Me And You

Me And You
Rencana


__ADS_3

"Kado buat siapa, Pak?" tanya Sandrina mengagetkan Eri.


Eri baru aja membuka bagasi mobil mewahnya untuk menyimpan kado buat kedua ponakannya.


"Eh, Bu Sandrina," ucap Eri sambil tersenyum tipis.


"Ponakan saya ulamg tahun," lanjutnya sambil menutup bagasi mobil.


"Omnya sayang banget dengan ponakannya ya," puji Sandrina membuat Eri terkekeh.


"Umur berapa pak yang ulang tahun. Masih balita, ya, Pak?" tanya Sandrina karena tadi sempat melihat kado yang dibungkus dengan plastik transparan.


"Iya, tiga tahun. Minta lego."


"Boneka beruangnya buat siapa, Pak?" tanya Sandrina kepo.


"Emm, maaf Pak, tadi saya sempat lihat boneka beruang," lanjutnya agak merasa ngga enak. Takut dikira cerewet sama klien idolanya.


"Oh, itu buat kakaknya," jawab Eri santai membuat Sandrina tersenyum.


"Ooo, kakaknya minta kado juga."


"Iya," tawa Eri sambil membayangkan wajah manyun Melia seandainya tidak dibelikan boneka beruang.


Sandrina benar benar terpesona melihat ketampanan kliennya saat tertawa. Eri bukan orang yang suka menampakkan ekspresinya, karena dia cenderung pendiam dan kaku.


Mungkin karena topiknya tentang ponakannya membuat sifat pendiamnya hilang. Kelihatan kalo Eri sangat menyayangi dua ponakannya. Benar benar cute.


Tiba tiba pikiran licik Eri mulai bekerja. Dia akan memanas manasi Angel.


"Bu Sandrina, mau kah menemani saya di pesta ulang tahun ponakan saya?"


Sandrina terkejut, ngga menyangka kalo Eri akan memintanya menemaninya. Ternyata usahanya beberapa bulan ini untuk mendekati Eri, akhirnya membuahkan hasil positif.


"Ten... tentu, Pak. Tapi bisakah Pak Eri memanggil saya Sandrina saja?" ucap Sandrina gugup.


"Tentu. Saya jemput jam tujuh. Tolong share lokasi kamu," kata Eri sambil membuka pintu mobilnya.


"I... iya pak," balas Sandrina malu campur senang.


Dia menatap kepergian mobil Eri sampai menjauh.


Kalo saja Sandrina berada di apartemennya, dia akan melompat lompat saking girangnya.


"Sebaiknya aku cepat membelikan kado. Terus ke butik dan ke salon. Aku harus sangat cantik malam ini," guman Sandrina riang. Setelah menaruh kantong belanjaannya di bagasi, Sandrina kembali ke mall dengan senandung riang di bibirnya.


Pasti akan banyak yang iri jika aku bisa berfoto berdua dengan Pak Eri dan memasangnya menjadi *s*tatusku, angannya dengan bibir terus mengembangkan senyum senamgnya.

__ADS_1


*****


"Maaf, kami datang terlambat."


Beberapa investor penting termasuk Vandra yang datang bersama Mia, dan Vero menoleh ke arah datangnya suara.


Yang membuat hati Vandra gedeg dan Mia ngga nyaman, gadis yang berjalan di sebelah gadis yang baru saja menyapa mereka.


Arabela memamerkan senyum manisnya pada Vandra yang langsung melengos kesal.


"Nona siapakah? Kita menunggu nona Erika," kata salah satu investor muda, Geri.


"Saya kakaknya Erika. Nama saya Anaatasia. Sekarang saya adalah CEO Dewi Kirana. Ini asisten saya, Arabela."


"Oh. jadi anda putri Pak Danutirta yang menghilang sejak kecil? Kenalkan, saya Geri, dari Putra Jaya Grup," kata Geri sambil mengulurkan tangan yang tentu saja disambut hangat Anastasia.


"Benar. Anda tau juga kisahnya" kekeh pelan Anastasia membuat Geri juga ikut terkekeh.


Vandra yang belum mengenal Anastasia tidak begitu mempedulikan. Tapi asistennya sudah membuatnya dan Mia ilfeel.


"Maaf, saya ngga jadi berbisnis dengan anda," kata Vandra sinis. Lalu bangkit berdiri dengan Mia.


"Kenapa Lo Van, kan sama saja dari Dewi Kirana juga?" bisik Vero heran.


"Malas gue," ucap Vandra malas.


"Tuan Vandra, sebentar. Erika dan saya sama saja. Kita satu tim," ucap Anastasia mencoba menahan.


"Tidak akan sama. Saya tidak bisa mempertaruhkan milyaran uang perusahaan untuk CEO yang belum berpengalaman," tandas Vandra membuat seorang lagi invenstor yang agak berumur ikut bangkit dari duduknya. Pak Rasyid, teman papanya.


Anastasia menahan kekesalannya. Secara ngga langsung Vandra meremehkannya di depan tujuh investor yang sangat bonafit dan memiliki integritas tinggi.


"Saya harap masalah pribadi anda tidak dibawa ke urusan kantor, tuan Vandra," kata Anastasia licik.


Vandra mendengus.


"Terserah Anda. Saya mengundurkan diri," ucap Vandra sambil memggandeng lengan Mia.


"Sebenarnya saya akan merahasiakan hubungan kita, tapi karena anda memaksa saya akan mengatakan hubungan kita malam itu," kata Arabela melemparkan racunnya membuat para investor menatap Vandra kaget, termasuk Vero.


Vandra termasuk eksekutif muda yang bersih dari gosip panas. Apalagi dia sudah menikah dan mempunyai istri yang sedang hamil muda.


Nggak mungkin, bantah Vero dalam hati. Dia tau persis secinta apa Vandra dengan Mia.


Vero pun tertawa memecah kesunyian akibat kata kata beracun Arabela yang di luar nalarnya.


Vandra merengkuhkan tangannya ke bahu Mia. Mereka juga sama tersenyum.

__ADS_1


"Nona, anda mengigo. Sebaiknya cepat bangun, ya. Ayo, Van, Mia, kita pergi."


Vero pun melangkah bersama dua teman seangkatannya sambil tertawa tergelak gelak. Seakan akan sedang menonton film komedi yang amat sangat mengocok perut.


Vero menghentikan tawanya tiba tiba dan berbalik menghadap ke Arabela yang menatapnya marah.


"Nona, anda itu bukan tipe teman saya. Saya pun begitu," katanya dengan seringai mengejek.


"Nona Anastasia, saya juga mundur. Proyek ini belum pantas anda menanganinya," kata Vero sambil melambaikan tangannya sebelum pergi. Kali ini tawa mengejeknya kembali menggema di ruangan.


Kepergian Vero dan Vandra juga diikuti Pak Rasyid, teman papanya yang juga cuma menggelengkan kepala.


Seorang gadis cantik yang juga investor pun ikut melangkah pergi. Tapi ketika berada disamping Anastasia, gadis cantik itu pun berhenti dengan senyum sinis tersungging di bibirnya.


"Anda salah memilih asisten, Nona Anastasia," cibirnya sebelum berlalu dengan anggun.


"Stefi, tunggu. Aku juga mundur," seru seorang gadis cantik lainya.


Gadis yang dipanggil Stefi pun menghentikan langkahnya.


"Cepatlah. Aku harus reschedule dengan yang lain," tukasnya ngga sabar.


"Ya," jawabnya malas sambil menghampiri Stefi.


"Geri, kamu masih mau tetap di situ?" gadis itu memandang Geri dengan galak.


Geri mengaruk kepalanya yang ngga gatal.


"Oke, aku mundur juga. Maaf nona," kata Geri sambil mengejar gadis cantik yang membentaknya.


"Tunggu Laura," seru Geri karena melihat temannya sudah berada di depannya.


"Kamu lambat seperti siput," hinanya sambil melenggangkan kakinya di samping Stefi.


Geri hanya tertawa mendengarnya.


Begitu juga investor lainnya. Bahkan tanpa pamit, langsung saja melewati Anastasia dan Arabela.


Begitu ruangan hanya tersisa dirinya, bersama Arabela dan pengacaranya, Anastasia menghentakkan kakinya kesal. dia melototi Arabela.


"Kau kupecat!" serunya marah.


"Ngga bisa seenaknya begitu, dong. Anda belum membayarku juga," protes Arabela juga marah.


Anastasia tertawa sinis.


"Kita tidak terikat kontrak. Dasar bodoh, ku kira bisa memanfaatkanmu," kata Ananstasia langsung pergi begitu saja bersama pengacaranya meninggalkan Arabela yang menatapnya marah.

__ADS_1


Bodoh. Harusnya aku bermain cantik, gerutu Arabela dalam hati.


__ADS_2