Me And You

Me And You
Menemani Abhi Audisi


__ADS_3

Vandra tersenyum miring membaca pesan dari Doni tentang keponakannya.


"Kamu mau kemana sebenarnya, Bhi?" gumam Vandra sambil menggelengkan kepalanya.


"Hai, ada apa?" tanya Mia sambil meletakkan secamgkir kopi panas untuk suami selaku bosnya di kantor.


"Abhi," kata Vandra sambil menunjukkan pesan dari Doni.


Mia tertawa kecil.


"Kamu bisa menduga kemana dia pergi?" tanya Vandra dengan seringai tipismya.


"Aku mendengar ada audisi nyanyi di gedung serba guna."


"Perlu kita ke sana?" tanya Vandra setelah menyesap kopinya.


Mia tersenyum manis.


"Boleh juga," ucap Mia ringan. Pekejaan mereka juga udah selesai. Melihat Abhi bisa menjadi obat penawar rasa bosan.


"Oke," sahut Vandra setelah meneguk habis kopinya, kemudian mengambil kunci mobilnya di atas meja.


"Ayo, my lady," kata Vandra sambil merengkuh bahu Mia membuat istrinya tersenyum senang.


Keduanya pun melangkah pergi dengan senyum yang terkembang di bibir.


Para pegawainya menunduk hormat melepas kepergian bos dan istrinya yang merangkap jadi sekretaris.


Vandra pun membukakan pintu mobil untuk Mia seperti biasa membuat istrinya selalu merasa tersanjung.


Akhirnya mobil itu melaju perlahan membelah kemacetan ke arah gedung serba guna.


"Rame sekali yang ikut," komen Vandra sambil menggelengkan kepala ketika mencari tempat parkiran.


Kenapa Abhi mau bersusah payah jika ingin menjadi penyanyi. Padahal tinggal katakan padanya, maka Vandra akan membeli perusahaan rekaman dan langsung mengorbitkan ponakannya itu.


Tapi itulah Abhi. Dia merasa lebih dihargai kalo mendapat sesuatu melalui kerja kerasnya sendiri.


"Selalu rame Vand. Mereka semua ingin mengejar mimpi mereka," kata Mia sambil menatap para peserra audisi yang ngga merasa lelah.


"Ya. Semua orang punya mimpi," lanjut Mia kemudian tersenyum pada Vandra.


"Kalo mimpi ku udah tercapai," jawab Vandra setelah menemukan tempat parkir yang ngga jauh dari area gedung serba guna.


"Apa?" tanya Mia sambil melepaskan safe belt nya.


"Kamu," jawab Vandra sambil mengacak rambut istrinya dengan senyum menggemaskan.


Wajah Mia merona dengan jantung berdebar keras. Walaupun sudah bertahun tahun, tapi debarannya di jantungnya tetap sama saat Vandra merayunya.


"Yuk, kita temukan ponakan yang suka bolos itu," kata Vandra sambil membuka pintu mobil dan tawa mengikik Mia pun menguadara.


Ngga tau kenapa, Abhi hobi banget bolos. Tapi dadynya ngga pernah memarahinya. Seakan membiarkan kelakuannya.


Valen dan Sandra juga sangat sibuk dengan proyek proyek di luar negeri. Kalo pulamg sebulan sekali, paling hanya tiga hari di rumah.


Jadilah mami dan papi yang sibuk mengurusi cucu cucunya yang sudah beranjak dewasa.


Karena Vandra sekarang di rumah mami dan papi, dia pun senang senang aja diminta mengawasi Abhi.


"Susah nyari Abh, Van. Terlalu banyak yang berkerumun," kata Mia sambil celingak celinguk mencari keponakannya. Harusnya ngga terlalu sulit, karena postur tubuhnya yang sangat tinggi pasti lebih mudah terlihat. Tapi ini terlalu rame.

__ADS_1


"Tenang, aku pasang gps di hpnya," kata Vandra sambil mengecek hp keponakannya.


Mia agak kaget mendengarnya, soalnya dia baru tau.


"Abhi tau nggak?" tanya Mia sangsi. Pasti udah dibuang tuh pelacak sama Abhi, karena dia sangat pintar.


"Ya taulah."


"Lho? Terus masih ada gpsnya?" tanya Mia tambah penasaran.


"Masih."


Ngga lama kemudian terlihat keberadaan Abhi.


"Kok dia ngga marah?" tanya Mia tambah kepo.


Vandra tergelak melihat ekspresi menggemaskan Mia kalo udah penasaran.


"Kalo sama aku, dia oke oke aja," sahut Vandra ringan membuat Mia tertawa kecil.


"Dia di sana," kata Vandra meraih lengan Mia untuk di genggamnya dan melangkah ke arah yang ditunjukkan gps.


"Oke."


Abhi memang sangat sayang dengan Vandra, dibandingkan Valen, dadynya. Bahkan Emir yang hanya ipar juga sangat dihargai Abhi. Mungkin karena kedua omnya itu selalu mendukung apa yang dia lakukan.


Bang Valen juga mendukung kelakuan absurdnya. Kecuali satu, ngga boleh punya pacar dulu. Sedangkan dua omnya malah membebaskannya.


Mia jadi ngerti kenapa bang Valen suka dongkol dengan Vandra dan Emir yang selalu disanjung Abhi. Apalagi sekarang dia lagi hamil. Tentu Mia ingin anaknya mengidolakannya dan Vandra.


Terlihat Abhi sedang serius dengan hpnya. Headset pun tercantel di telinganya. Mia dapat melihat pandangan kagum cewe cewe di situ pada ketampanan ponakannya.


"Eh, Om Vandra, Tante Mia," sambutnya cengengesan.


Vandra menarik salah satu kursi plastik kosong untuk istrinya.


"Duduk yang," ucap Vandra memberi perintah.


"Makasih," sahut Mia sambil mendudukkan bokongnya.


Vandra tetap berdiri di samping Mia sambil menatap ponakannya yang masih cengengesan.


Mia dapat melihat cewe cewe seusia ponakannya, bahkan yang lebih dewasa pun banyak yang melirik bahkan menatap terang terangan pada keduanya.


"Ngga bawa baju ganti?" tanya Vandra yang melihat Abhi masih memakai seragam. Walaupun masih keliatan cukup bersih.


"Lupa Om," jawabnya tetap cengengesan.


Tanpa banyak kata, Abhi menghubungi asistennya, Damar.


"Iya Pak Bos?" tanya Damar lewat sambungan telpon.


"Bentar. Bhi, kamu mau kaos atau kemeja?" tanya Vandra sambil berpaling pada Abhi.


"Kaos oblong aja Om."


"Oke. Damar, kaos oblong sama celana panjang. Kamu tau kan ukuran Abhi?"


"Siap Pak Bos," kata Danar patuh.


"Antarkan ke gedung serba guna."

__ADS_1


"Oke Pak Bos."


"Makasih Om," kata Abhi senang. Pas bolos tadi ngga kepikiran mampir ke toko baju. Yang ada di otaknya agar cepat sampai aja. Untung Omnya menemukannya di sini.


"Sama sama."


"Udah tau mau nyanyi lagu apa?"


"Udah Om."


"Kamu nanti pake gitar?"


"Iya Om."


"Masih lama antriannya?"


"Lumayan, sih Om. Mungkin sejam lagi. Tadi Abhi minta dady nyuruh asistennya buat daftarin," kata Abhi ringan.


Fix, abangnya tau kalo anaknya bolos, batin Vandra geli. Mia juga tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Oke, lakukan yang terbaik," pesan Vandra.


"Tentu, dong, Om," sahut Abhi bersemangat.


Abhi kembali memakai headsetnya.


"Kamu udah lapar?" tanya Vandra sambil melihat Mia.


"Belum. Tadi, kan, udah makan."


"Kalo lapar bilang," kata Vandra sambil memgusap perut istrinya lembut.


"Iya."


"Om mau nungguin Abhi? Kasihan nanti tante Mia," tanya Abhi sambil menatap segan pada tantenya. Tantenya kan lagi hamil.


"Nyantai, Bhi," tanggap Mia ringan tanpa beban.


"Takut tante kecapean aja."


"Tantemu kuat. Bakal adikmu juga kuat. Jangan khawatir," imbuh Vandra cepat.


"Abhi ngga sabar nunggu dia lahir," ucap Abhi dengan mata berbinar.


"Masih cukup lama. Lima bulan lagi lah," info Vandra santai.


"Oooh."


Beberapa detik kemudian.


"Tadi Abhi sedikit ngerjain Om Doni," kata Abhi dengan wajah isengnya.


Vandra yang udah paham dengan kelakuan ponakannya hanya tertawa. Pasti dia gunakan cara yang ngga biasa agar bisa lepas dari cekalan Doni.


"Siap siap kamu masuk ruang bp," tukas Vandra masih dalam tawanya.


Mia pun ikut tertawa. Dengan kejahilan Abhi yang luar biasa, Doni pasti sudah sangat maklum.


Abhi hanya melebarkan cengirannya.


Pasti Omnya sudah sangat jelas melihat si merah atas bawah itu, gelaknya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2