Me And You

Me And You
Bobby Pablo atau Bobby Gentho


__ADS_3

"Kamu ingat preman yang di sewa Lika dulu?" tanya Ferdi ketika mereka masih berkumpul di mansion Erika.


Teman temannya menoleh. Menatap serius dengan hati sudah punya dugaan kuat.


Baru saja Ferdi mendapat telpon dari asistennya.


"Omnya Gandos merah, Boby Pablo " jawab Ferdi pelan.


Tadi asistennya sudah memeriksa mayat mayat yang ditemukan di sungai. Mayat mayat itu memiliki tanda kepala tengkorak di bahu kanan mereka.


"Bobby Pablo bukannya di luar negeri? Di Meksiko?" gumam Ilham yang masih bisa di dengar Ferdi.


"Memang aneh kalo dia bisa sampai ke sini," tukas Ferdi.


"Mungkin dia sudah mendengar nasib ponakannya yang sebulan kemaren ditembak mati di nusa kambangan,"lanjut Celon.


"Dia pasti mengincar Lo, Fer. Dia berhasil mempermainkan korps Lo," ucap Valen kemudian ada sedikit kecemasan memikirkan adiknya, Vandra.


"Apa mereka punya hubungan darah. Ngga mungkin," bantah Arven ngga percaya.


Saudara kandung? No!


Saudara tiri? Maybe Yes, Maybe No.


"Kalian pernah terlibat dengan mereka?" tanya Arven lagi yang lost info tentang kejadian beberapa tahun lalu yang menimpa teman temannya.


"Dulu," jawab Valen sambil memperhatikan Anastasia.


Mengapa dia bisa kenal? Apa waktu di luar negeri? batin Valen sibuk berpikir. Ngga nyangka akan terlibat dengan penjahat yang dicari banyak intelijen dunia.


"Vandra dan teman temannya bisa aja diincar," cetus Ilham sambil menatap Valen.


"Mungkin. Tapi lupakan dulu. Kita fokus ke Om Halim," tegas Valen membuat mereka sama mengangguk.


"Om Arif pasti tau tentang Boby Pablo," kata Celon.


"Om Nirwan juga," tambah Valen mengingat dulu Om Nirwan membantu Ilham menyelamatkan Vandra dan teman temannya.


"Orang itu punya seribu wajah. Aku sudah meminta anak buahku mencarinya," kata Ferdi kemudian dia menatap Mikaela yang sedang menatap lukisan bersama Doni.


"Gadis sma itu siapa? Apa dia anggota keluarga mereka juga?"


Teman temannya juga sama melihat ke arah yang ditunjuk.


"Mungkin kenalannya. Erika keturunan terakhir yang tersisa," cetus Celon.


"Siapa tau almarhun Om Danutirta punya anak lagi. Kasus Anastasia cukup heboh di dunia bisnis," kata Valen berpraduga.


"Betul juga," cicit Celon.


"Besok gue akan ke perusahaan Erika. Ada meeting penting. Gue rasa besok Anastasia akan beraksi lagi, karena itu kesempatannya selagi banyak pemegang saham berkumpul," jelas Valen.


"Betul juga. Udah malam, kita mau nginap atau pulang?" tabya Celon sambil melihat jam tangannya.


"Aku nginap," kata Arven.


"Aku juga," ucap Ilham.


"Luvi sendiri dong," sela Valen.


"Aldi udah nemenin."


Valen mengangguk memgerti.


"Gue di sini aja," putus Ferdi.


"Oke, gue pulang. Besok gue juga ikit meeting. Ayo Val," tukas Celon.


"Oke, Lo berdua hati hati ya," kata Celon memperingatkan.


"Oke," pamit Valen kemudian pergi bersama Celon meninggalkan Arven, Ilham dan Ferdi.


" Gue ngerasa akan terjadi sesuatu. Ngga tau apa. Perasaan gue ngga tenang," kata Ferdi sambil melihat kepergian Valen dan Celon.

__ADS_1


Ilham dan Arven ngga menjawab. Ilham melirik cewe SMA tadi udah ngga ada sama Doni. Vandra juga.


Dia juga merasakan hal yang sana seperti yang dirasakan Ferdi. Apalagi jejak Erika benar benar ngga hilang sampai sekarang.


Ilham merasa musuh mereka kali ini sudah berada beberapa langkah di depan dari mereka.


"Ingin aku culik Anastasia," ucap Arven geram.


"Anak buahku yang akan melakukannya," sela Ferdi.


"Terlalu berbahaya," tahan Ilham ketika melihat Ferdi menelpon asisten kepercayaannya.


"Tenang, si Willy bisa diandalkan," ucap Ferdi yakin.


Ilham diam ngga membantah lagi. Biasanya dia yakin dengan gebrakan Ferdi, tapi kali ini Ilham merasa ragu. Ada yang aneh, tapi dia belum tau apa


Tapi Arven menahan tangan Ferdi yang akan menelpon. Dia memperhatikan mimik Ilham yang menurutnya agak aneh. Ngga seperti biasa.


"Kenapa?" tanya Ferdi bingung.


Arven menggelengkan kepalanya.


Ketika mereka bersitatap, Arven mengarahkannya pada Ilham yang masih menatap kepergian Valen dan Celon.


"Bobby Pablo terkenal dengan serangannya yang acak. Kita ngga akan tau, siapa yang akan di serang mereka setelah kita menangkap Anastasia. Gue rasa Anastasia di awasi," kata Ilham setelah beberapa lamanya terdiam. Dia sedang membuka beberapa file kejahatan Bobby Pablo setelah tentunya menjebol keamanan milik intelijen kepolisin Meksiko.


"Bobby Pablo yang asli masih di Meksiko. Ini hanya kejahatan yang menirunya," tambah Ilham lagi.


"Syukurlah. Gue udah serem aja tadi kalo yang asli datang kemari," kekeh Ferdi lega. Paling engga mereka hanya bermasalah dengan penjahat lokal, bukan mafia skala internasional.


"Makanya tadi kan gue udah komen, ngga mungkin mereka punya hubungan darah," tukas Arven balas mengekeh.


"Sialan, udah gue sebarin di mana mana wajah Bobby Pablo yang asli," rutuk Ferdi kemudian membuat Arven tambah tambah tergelak.


"Lo ngga dengar gue ngomong apa tadi," sarkas Arven setelah tawanya usai.


"Nggak. Gue langsung kepikiran penjahat luar negeri itu. Apalagi kita sempat dipermalukan," kata Ferdi jujur.


"Gue mau ralat dulu," katanya sambil menelpon agar dibatalkan penyebaran foto foto penjahat itu.


"Tapi mengapa dia memakai nama Bobby Pablo?" tanya Ferdi heran.


"Mungkin idolanya. Aslinya Bobby Gentho," info Ilham.masih terus menatap hpnya.


"Dia cukup terkenal sebagai mafia narkoba," cetus Ferdi.


"Tapi ngga ada yang tau wajah aslinya. Bagaimana kita mencarinya?" keluh Arven gusar.


"Harus ada orang yang mengikutinya," kata Celon memberi ide.


"Ngga perlu, gue udah menyadap nomer hpnya," kata Ilham datar.


"Lo tau nomer hpnya?" tabya Valen curiga.


"Andre yang kasih tau. Katanya beberapa hari yang lalu, Anastasia menghubunginya."


"Brengsek! Awas aja kalo sampai Andre sampai tergoda lagi. Aku laporin sama Valen. Biar dihajar abis abisan," geram Ferdi kesal.


"Katanya udah diblokir lagi sama Andre. Rasya juga tau," tukas Ilham membela Andre. Gawat kalo Valen tau.


Kenyataannya memang begitu. Andre menceritakan tentang panggilan telpon Anastasia pada Rasya.


"Rasya ngga marah?" tanya Ferdi kepo. Jika itu istrinya, sudah dibanting, 'kali hpnya kalo mantannya masih menghubunginya.


"Rasya itu cool, beda sama Elka yang cuek. Andre tau sendiri resikonya kalo sampai menyakiti Rasya lagi," ucap Ilham ringan. Dulu aja ditinggal Rasya setahun apa dua tahun, Andre susah move on.


Ferdi pun tersenyum lebar. Dia sudah tau kisah percintaan adik adik Valen, karena Valen suka sekali membahas pasangan adik adiknya yang merupakan teman mereka juga.


"Hati hati saja. Dia benar benar memakai trik dari Bobby Pablo yang sebenarnya," tandas Ilham tegas.


Ferdi dan Arven saling pandang dan menganggukkan kepalanya.


"Gue ke tempat kakek nenek gue dulu," kata Arven sambil beranjak pergi.

__ADS_1


Setelah Arven pergi, Fetdi menatap Ilham penuh selidik.


"Apa yang kamu sembunyikan lagi?"


Ilham mengangkat sedikit sudut bibirnya.


"Tolong besok amankan basemen gedung xxx tempat mereka meeting. Jangan menyolok," titah Ilham sambil menutup hpnya.


"Mereka akan menyerang?" tanya Ferdi dengan seringai masamnya.


"Ya!"


*


*


*


Bobby Gentho, bukan Bobby Pablo.


Valen tertawa begitu membaca pesan Ferdi.


"Siapa?" tanya Celon yang memarkirkan motornya di garasi rumah Valen. Dia numpang menginap malam ini.


"Ferdi. Rupanya masih mafia lokal. Bobby Gentho, bukan Bobby Pablo," tawa Valen lagi.


"Sialan. Padahal jantung gue udah berdebar, mikirin kita menghadapi mafia luar itu," kekeh Celon sambil memggelengkan kepalanya.


"Tapi kata Ferdi, dia menggunakan model yang sama dengan kejahatan Bobby Pablo. Berarti Ilham telat lagi," kata Valen mengejek.


"Kejeniusannya berkurang sejak dia menikah dengan Luvi," tambah Celon ikut menghina.


Keduanya tertawa lagi.


"Bang," panggil Vandra membuat tawa keduanya terhenti.


Valen dan Celon menatap Vandra yang sudah berada di depan mereka.


"Ada apa?" tanya Valen, dia tau pasti ada yang mau diomongkan adiknya sampai menunggu kepulangannya.


Soal Abhi? tanyanya dalam hati.


"Cewe SMA yang sama Doni itu adik angkatnya Erika," kata Valen pelan.


Valen dan Celon saling pandang.


"Bukan kandung?" tanya Celon kepo.


"Katanya bukan."


"Mungkin Erika akan menghubunginya kalo dia masih hidup," kata Valen sambil tersenyum tipis.


Masih ada harapan menemukan Erika.


"Tapi cewe itu dalan bahaya kalo identitasnya ketahuan," tambah Celon mengingatkan.


"Doni yang akan menjaganya. Cewe itu salah saru siswinya."


"Oke kalo begitu," kata Valen kemudian melirik Vandra.


"Kamu dan teman temanmu harus hati hati mulai sekarang. Mafia yang kita hadapi masih ada hubungannya dengan Gandos merah," lanjut Valen sambil menepuk bahunya dua kali.


Kemudian dia berjalan pelan meninggalkan Vandra.


Tentu saja Vandra masih ingat siapa Gandos Merah yang sudah ditembak mati sebulan yang lalu bersama anak buahnya yang tertangkap.


Celon pun menepuk bahu Vandra dua kali seperti yang dilakukan Valen.


"Sebaiknya istrimu jangan tau dulu. Dia lagi hamil, kan?"


"Iya, Bang Celon."


Celon tersenyum sebelum berjalan meninggalkan Vandra.

__ADS_1


__ADS_2