Me And You

Me And You
Persiapan Misi


__ADS_3

"Aldi, bisakah kamu membantu abangmu? Vandra mungkin juga ada di sana," ucap Luvi pelan di dalam kamar Aldi pagi ini.


"Kakak merasa ngga tenang," tambah Luvi lagi.


"Apakah keadaannya sangat genting?" tanya Aldi mulai serius. Kalo Vandra ikut ke sana, berarti peristiwa hari ini cukup berbahaya. Bahkan Kak Luvi meragukan kemampuan abangnya, dan teman teman abangnya.


"Begitulah. Pagi ini saja tim gegana sudah menemukan tiga bom di gedung itu. Padahal mereka bersama investor akan meeting di sana," jelas Luvi ngga tenang.


Dia meminta pemgawalnya untuk mencari tau apa saja yang terjadi di gedung yang dua jam lagi akan dilakukan meeting penting.


Apalagi menyangkut kematian tragis keluarga Arwana Grup. Grup yang sangat berkilau sampai di negara negara Asia, bahkan juga punya beberapa perusahaan di negara Eropa.


Aldi terdiam. Tapi untuk membuat tenang istri abangnya, dia menganggukkan kepala.


"Terima kasih, jangan lupa pake rompi anti pelurumu dan kamu pasti sudah membawa pistol kam?" tanta Luvi lagi memgingatkan.


Sebetulnya dia lebih suka berangkat sendiri. Tapi Ilham memintanya menunggu anak anak mereka.


"Sudah, Kak," kata Aldi tenang.


"Tetap hati hati. Kamu belum nikah soalnya," canda Luvi membuat Aldi tertawa kecil.


"Sarapan dulu," kata Luvi mengingatkan sambil melanglah keluar dari kamarnya. Nggak lama setelah Luvi pergi, Vandra menelponnya. Dan benar saja, Vandra memintanya ikut. Bahkan Toni juga udah setuju. Begitu juga Fino, Irfan, dan Igo. Ando, Oka, Bagas, dan Vero akan menyusul. Sedangkan Doni lagi susah dihubungi karena hpnya yang ngga aktif.


Ketika Aldi akan ke ruang makan untuk sarapa pan, dia hampir bertabrakan dengan Aurelia yang baru saja keluar dari kamar Melia.


"Apa hasilnya? Udah di test kan?" tanya Aldi berbisik.


Aurelia menggelengkan kepalanya. Dia masih terlalu takut untuk melakukannya. Sementara pagi ini wajahnya agak pucat.


Aldi menghela nafas. Dia merasa bersalah juga karena telah membuat kacau hati dan pikiran Aurelia. Apalagi dia bentar lagi akan terlibat misi yang menggunakan senjata.


"Pil yang kamu minum kemarin memang pil anti hamil. Aku minta maaf sudah berbohong," kata Aldi dengan wajah jahilnya.


Mata Aurelia agak membesar karena kaget.


"Tapi kata temanku yang dokter, reaksi obat berbeda beda pada tiap orang. Melihat reaksi kamu, aku jadi curiga, kalo obat itu ngga ngaruh di kamu, atau kamu kena asam lambung," jelas Aldi dengan tatapan seriusnya. Karena dia memang serius saat ini.


Aurelia terdiam, ngga jadi marah karena telah dibohongin Aldi, justru hatinya tambah takut dengan fakta yang diungkapkan laki laki ini.


Padahal dia ngga takut membohongi Arabella soal penjualan rumah. Tapi ini menyamgkut nama baik keluarga mereka. Arabella sudah menghancurkannya. Tapi dia ngga mau kalo dia juga sama dengan Arabella. Dia ngga mau menyakiti hati mamanya. Susah payah dia mempertahankan kehormatannya saat di luar negeri, malah gagal di negeri sendiri.


"Test lah biar kamu dan aku juga tau hasilnya. Atau aku akan memaksamu," kata Aldi setengah mengancam.


"Test apa Om?" tanya Melia yang berjalan mendekati mereka.


Wajah Aurelia terlihat terkejut dan panik mengira siswinya sudah mendengarnya. Tapi Aldi hanya tertawa santai.


"Kamu yang ditest, udah lancar baca pa belum setelah les privat dengan Bu Aurelia."


"Udah dong, Om," kata Melia meyakinkan.


"Oke, kapan bisa Om test kamu?" tanya Aldi sambil mengedipkan sebelah matanya pada Aurelia yang sudah bisa bernafas lega.


"Kapan aja Om," tantang Aldi.


"Oke," kata Aldi sambil menggandeng tangan ponakannya ke ruang makan di lantai bawah.


Aurelia mengikuti dari belakang. Dia memperhatikan sikap hangat Aldi pada Melia dengan bibir tersenyum.

__ADS_1


Teringat akan kata kata Aldi akan tetap menikahinya hamil atau pun engga, membuat dadanya berdebar.


Dari awal bertemu dia sudah tertarik, tapi tentu saja Aurelia ngga berpikir akan berlanjut jauh. Dia pikir hanya ketertarikan biasa karena melihat wajah tampan dengan mata tajam yang terus menyorot padanya waktu akan membeli soto buat ibunya.


Ngga nyangka kalo laki laki itu akan membantunya membayar biaya operasi ibunya, bahkan memberikan deposito jaminn ke.rumah sakit. Ngga nyangka kalo laki laki ini berteman dengan Bang Eri. Dan ngga nyangka, dia pun waktu itu terbius hingga menyerahkan kehormatannya begitu saja. Yang terakhir paling disesalinya.


*


*


*


Erika membuka matanya. Dia meraba tangannya. Ternyata selang infus yang sempat dia lihat semalam sudah dicabut. Dia merasa tubuhnya sudah lebih baik.


Erika menatap kamar yang sepi. Kembali terbayang wajah kedua kakek dan neneknya membuat dia memejamkan mata. Air matanya bergulir lagi.


CEKLEK


"Kakak sudah bangun?" ucap Mikaela dengan senyum manis di wajahnya.


Senang melihat wajah kakak angkatnya sudah tidak pucat lagi.


"Jangan menangis lagi, Kak," katanya pelan ketika mrlihat Erika menghapus air matanya.


"Terimakasih ya. Maaf kakak membahayakan kamu," ucap Erika sambil bangkit dari tidurnya.


"Kakak jangan khawatir. Aku bisa menjaga diriku sendiri," ucap Mikaela lembut.


Erika tersenyum sambil mengggenggan tangan Mikaela. Matanya melirik jam, membuat dia melepaskan genggaman buru buru dan bermaksud berdiri.


"Kakak mau kemana?" tanya Mikaela kaget melihat Erika yang nampak terburu buru.


"Kakak pinjam baju kamu ya. Sama underwear juga. Kepaksa," kata Erika agak malu dengan bibir tersenyum tipis.


"Kakak harus menemani Om Halim meeting. Kakak takut Om Halim akan kenapa kenapa," katanya agak cemas.


Mikaela sadar, kalo kemauan Erika ngga bisa ditahannya.


"Oke, tapi aku ikut, ya kak. Juga temanku," kata Mikaela sambil ikut berdiri.


"Teman?" Kening Erika agak berkerut.


"Iya," jawab Mikaela tenang.


"Tapi ini bahaya," tolak Erika sambil menggelengkan kepalanya.


"Ngga apa, kak. Kakak ngga boleh pergi sendiri," ucap Mikaela bersikeras.


Erika menghembuskan nafas kasar.


"Baiklah," katanya terpaksa. Hatinya tetap berat, karena rasa takut kehilangan yang besar.


Mikaela menunggu kakak angkatnya bersiap siap


TOK TOK TOK


Mikaela beranjak membuka pintu kamar.


Doni mengulurkan dua buah paper bag.

__ADS_1


"Kenakan ini ya, kalian berdua," kata Doni kemudian berbalik pergi.


Mikaela menatap isi paper bag dan membongkar salah satunya.


Kemeje biru muda lengan pendek


Kok biru dongker


Kemben anti peluru?


Wig?


Maksudnya apa? Menyamar?


Selagi Mikaela berpikur, pintu kamar mandi terbuka.


"Apa itu?" tanya Erika ketika mendekat dan mengamati barang barang yang berada di tempat tidur.


"Temanku memberikan ini," kata Mikaela sambil memberikan papeo bag yang belum dia buak isinya.


Tanpa berkata apa apa Erika mengambil paper bag itu dan kembali ke kamar mandi.


Mikaela mengunci pintu kamarnya dan mengenakan apa yang telah diberikan kepseknya.


Erika yang keluar dari kamar mandi beradu pandang dengan Mikaela. Keduanya sama tersenyum melihat penampilan mereka masing masing.


Erika mengenakan kemeja putih dengan rok hitam, dia memakai rompi. Wignya sangat pendek. Mikaela ngga memakai rompi, dan wignya pun sama, sangat pendek. Mereka terlihat berbeda dari biasanya. Keduanya pun keluar menemui Doni yang sudah memakai jas membuat Mikaela terkesima dengan ketampanannya.


Doni yang sudah menduga tanpilan mereka cukup terpengaruh juga melihat tanpilan Mikaela yang terlihat lebih dewaaa dari umurnya. Lebih manis.


"Ehem."


Doni berusaha mencairkan suasana canggung di antara mereka.


"Kalian sebagai sekretarisku. Kita mewakili perusahaan papaku, grup Hexa," jelas Doni.


Erika mengangguk mengerti. Dengan cara ini, dia dengan mudah bisa mengikuti meeting yang akan dilaksanakan pagi ini.


"Kamu siapa?" tanya Erika sambil melihat Mikaela yang terlihat jelas mengagumi ketampanan Doni. Erika bisa mengira kalo umur laki laki tampan di depannya ini lebih muda darinya beberapa tahun.


"Saya kepala sekolahnya Mikaela," jawab Doni ringan.


"Haah."


Erika ngga dapat menyembuyikan kekagetannya. Dia mengira laki laki di depannya ini seorang presiden direktur seperti dirinya. Matanya melirik Mikaela yang sekarang sudah menerima tas laptop yang diulurkan laki laki itu.


"Saya mewakili abang saya," kata Doni menjelaskan. Dia pun mengulurkan sebuah tas kecil pada Erika.


"Di dalamnya ada pistol," lanjut Doni lagi membuat Erika mengangguk.


"Pak, saya kok ngga ada pistolnya?" tanya Mikaela sambil memeriksa isi tasnya.


"Kamu belum cukup umur untuk menggunakannya," tukas Doni cuek membuat Erika tersenyum mendengarnya.


Dia merasa yakin kalo pria tampan di depannya mempunyai ketertarikan pada adik angkatnya.


"Tapi nanti kalo ada yang nembak gimana?" protesnya kesal dan terdengar agak manja?


Erika menahan senyumnya mendengar suara adik angkatnya. Ngga biasanya Mikaela bersikap begitu pada lawan jenisnya. Dia termasuk anak yang cuek.

__ADS_1


"Kamu, kan, udah pake baju anti peluru. Udah aman," tukas Doni sambil beranjak pergi dengan menyembunyikan tarikan sudut bibirnya.


"Kamu dekat dekat aku aja ntar ya," kata Erika dengan senyum lebar di wajahnya melihat wajah manyun Mikaela. Hatinya terhibur membuat dia sedikit bisa melupakan kesedihannya.


__ADS_2