
Sarah segera membuka pimtu. Di dalam ada mertuanya juga Vandra dan istrinya. Vandra juga mengalami lecet lecet di tangannya. Emir dan Elka pun ada di sana.
Sarah berjalan cepat menghampiri suaminya yang masih terlelap karena obat bius. Ini pertama kalinya Valen di rawat di rumah sakit.
Abhi dan si kembar pun menghampiri dadynya. Hati mereka tergetar, karena baru kali ini melihat dady mereka dalam keadaan lemah.
"Operasinya lancar, Mi?" tanya Sarah sambil mendekati Valen.
"Lancar, jangan khawatir. Bentar lagi dia bangun," kata Papi Dewantara dengan wajah teduhnya.
Anak pertamanya memang sangat kuat. Tapi cukup membuat dia khawatir. Papi Dewantara meminta jadwal hari ini dikosongkan. Untungnya kolega bisnisnya cukup mengerti, karena peristiwa ledakan itu cukup viral dan jadi topik utama di mana mana.
Sarah mengusap puncak kepala suaminya lembut seakan ngga ingin membangunkannya.
"Dia memang nakal ya, Sarah. Malah minta kamu nemenin mami belanja lama lama," ucap mami Sonya dengan wajah terharunya.
"Iya, Mi," ucap Sarah kemudian berusaha tersenyum debgan hati resah. Dia akan tenang sebelum Valen membuka matanya.
Abhi memegang pundak maminya lembut.
"Dady itu kuat, Mi. Jangan cemas," katanya menguatkan hati maminya.
Sarah balas menggenggam tangan putra pertamanya.
"Iya, sayang," ucap Sarah sambil menghapus air matanya.
Emir mentowel bahu Elka yang masih fokus menatap Valen.
"Aku akan menemui Ilham," kata Emir pada Elka.
"Aku ikut," pinta Elka sambil menarik tangan Emir.
"Oke."
Keduanya pun keluar menemui Ilham, dan kebetulan Ferdi juga masih ada di tempat yang tadi.
Emir dan Elka benar benar ngga tau soal ini. Valen dan Vandra telah merahasiakannya dari mereka berdua. Bahkan Ilham dan Luvi pun ngga memberitaunya.
"Oliv, tolong bawa Melia ke kantin. Mungkin Melia lapar," kata Olin setelah mendapat isyarat dari Luvi waktu melihat kedatangan Emir dan Elka.
"Baik, Ma. Ayo Mel, kita makan bakso," ucap Oliv sambil menggandeng Melia. Melia pun cukup akrab karena keluarga mereka sering berkumpul bersama.
"Iya, Kak. Aku juga mau. Dag Mi, Pi," kata Melia penuh semangat.
""Hati hati sayang," kata Luvi pelan karena Iqbal masih betah tidur di pangkuannya.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Emir to the point.
Ngga biasanya mereka sampai babak belur begini. Bahkan Valen sampai dioperasi.
"Diluar perkiraan," tukas Ilham.
"Terlalu meremehkan perempuan," cela Luvi tajam.
Ferdi dan Ilham tertawa kecil, sedangkan Olin ikut menatap sinis kedua laki laki sok tau itu.
__ADS_1
"Valen, Celon, Vandra, Toni, Doni, Aldi, salah mengantisipasi Anastasia," kata Ferdi menjelaskan sambil mengabsen satu persatu yang menunggu di ruang meeting.
"Ngga nyangka kalo Anastasia membawa bom," kata Ilham.
"Tapi aku rasa Anastasia pun ngga tau kalo di sakunya ada bom," tambah ilham lagi menduga. Karena gadis itu terlihat bingung saat melihat bomnya.
"Kata Om Nirwan, Bobby berhasil melarikan diri. Aku sudah menetapkannya sebagai dpo," jelas Ferdi membuat Luvi mendelik.
"Ini bahaya," sentak Luvi sambil menatap mereka tajam.
"Iya, sangat bahaya," tambah Ilham sambil menggenggam jari jari Luvi lembut, berusaha menenangkannya.
"Sasarannya bisa jadi kita," kata Ferdi serius.
"Betul."
"Kenapa bisa gagal ya, Om Nirwan?" desis Olin ngga percaya. Bahkan ada Om Arif juga.
"Karena ledakan bom itu membuat seluruh lantai bergetar. Bobby menjatuhkan dirinya dari lantai tiga. Om Nirwan sempat menembak kakinya," terang Ferdi menjelaskan lagi.
"Beberapa anak buahnya juga berloncatan ke bawah. Satu meninggal di tempat," tambah Ferdi lagi.
"Ando tadi yang mengabarkan. Dia dan teman temannya membantu Om Nirwan dan Om Arif," sambung Ferdi lagi.
Emir mengusap wajahnya.
"Jangan cemas, orang orangku juga sudah kukerahkan untuk mencarinya," kata Ilham walau ngga yakin.
"Bukan begitu, sayang. Hanya sekarang posisi kita dan keluarga kita ngga tenang. Bisa aja kita menjadi target balas dendam," tutur Luvi sambil menatap Ilham dalam dan khawatir. Sekarang mereka sudah memiliki anak anak, mereka seharusnya ngga bisa sebebas dulu. Ada yang harus mereka lebih lindungi. Keluarga.
"Aku mengerti."
"Siapa?" tanya Emir.
"Rasya," ucap Elka pelan.
"Dia menanyakan keadaan Valen," lanjut Elka lagi.
Elka pun mengetikkan pesan untuk Rasya, kalo Valen ngga apa apa.
"Dendam Anastasia berawal dari kebenciannya pada Andre. Berlanjut pada Erika. Akhirnya dia pun tiada dengan cara yang tragis," kata Ferdi kemudian menghembuskan nafas perlahan.
"Kata Rasya, hampir tiap tahun Anastasia mengirimkan hadiah ulang tahun buat si kembar, Fila dan Cila. Selalu ada ucapan hadiah dari mami. Dia merasa si kembar anaknya," cerita Elka pelan.
Elka ngga tau, harus senang atau sedih mengetahui Anastasia sudah tiada. Tapi ada sedikit kelegaan karena gangguan dari Ananstasia untuk Rasya sudah berakhir.
"Tapi kalian yakin Anastasia sudah meninggal?" tanya Elka memastikan.
"Aku melihat sendiri bom itu mengenainya. Valen pun shock, ngga nyangka lemparannya mengenai Anastasia," jelas Ilham dengan perasaan ngeri.
Mereka terdiam. Masalah belum berakhir.
"Om Nirwan dan Om Arif juga sudah mengerahkan orang orang untuk mencari Bobby. Jangan khawatir. Banyak orang yang mencarinya. Hanya kita harus lebih waspada," ucap Ferdi tegas.
"Tentu, selagi Bobby berkeliaran di luar, kita akan menjadi targetnya," kata Emir membuat mereka terdiam. Ada rasa was was dan ngga tenang melingkupi hati mereka. Biasanya mereka selalu bisa menuntaskan setiap masalah secara bersama sama. Tapi kini jauh berbeda.
__ADS_1
*
*
*
Bobby menatap sisa sisa anak buahnya yang ngga nyampe sepuluh orang. Hampir semuanya babak belur. Termasuk dirinya. Untung mereka bisa melarikan diri. Saat ini mereka berada di salah satu klinik untuk mengobati dirinya dan anak buahnya. Tentunya dengan memaksa dokter dan perawat klinik dengan ancaman.
Mata Bobby berkaca kaca. Ngga disangkanya Anastasianya telah tiada. Mengapa bom bisa mengenai dirinya?
Bagi Bobby, Anastasia yang sekarang sangat spesial. Dia merasa menjadi sangat berkelas karena telah meniduri Anastasia. Tapi sekarang gadis seksi itu sudah ngga ada lagi di dunia.
Setelah ini Bobby berjanji akan mencari musuh musuh Anastasia. Juga musuh musuhnya. Banyak anak buahnya yang sudah ditangkap. Bahkan juga ada yang mati.
Dia terlalu menyepelekan lawan. Bom bom yang dia pasang di tiap lantai ngga meledak. Tapi bom yang dia taroh diam diam di saku jas Anastasia yang meledak.
Pantas keponakannya bisa dibasmi dengan mudah. Jika saja bom yang dibawa Anastasia ngga meledak, pasti nasibnya akan sama seperti ponakannya, Gandos merah. Dibasmi sampai ke akar akarnya.
"Bos, ada satu orang yang dirawat di rumah sakit," lapor salah satu anak buahnya.
"Siapa namanya?" tanya Bobby tertarik.
"Valen Dewantara," lapor anak buahnya lagi.
"Kamu tau dari mana?" tanya Bobby penasaran. Padahal.dia belum nyuruh anak buahnya melakukan apa pun. Mereka masih menyembunyikan diri di klinik yang agak jauh dari luar kota.
'Ada di TV, bos," kata anak buahnya lagi yang sambil menunjukkan tv yabg berada di ruangan mereka.
Bobby menyeringai.
"Kita biarkan mereka menikmati hari hari mereka beberapa hari ini. Setelah itu kita habisi," tukasnya penuh dendam
Vandra Dewantara, Erika Danutirta, kalian harus membayar semua ini! batinnya dalam hati.
*
*
*
"Kamu kenapa? Ada yang dipikirkan?" tanya Doni setelah sampai di teras rumah Mikaela. Dia mengantar gadis itu pulang setelah keadaan semuanya aman.
Mikaela masih terlihat shock. Gadis itu masih saja diam.
"Saya .... saya takut," katanya jujur.
Doni tersenyum.
"Semua sudah berakhir," kata Doni dengan suara meyakinkan agar siswanya menjadi tenang.
"Mereka sudah tertangkap semua?" tanya Mikaela dengan suara bergetar. Masih terbayang di kepalanya saat bom itu di lempar ke arah mereka. Mikaela memejamkan mata, pasrah kalo memang harus meninggal saat itu juga. Tapi dia merasa kaget karena kepseknya memeluknya dan mendorongnya untuk tiarap.
Bunyi ledakan itu sungguh memekakkan telinga, getarannya menakutkan. Dan Mikaela bersyukur, mereka semua selamat dari ledakan yang mengerikan. Sampai sekarang, tubuhnya masih gemetar. Sejujurnya dia takut. Sangat takut.
"Pak, mereka sudah ditangkap semua, kan?" Mikaela mengulang lagi pertanyaannya dengan ngga sabar karena kepseknya belum juga menjawabnya. Dia sangat menuntut jawaban untuk meredakan ketakutannya.
__ADS_1
Doni tersenyum lembut.
"Udah," dustanya. Doni hanya ngga mau siswinya tambah trauma ketakutan. Melihat tubuhnya yang gemetaran saja sudah membuat Doni merasa bersalah telah melibatkannya.