Me And You

Me And You
Ulah Aldi


__ADS_3

Aldi menatap pesan yang dikirimkan abangnya. Terlalu singkat. Tapi padat dan jelas untuk dimengerti.


Aldi yakin abangnya pasti terlibat dalam suatu urusan yang rumit dan berbahaya.


Temani Luvi dan anak anak gue di rumah.


Aldi segera mengetikkan balasannya.


Oke.


Pesannya sudah tercentang biru. Sudah dibaca dan ngga ada niatan untuk dibalas. Aldi menyeringai.


Kadang dia merasa heran, abangnya dan Kak Luvi bisa cocok dan awet pernikahannya sampai sekarang, dengan sifat yang sangat jauh bertolak belakang. Bang Ilham yang cuek dan pendiam, serta Kak Luvi yang super cerewet.


Aldi pun ngga pernah mendengar keributan besar di rumah mereka. Paling hanya Kak Luvi yang hobi mengomeli abangnya yang suka naroh handuk dan baju kotornya sembarangan. Selebih itu ngga ada.


Kalo mesra? Sangat jarang tertangkap mata mereka. Mereka sepertinya ngga suka mengumbar kemesraan di tenpat umum, kecuali di dalam kamar saat berdua. Hahaha, Aldi tergelak tiba tiba.


Keduanya menjalani pernikahan dengan sangat santai. Hanya setelah punya dua anak peran Aldi dan Eri menjadi sangat dibutuhkan, untuk membantu menjaga keponakan mereka tentunya kalo mereka berdua sedang sibuk dengan bisnis mereka.


Tapi saat ini Eri sedang honeymoon bersama Angelnya. Aldi kembali menarik sudut bibirnya.


Kemudian dia mengambil kunci mobilnya dan bergerak ke luar dari ruangannya.


"Dil, rapikan meja saya. Saya mau pulang dulu," kata Aldi sambil melihat jam tangannya. Masih pukul empat sore.


"Iya Pak," kata Dila patuh.


Hari ini Melia les ngga ya? Tanpa sadar kedua sudut bibir Aldi terangkat sedikit.


Dila terpesona melihat wajah tampan yang biasanya datar itu tiba tiba tersenyum. Tapi Dila jadi kecewa, karena si bos tanpa sepatah kata pun melenggangkan kakinya pergi meninggalkan dirinya yang masih bengong menatap punggung Aldi.


Aldi melajukan motornya dengan kencang. Aldi meninggalkan mobil dan motor balap kesayangannya di kantor. Untuk situasi urgent seperti ini, Aldi akan menggunakan motornya.


Begitu sampai di rumah abangnya, Melia-ponakannya menyambutnya dengan heboh.


"Om," panggil Melia ketika Aldi membuka helmnya.


Aldi tertawa.


"Nih, donat buat kamu sama Iqbal."


Tadi Aldi sempat mampir dulu ke toko donat kesukaan ponakannya.


"Makasih, Om," seru Melia riang sambil menerima paperbag dan berjinjit mencium pipi Aldi sebelum masuk ke dalam rumah.


Aldi tersenyum dibuatnya. Dia pun turun dari motor dan menyusul ponakannya masuk ke dalam rumah.


"Kamu les hari ini?" tanya Aldi begitu melihat buku buku tulis dan buku buku cetaknya ada di meja ruang tamu.


Dalam hati Aldi bersorak senang, berarti guru lesnya ada dong.

__ADS_1


"Iya, Om. Bu Aurelia lagi di dapur. Mami lagi nidurin Iqbal," jelas Melia memberitau.


"Ooo... Kamu makan donatnya dulu. Om haus," kata Aldi sambil membelai lembut rambut ponakannya yang tangannya sibuk membuka kotak donatnya.


"Ada es buah di kulkas, Om," kata Melia lagi lagi memberitaunya membuat Aldi tersenyum lebar.


"Oke," tukasnya sambil melangkah pergi dengan kaki yang terasa sangat ringan ke dapur.


Tepat di batas antara dapur dan ruang nonton, Aldi tersenyum melihat Aurelia yang sibuk menuangkan es buah ke gelas ukuran sedang.


Untuk Melia pasti, tebaknya dalam hati.


Merasa diperhatikan Aurelia mengangkat wajahnya ke arah Aldi. Mata mereka bersitatap sebentar sebelum gadis itu menjatuhkan sendoknya ke lantai hingga terdengar bunyi berdenting.


Aldi tertawa renyah melihatnya. Dia pun berjalan menghampiri Aurelia dan ikutan menunduk dan mrlihat saja ketika gadis itu akan mengambil sendok yang jatuh.


Aldi mengambil sendok itu dari tangan Aurelia yang kini diam terpaku.


"Udah kotor, pake sendok yang lain aja," kata Aldi dengan seringai nakalnya.


Gadis itu ngga menyahut dan buru buru berdiri. Wajahnya merona. Kelihatan sekali kalo Aurelia gugup.


Aldi juga ikut berdiri masih dengan tawanya yang tersisa dan mencuci sendok kotor di bak cucian piring.


Aurelia masih terpaku melihat punggungnya.


Ah, Aurelia mendesah kesal. Padahal sudah beberapa hari ngga pernah bertemu, tapi rasanya masih sama. Padahal Aurelia sudah bertekat untuk pura pura ngga kenal dengan Aldi nantinya kalo ketemu, tapi rasanya susah untuk dipraktekkan.


Jantungnya saja saat ini berdetak sangat keras hingga dadanya terasa sakit. Seberat ini rupanya melupakan orang yang sudah menyakiti hati.


"Kamu belum mual mual, kan?" tanya Aldi memulai kejahilannya.


DEG


Jantung Aurelia kini semakin cepat berdetak. Hal yang sangat ingin dilupakannya. Mengapa laki laki ini mengungkitnya? Padahal dia sudah berusaha mengikhlaskan perbuatan jahatnya.


Hingga saking stresnya beberapa hari ini Aurelia sudah mual mual dan bahkan muntah. Dia pun udah ngga terlalu selera makan karena pikiran takut hamilnya sudah memenuhi isi kepalanya.


Tapi Aurelia terlalu takut melakukan test pack untuk memastikan dia hamil atau engga.


Melihat gadis itu yang kelihatan bingung dan gugup membuat Aldi ngga bisa menahan tawanya. Memang dia jadi jahat sudah mempermainkan anak gadis orang. Tapi hanya ini lah cara Aldi agar bisa berkomunukasi dengan Aurelia.


"Kalo sudah mual mual bilang ya," bisik Aldi di dekat telinganya sambil membawa gelas berisi es buahnya pergi. Padahal es buah itu untuk Aurelia dan Melia-ponakannya sendiri.


Aurelia merasa merinding. Setelah melakukan inhale dan exhale, Aurelia mengambil kembali gelas dan mengisikannya kembali dengan es buah.


"Jangan makan nanas, nanti bisia keguguran," kata Aldi sebelum keluar dari dapur. Dia masih melanjutkan tawanya.


Wajah Aurelia terasa panas. Dia ngga tau kalo Aldi masih memperhatikan tingkahnya. Rasanya malu sekali.


Apa dia bilang? Nanas?

__ADS_1


Aurelia pun memilih buah nanas saja dalam wadah es buah, tapi saat akan memindahkannya ke gelas, dia menjadi ragu.


Dia sudah berdosa dengan melakukan hubungan intim sebelum nikah. Sekarang malah mau menggugurkan calon bayi di dalam perutnya.


Aurelia menggelengkan kepalanya, lalu mengembalikannya ke dalam wadah es buah kembali.


Aldi melihat gerak gerik Aurelia sambil tersenyum miring sebelum melangkahkan kakinya menuju taman belakang.


Apa aku udah sangat jahat?


Matanya menatap istri abngnya yang terlihat gelisah di taman.


Pasti abangnya melakukan pekerjaan yang bahaya, tuduhnya yakin dalan hati.


"Kak," panggil Aldi mengagetkan Luvi yang sedari tadi berkonsentrasi dengan hpnya.


"Eh, kamu udah sampai?" kaget Luvi sambil memaksakan untuk tersenyum.


"Bang Ilham lagi ada urusan apa, Kak?" tanya Aldi sambil duduk di kursi dan menyendokkan buah buah yang dingin itu ke mulutnya.


Segerrr.


Luvi menghembuskan nafasnya perlahan.


"Kamu udah baca berita viral hari ini?"


Aldi terdiam sebelum menjawab juga.


"Tentang keluarga almarhum Om Danutirta yang dibunuh dengan cara diledakkan mobilnya?" tebak Aldi yakin. Di perusahaannya, para karyawam dan karyawati bergosip sejak jam makan siang tentang kejadian yang sangat menghebohkan itu.


"Iya. Ilham ikut membantu bersama Valen, Ferdi, Celon, dan Arven untuk masalah itu," jelas Luvi kemudian melihat hp mya lagi. Suaminya belum membalas pesannya membuat dia resah.


"Ya, Kak?"


Aldi sebenarnya ingin bertanya apa hubungan mereka dengan kejadian mengenaskan itu, tapi dia menunggu dengan sabar Luvi menceritan sesuai urutan ceritanya.


"Tapu aku takut mereka berhadapan dengan mafia yang sangat ahli dan kejam" kata Luvi cemas.


"Bang Ilham dan teman temannya sangat cerdas, Kak. kakak tenang aja," sergah Aldi santai. Dia mengingat kejadian dulu, betapa cepatnya terbongkar rahasia pengirim mawar fiktif untuk Luvi di perusahaannya.


"ilham dan Ferdi salah memberikan prediksi. Kakak takut mereka berhadapan dengan mafia yang sangat pintar," sambung Luvi tetap cemas.


Aldi terdiam. Teringat dulu mereka hampir mati di dor karena ulah Lika. Itu juga karena mafia yang disewa Lika.


"Kakak tau siapa mafia yang sedang mereka lawan?' tanya Aldi setelah meneguk abis sirup buahnya dengan dada berdebar.


"Kakak lagi biat daftar para mafia yang kakak pernah dengar. Ngga tau mafia mana yang mengganggu keluarga almarhum Om Danutirta," kata Luvi dengan pikiran mulai kalut.


"Sangat berbahaya kalo kita masih belum tau mafia mana yang sedang mengincar kita," sambung Luvi agak cemas.


Aldi terdiam, tapi dia setuju dengan pendapat Luvi.

__ADS_1


"Kamu nginap, kan? Kakak juga meminta Aurelia untuk menginap," tegas Luvi membuat Aldi menyembunyikan senyumnya saat mendengarnya.


Dia akan punya banyak waktu untuk mengajak Aurelia mengobrol malam ini. Khususnya untuk menakuti Aurelia dengan kehamilan palsunya.


__ADS_2