
Rosa tersenyum melihat Zaki sudah berdiri di depannya ketika dia membuka pimtu.
Zaki terlihat tampan dengan jasnya biru dongkernya. Dengan dasi kupu kupu, penampilannya sangat rapi dan elegan.
Beda dengan seseorang, batin Rosa tanpa sadar memikirkan Fino.
"Aku tampan, kan," usiknya ketika melihat Rosa yang terkesima melihatnya.
Rosa jadi terkekeh mendengarnya.
"Aku akui, kamu sangat tampan. Masa, sih, belum punya pacar?" ucapnya masih terkekeh terkesan mengejek.
"Nasibku buruk di percintaan," tanggap Zaki ringan. Juga jujur. Walau sudah bisa menerima kenyataan pahit tentang Mia, tapi Zaki masih saja sendiri. Dia masih belum bisa mendapatkan seorang gadis yang membuatnya ingin selalu merindunya. Seperti Mia dulu.
Sampai akhirnya keluarganya memutuskan untuk menjodohkannya dengan seorang dokter bedah yang selalu membuatnya ilfeel. Anak sahabat papanya itu terlalu bebas menurutnya. Sangat jauh dari kriterianya.
Rosa tambah terkekeh mendengarnya. Seorang Zaki yang tampan, kalem, pintar, dan sukses susah mendapatkan jodoh. Entah apa yang ada dalam pikirannya selain kerja dan kerja.
"Tapi kamu masih straight, kan?" ejek Rosa masih terkekeh.
"Of course," tegas Zaki, kemudian melebarkan senyumnya karena mengingat mamanya juga pernah menanyakannya.
"Syukurlah."
"Aku perlu pamit sama papa mama kamu?"
Rosa menggelengkan kepalanya sebelum menjawab.
"Mereka sudah berangkat duluan."
"Ooo, aku membuat putrinya terlambat. Maaf," kekehnya. Begitu juga Rosa, ijut tertawa mendengar candaan Zaki.
Keduanya pun berjalan beriringan dengan saling melemparkan guyonan dan saling tertawa akrab.
Zaki pun dengan gentle membukakan pintu mobil untuk Rosa.
"Aku tersanjung," kekeh Rosa lagi diikuti tawa kecil Zaki.
Rosa merasa nyaman di dekat Zaki. Padahal dulu waktu SMA mereka ngga seakrab ini. Entahlah, apa karena faktor unur atau karena senasib belum kelihatan hilal jodoh nya. Tapi rasanya hati Rosa sedikit terhibur.
Dia melirik hpnya. Cukup banyak panggilan ngga terjawab dari Fino. Bahkan cowo itu juga mengirimkan banyak pesan untuknya, yang sama sekali ngga dibuka apalagi dibaca Rosa. Rosa mau tutup buku tentang Fino. Move on lah.
*
*
*
"Mau ya, dokter Toni, nemenin saya. Saya terpaksa nih harus datang," pinta dokter Misela membujuk.
Keduanya baru saja bertemu saat berbarengan keluar dari ruangan masing masing.
Hari sudah mulai gelap, Toni bermaksud akan langsung tidur begitu sampai di rumah. Dia benar benar lelah. Tapi cegatan dokter Misela menahan langkahnya. Keduanya berjalan beriringan menyusuri koridor rumah sakit.
"Kenapa harus aku, Misel," tolak Toni.
"Sekali ini saja, dokter. Aku, kan, sering bantu kamu mengoperasi pasien kamu,"ungkit Misela agak memaksa.
Dokter Toni menaikkan satu alisnya.
Tumben dokter ini meminta balasan, pikir Toni sambil menatap dokter Misela serius.
"Saya dijodohkan. Tapi saya ngga sreg dengan orangnya. Kaku dan kalem banget. Semoga aja setelah bawa dokter, laki laki itu mundur sendiri," jelas Misela dengan memanyunkan bibirnya.
Toni tertawa mendengarnya. Dalam hati Toni penasaran juga sama laki laki yang dijodohkan dengan dokter di sampingnya ini.
Dokter Misela tipe perempuan energik, mandiri dan sangat menikmati hidup dengan santai. Toni sering ketemu dengan dokter Misela yang sedang nongkrong bersama teman temannya di club club mewah. Apalagi kalo lagi libur. Selain itu dia juga suka bertualang ke gunung, ke pantai. Katanya obat stres karena melihat alat alat bedah setiap hari kerja.
"Kok, bisa dijodohkan?" pancing Toni dengan seringai mengejeknya.
"Orang tua saya takut saya salah pergaulan," ucapnya ringan kemudian tertawa bersama dokter Toni.
"Wajar, sih, dokter suka clubbing," sarkas Toni menyindir.
__ADS_1
"Hanya cowo aja yang boleh clubbing?" Misela balas menyindir dengan tatapan mencela.
Toni tambah keras tawanya menanggapinya. Kena telak dia.
"Kamu minum alkohol?" tanya Toni kepo setelah tawanya reda.
Misela membesarkan matanya.
"Gini gini saya anak soleha, dokter. Masih takut sama dosa."
"Masa?" Toni menatap ngga percaya.
Misela memutar matanya.
"Saya kan dokter, masa mabok. Gimana ntar kalo ada panggilan operasi mendadak," tegasnya.
"Hebat," puji Toni kagum. Bener juga, dokter Misela selalu serius dan dalam posisi sadar kalo mengoperasi pasien.
Ngga pernah dokter Misela membawa pisau dapur sebagai ganti pisau bedah, batin Toni konyol.
"Gimana, dokter mau, kan?" desak Misela setengah memohon setengah memaksa.
"Kamu minta tolong?" Toni menaikkan alisnya, bermaksud mengerjai. Sedikit sombong.
"Iya."
"Katakan dengan indah."
"Dokter pikir saya noah?" responnya kemudian terkikik.
Toni hanya menggeleng gelengkan kepalanya..
"Ada balasannya?" tanya Toni masih jual mahal.
"Kita bisa gantian kalo nanti dokter juga dijodohkan."
Toni kembali tergelak mendengar jawaban cepat Misela. Dia semakin penasaran, siapa laki laki kalem yang katanya dijodohkan dengannya. Melihat gaya Misela, memang kurang imbang kalo dia berjodoh dengan yang kalem.
"Oke, jemput aku jam tujuh ya, dokter. Nanti aku share lok rumahku. Dag dokter, makasih ya," katanya senang sambil berjalan cepat ke mobilnya karena mereka sudah sampai di parkiran. Misela pun masih sempat melambaikan tangannya sebelum memasuki mobil.
Toni hanya mengangguk dan menyeringai. Padahal dia belum bilang setuju. Dasar.
Toni melirik jam tangannya, bibirnya tersenyum miring.
Masih sempat tidur.
*
*
*
"Lo datang juga?" sapa Toni pada Fino. Mereka bertemu saat akan memasuki ballroom hotel.
Toni dan Fino sama saling melirik pasangan yang mereka bawa dan saling tersenyum miring.
"Kamu sama Clara?" tukas Toni duluan sebelum Fino membuka mulut.
Clara hanya tersenyum tipis.
Fino hanya berdehem saja.
"Kamu sama siapa?" tanya Fino balik bertanya. Dia ngga marah, Toni membawa gandengan lain. Adiknya juga belum terlalu jauh berhubungan dengan Toni.
"Kenalkan, ini dokter Misela. Gue diminta nemenin dia karena dia ngga mau datang sendiri," kekeh Toni ketika Misela memukul punggungnya kesal.
"Clara," ucap Clara lembut sambil mengulurkan tangannya.
"Misela," sambut Misela ramah.
"Kita sama, butuh seseorang buat nemenin," tutur Clara kemudian tersenyum membuat Toni melemparkan lirikan ejekannya.
Mau aja Lo dimanfatin terus, batin Toni menista.
__ADS_1
Fino hanya tersenyum miring. Sama sekali ngga tersinggung. Dia pun ngga ada niat membela diri.
"Acara siapa, sih?" tanya Toni saat melihat banyak juga tamu tamu perlente yang datang. Untung tadi dia memakai salah satu koleksi jas terbaiknya. Dia juga lupa menanyakan siapa tuan rumah acara ini.
"Om Akbar, teman papi," sahut Fino.
"Ooo," kata Toni manggut manggut.
Mereka pun masuk ke dalam ballroom.
"Itu Vandra sama Eri," tunjuk Toni dengan dagunya, sambil melambaikan tangannya saat keduanya mengetahui kehadirannya.
Fino melirik Clara yang langsung memasang fokusnya pada Vandra yang berdiri di aamping Eri.
Tapi sorot matanya langsung terpaku melihat dua orang yang baru datang.
"Itu Rosa. Kok, bisa dia sama Zaki?" Toni yang akan melangkah menghampiri Vandra, jadi menghentikan langkahnya dan sorot matanya terfokus pada Rosa dan Zaki.
Spontan Toni melirik Fino yang masih terpaku menatap Rosa.
Rasakan. Bertahun tahun di sia siakan. Apes Lo. Zaki saingan Lo. Lewat pasti. Lo mgga bakal dianggap, hati Toni menyuarakan sumpah serapahnya.
"Dokter, itu orang yang dijodohkan sama aku," bisik Misela lirih.
"Yang mana?" tanya Toni ngga peduli. Dia terus saja mengamati Fino yang kini bagaikan orang cemburu. Wajahnya mengeras. Kedua tangannya mengepal.
"Itu, yang pake jas silver. Yang gandengan sama perempuan bergaun merah marun," terang Misela memberikan keterangan.
Dengan acuh ngga acuh Toni memutar matanya sesuai arah yang ditunjuk Misela. Dia pun tertegun.
"Yang itu?" tanyanya ngga percaya sambil melirik Misela yang berada di sampingnya.
"Iya."
Gila! Takdir apa ini yang sedang di atur?
Saat itu juga, Zaki dan Rosa menatap Toni dan Misela, bergantian dengan Fino dan Clara.
Mata Fino menyorot tajam pada Rosa yang sempat kaget sebentar, kemudian bersikap biasa lagi. Apalagi dengan jelas Rosa melihat Clara di samping Fino.
Sementara Zaki menatap Misela yang juga sedang menyorot padanya.
"Toni, kok, kenal ya sama Misela?" gumam Zaki pelan tapi masih bisa di dengar Rosa.
"Kamu kenal sama perempuan di samping Toni?" tanya Rosa lirih beralih memperhatikan Misela.
"Yang dijodohkan sama aku." Zaki balas berbisik.
"Apa?" kaget Rosa sambil menutup mulutnya agar suara kerasnya ngga keluar.
"Biasa aja," tukas Zaki mengingatkan.
"Iya iya. Kamu aneh Zaki. Cantik gitu. kok, ngga mau," decih Rosa judes.
"Terlalu bebas dia. Suka clubbing."
"Kenapa memangnya? Cuma laki aja yang boleh clubbing?" omel Rosa dengan tatapan horor.
Zakii tertawa. Kesindir juga.
Iya, sih, batinnya.
"Denger ya, kita clubbing buat ngilangin stres. Kan ada juga minuman non alkohol di sana. Kalo laki ya jelas buat mabok lah kalo ke club," sindir Rosa sarkastik, walau nadanya cukup pelan.
"Iya ya," kekeh Zaki atas pembelaan Rosa.
"Katamu dia dokter. Dokter apa?" tanya Rosa kepo.
"Dokter bedah."
"Keren itu. Bego kalo kamu tolak," pungkas Rosa kagum. Kelihatannya lebih muda dari dirinya dan sudah jadi dokter bedah.
Amazing, batin Rosa dan rasanya ingin menjitak kepala Zaki yang menurut dia bego banget.
__ADS_1