
"Aku pulang pake mobilku," tolak Clara ketika dia sudah sampai di parkiran bersama Reksa. Laki laki bermata elang itu sudah menguras habis tenaganya sampai ngga bersisa. Tapi entah mengapa Clara tidak membenci perlakuan yang diterimanya. Dia benar benar sudah ngga waras. Tadi malahan laki laki ini mengurungnya sampai siang.
"Apa kamu ngga lapar lagi?" tanya Reksa ngga acuh. Tadi saat makan makanan yang dipesannya, gadis cantik ini hanya memakan sedikit saja. Padahal Reksa sangat gila mengeksploitasinya.
Clara hanya menggelengkan kepalanya sambil membuka pintu mobilnya. Clara berharap tidak pernah bertemu laki laki ini lagi, walaupun ada sedikit terbersit keinginan untuk tau siapa laki laki yang sudah mengambil mahkotanya dan memakannya tanpa henti.
"Kalo kamu butuh lagi, ini kartu namaku," kata Reksa ringan sambil mengulutkan kartu namanya.
Clarra terdiam, hatinya ragu. Antara ingin dan menolak. Yang anehnya, Clara sama sekali ngga merasa laki laki di depannya ini sedang menghinanya.
"Tidak. Semoga kita ngga bertemu lagi," putus Clara akhirnya menolak sambil masuk ke dalam mobil.
"Jangan pernah ke club kalo sendirian," tegas Reksa sambil menatap Clara tajam. Tapi Clara ngga menggubris, dia pun langsung menutup pintu mobilnya.
Reksa tersenyum miring sambil melangkah ke mobilnya. Tidak banyak lagi mobil yang berada di parkiran. Club ini hanya dibuka saat malam, kecuali kamar vipnya. Mungkin mobil yang diparkir mempunyai kepentingan gila seperti dirinya.
Tanpa setau Clara, Reksa mengikuti mobilnya yang melaju perlahan.
Reksa menghentikan mobilnya ketika melihat mobil Clara memasuki sebuah apartemen mewah yang terletak di jantung kota.
"Kamu siapa sebenarnya?" gumam Reksa sambil meihat mobil Clara yang akhirnya menghilang.
Ketika akan menjalankan mobilnya, sebuah video call dari sepupunya membuat dia menundanya.
"Ada apa Lika?" tanyanya malas. Dia sudah bisa menebak maksud video call dari sepupunya.
"Jangan lupa nanti malam. Mami mu meminta aku mengingatkan," kata Lika dengan wajah jahilnya.
Reksa menghembuskan nafas kasar.
"Bang Emir sudah mengirimkan jas ke rumah. Kak Rasya sudah mendesain khusus untuknu," cerocos Lika lagi.
"Seharusnya Bang Emir lebih memikirkanmu. Bukan aku," sindir Reksa dengan wajah kesal membuat Lika tertawa lepas. Ekspresinya terlihat senang melihat wajah kesal sepupunya.
"Oma sudah punya calon untukku. Dan dia lebih segala gaalnya dari Vandra," kata Lika senang.
"Vandra lagi. Aku bosan mendengarnya," sarkas Reksa kasar. Tapi Lika ngga marah, tetap saja tertawa.
"Alaaa, emang kamu udah move on dari Mia?" Lika balas menyindir di sela tawanya.
"Eh, nona psycho, Mia itu cerita lama," balas Reksa galak. Tapi yang dilihatnya Lika tambah berderai derai tawanya.
__ADS_1
"Nikah dong. Buat anak," ledek.Lika lagi.
Reksa mendengus sebal.
Vero aja belum.nikah. Cuma Vandra aja temannya yang ngebet nikah, batinnya kesal.
"Kata tante, gadis malam ini sesuai kriteria kamu. Cantik dan seksi," ledek Lika masih senang mengganggu.
"Ya udah, aku mau pulang. Capek abis one night stand," tandas Reksa sambil.menutup teloon sebelum sepupunya mengomelinya abis abisan.
Lika masih menetap di Singapura. Bersama oma dan opanya, juga orang tuanya. Sejak kejadian lebih dari sepuluh tahun yang lalu, Lika sudah menjadi model hingga kini. Dia pun sudah sembuh dari bisa mengendalikan agar alter egonya ngga menampakkan diri lagi. Butuh perjuangan yang keras untuk bisa 'normal' lagi.
Reksa sudah sebulan kembali dari Singapura dan menempati rumah om dan tantenya. Kadang kadang Vero menemaninya. Orang tuanya sesekali.menengoknya. Dan malam ini dia akan dikenalkan dengan pilihan orang tuanya yang kesekian.
Reksa menatap aparteman tempat tinggal si cantik itu. Seringai jahat mencuat di wajahnya. Dia pun menelpon asisten pribadinya untuk mencari identitas si cantik itu. Tampa setau gadis itu, Reksa sudah memfoto close up wajahnya yang tertidur. Dengan mengirimkan alamat apartemen dan wajah Clara. Reksa yakin ngga lama lagi dia bisa bertemu dan menghabiskan malam lagi dengan gadis yang sangat cantik.dan wangi itu.
Reksa bukan satu dua kali melakukan ONS, tapi biasanya ngga menimbulkan kesan apa apa. Tapi dengan gadis ini, Reksa ketagihan. Dia ingin mengulang lagi. Lagi dan lagi.
*
*
*
Rosa menatap Fino kesal.
"Apa kamu yakin?" tanyanya ngga minat, walau hatinya masih berharap. Rosa merasa menjadi perempuan yang sangat bego, tetap saja masih menyukai Fino walau pun telah disakiti berulang kali.
"Sangat yakin," tandas Fino tegas. Dia sudah memutuskan. Saran Ando walaupun sempat membuat dirinya ketar ketir akan kehilangan Rosa, telah membuatnya sadar. Sidah lama ada Rosa di dasar hatinya. Sayangnya selama ini tertutupi oleh egonya.
"Apa karena Zaki?" tanya Rosa memancing. Harusnya dari dulu dia pura pura move on, agar laki llaki di depannya cepat sadar kalo dirinya sangat berharga untuk dipertahankan.
"Well, tepat sekali," aku Fino jujur. Fino merasa kecil jika disandingkan dengan Zaki. Bahkan Vandra dulu juga begitu. Bagi mereka, Zaki mengalahkan apa pun pesona yang mereka miliki dengan label cowo baik baik yang disandangnya.
"Kamu ngga pede kalo lawannya Zaki?" tebak Rosa kemudian terkekeh. Melihat reaksi sesaat wajah Fino, dia yakin tebakannya tepat.
"Zaki itu momok bagi kami, yang mendapat label anak nakal," kilah Fino dengan bibir yang melebarkan senyum.
"Kami?" tanya Rosa merasa aneh.
Fino tertawa kecil sebelum menjawab.
__ADS_1
"Maksudnya aku dan Vandra. Vandra juga sempat minder waktu Zaki deketin Mia," jelas Fino membuat bola mata Rosa membesar, beberapa detik kemudian Rosa ngga bisa menahan tawanya. Air matanya sampai mau keluar saking gelinya.
"Rahasiain, bisa ditonjok Vandra gue kalo rahasianya kebongkar," kekeh Fino.
"Ooo, karena Zaki terkenal anak baik baik?" tebak Rosa lagi setelah tawa mereka reda.
"Iya. Cuma itu yang ngga bisa kami lawan," kekeh Fino membarengi tawa Rosa lagi.
"Ngga nyangka, anak itu dijodohkan juga," kekeh Fino.
"Ya," sahut Rosa sambil menatap tajan mata Fino.
"Semoga nasibnya ngga kayak kita. Ngegantung lama ngga jelas," ceplos Rosa membuat Fino balas menatapnya.
"Sekarang aku udah yakin. Kamu tempat aku pulang," kata Fino sungguh sungguh.
Rosa tersenyum tipis.
"Kamu ngga ngejar Clara lagi?" pancing Rosa tetap ngga yakin. Bukan Rosa merasa kalah cantik, tapi akan percuma saja kalo di hati Fino masih ada Clara.
"Enggaklah. Percaya hatiku saja, jangan mataku," tegas Fino membuat Rosa tergelak.
"Alaaa, dasar tukang gombal, mata keranjang," sarkas Rosa kenudian tertawa lagi bersama Fino.
"Maaf, sudah membuat kamu berada dalam ketakpastian," ucap Fino tulus membuat hati Rosa berdesir.
"Aku juga ingin cepat menyusul teman teman kita. Punya bayi," kekeh Fino keras dengan bayangan konyolnya.
"Nikah aja belun, udah mikir punya bayi," sindir Rosa sambil mencibir.
Fino ngga membalas, tapi malah tertawa tergelak gelak.
"Anak kita bakal mirip siapa ya?" tanya Fino dengan pikirannya yang semakin absurd.
"Kenapa sih, dibahas yang belun terjadi," dengus Rosa illfeel.
Fino mengusap kepala Rosa penuh sayang.
"Kamu beneran serius sama aku?" tanya Rosa sambil mengangkat wajahnya. Dia menatap lekat netra Fino. Seolah untuk meyakinkan hatinya kalo laki laki galau di depannya sangat serius padanya.
"Berapa kali kamu tanya topik ini," sahut Fino meledek sambil mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
"Ngga kehitung," tandas gadis yang mengaku memiliki banyak pekerjaan dan sangat sibuk itu agak grogi. Wajahnya pun merona. Rosa langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain karena debaran jantungnya yang ngga menentu.
Fino jadi tertawa lepas mendengarnya. Dia juga senang melihat gadis di depannya tersipu dan salah tingkah.