya dari tatapan Oliv untuk menyembunyikan senyum akibat pikiran konyol yang ada di otaknya.


"Aku mau kuliah. Aku belum siap punya anak," ucap Oliv jujur, tapi kemudian wajahnya memerah karena membahas anak. Oliv merasa sangat malu melihat senyum nakal di bibir Abhi.


"Kamu sudah memikirkan kita akan punya anak?" sindirnya geli membuat Oliv ngga tau harus berkata apa apa lagi untuk membantahnya. Dia selalu mati kutu di depan cowo yang suka ditempeli sama cewe cewe ini.

__ADS_1


__ADS_2