
"Kamu serius mau nikah sama Aurelia?" tanya Ilham yang pagi ini sengaja menemui adiknya di perusahaannya.
Tadi malam mami dan papinya diminta Aldi menemui mama Aurelia.
Sebetulnya ngga masalah buat Ilham. Hanya saja dia ingin memastikannya saja. Apalagi Aldi ngga begitu lama mengenal Aurelia.
"Iya, Bang," jawab Aldi tegas. Keduanya duduk di sofa dengan ditemani dua cangkir kopi.
"Kamu belum terlalu mengenalnya, kan? Maksud Bang Ilham, apa kamu udah tau semua tentang dia?"
Aldi tertawa kecil mendengar kalimat panjang abangnya yang biasanya sangat irit omongan.
"Sebagian udah. Eri udah cerita. Eri mengenalnya di Inggris."
"Kakaknya masih di penjara, kan?" selidik Ilham.
Aldi tersenyum. Rupanya abangnya sudah banyak tau juga. Pasti tanpa disadarinya, abangnya sudah mencari informasi tentang Aurelia. Sangat mudah baginya. Makanya Bang Ferdi selalu mengandalkannya walaupun abangnya bukan orang yang berdinas di kepolisian. Semacan freelance inteligent.
"Iya."
Ilham menghela nafas.
"Sebenarnya abang udah curiga ketika kamu merekomendasikan dia jadi guru privat Melia. Tapi kinerjanya cukup bagus," kata Ilham menganalisa.
"Dia gurunya Melia. Dia juga butuh banyak uang untuk operasi jantung mamanya. Awalnya aku hanya kasian," kata Aldi ngeles.
"Bukannya sudah kamu lunasin biaya operasinya," cibir Ilham mengejek membuat Aldi terkekeh.
Benerkan, bisa tau sampai sejauh itu, batin Aldi.
"Apa ada yang kamu sembunyikan lagi?" pancing Ilham curiga.
"Ngga ada," dusta Aldi lagi. Takut juga dia ketahuan akan kesalahan fatalnya.
"Apa kamu sudah menidurinya?" tebak Ilham kemudian terkekeh melihat reaksi kaget Aldi. Dia pun menggelengkan kepalanya ngga abis pikir.
Ternyata adiknya cuma dari luarnya aja yang terlihat sopan. Lebih parah dari Eri yang tengil malahan, yang selalu membuat Luvi hipertensi.
"Padahal Luvi selalu memuji dirimu di depan Eri," katanya dalam derai tawanya. Benar benar di luar dugaannya.
Aldi hanya mendengus mendengar kalimat terakhir abangnya.
Salahnya yang kurang mengantisipasi tuduhan abangnya. Harusnya dia tetap tenang dan kalem aja. Aldi misuh misuh dalam hati.
"Kamu akan tetap membiarkan kakaknya di penjara?" tanya ilham lagi. Mengalihkan topik pembicaraan.
Ilham tau, nama Eri membuat Aldi jadi bad mood. Apalagi dibandingkan dengan kelebihan Eri yang membuat Aldi merasa kalah telak.
"Biar saja. Kakaknya selalu menyusahkannya dan mamanya. Bahkan dia terang terangan menggoda Vandra," jawab Aldi cuek.
Ilham tersenyum tipis. Track record Arabella memang ngga bagus. Dunia yang digelutinya jauh dari kata yang baik.
"Baiklah kalo begitu."
Keduanya pun menyesap kopinya masing masing.
"Kamu sudah punya WO yang akan menangani acara pernikahanmu?" tanya Ilham lagi.
Aldi menggeleng.
"Pake WO ku mau ngga?"
Aldi langsung menepuk keningnya.
__ADS_1
Kenapa dia sampai lupa, batin Aldi tersadar.
"Boleh juga Bang. Ada kartu namanya?"
Ilham memberikan kartu nama WO pernikahan mereka dulu yang sengaja Luvi berikan tadi pagi. Karena itu Ilham mampir ke perusahaan Aldi pagi ini.
"Luvi yang memberikan ini. Rupanya dia menyimpannya, padahal sudah sangat lama. Melia saja sudah berusia.tujuh tahun," kekeh Ilham lagi.
Kening Aldi berkerut sambil menerima kartu nama yang masih terlihat bagus.
Seperti masih baru aja. Kak Luvi benar benar masih menyimpannya? batin Aldi ragu.
"Nomer hp nya ngga diganti?" tanya Aldi sangsi.
"Nggak."
"Aku cek aja ke kantornya. Siapa tau udah tutup. Udah lebih tujuh tahun juga," putus Aldi setelah berpikir sejenak.
"Hebat juga Kak Luvi nyimpan kartu ngga sampai bulukan. Malah masih kinclong," puji Aldi kagum.
"Aku bohong. Itu kartu nama yang baru," gelak Ilham senang sudah mengerjai adiknya yang kadang nampak bodoh.
Tanpa ragu Aldi menonjok bahu abangnya yang sejak menikah, sifat dan karakternya jadi berubah.
Keduanya pun tertawa bersama. Setelah hampir mati di bom, rasanya kedekatan antar saudara lebih terasa.
"Ngga bisa bayangkan kalo kita bakal meledak bersama," kata Ilham sebelum bangkit dari duduknya. Dia harus segera balik ke perusahaannya. Bentar lagi akan ada meeting penting dengan kliennya.
"Sama Bang," balas Aldi jujur.
Keduanya bertatapan sebentar sebelum Ilham menepuk bahu Aldi.
"Bilang aja butuh apa, abang akan bantu."
"Oke."
Mereka beruntung masih bisa menghirup udara hingga hari ini.
*
*
*
Vandra membelai perut Mia dengan lembut. Vandra sedang berbaring di pangkuan Mia, sedangkan Mia duduk bersandar di sandaran tempat tidur.
"Aku takut sekali hari itu," kata Vandra jujur.
Saat ini mereka berdua berada di ruangan pribadi Vandra. Beristirahat satu jam, sebelum ada meeting lagi.
"Hati hati lain kali, Van. Kita masih dilindungi," kata Mia sambil memijat kening Vandra.
Vandra menghela nafas. Tinggal empat bulan lagi Mia akan melahirkan.
"Ya sayang," ucapnya lembut.
"Kamu masih ngidam? Bilang aja pengen apa."
Mia tertawa kecil hingga dekik di kedua pipinya terlihat jelas menambah cantik wajahnya. Vandra terpesona melihatnya.
"Belum pengen apa apa lagi," ucapnya setelah reda tawanya
Vandra tersenyum. Dia menarik tangan Mia dan mengecupnya lembut.
__ADS_1
"Vandra, jangan terlibat hal hal yang mengerikan lagi ya," pinta Mia dengan suara agak memohon. Dia juga sangat takut membayangkan kalo harus hidup tanpa Vandra.
Vandra menganggukkan kepalanya.
"Ya. Yang penting kamu selalu berdo'a untuk keselamatan kita," kata Vandra lembut.
Tiba tiba Vandra memundurkan kepalanya.
"Bayinya bergerak lagi," serunya senang. Vandra dapat merasakan tonjolan di bagian samping perut Mia.
Mia pun tertawa senang. Dia dapat merasakan gerakan bayinya. Begitu kuat.
"Anak yang sehat. Dady sedang bersama kita, sayang," kata Mia sambil mengelus bagian yang menonjol.
"Apakah ini kakinya?" kata Vandra bahagia. Dia juga mengelus bagian yang menonjol itu.
"Sepertinya iya," tawa Mia.
"Dia bergerak lagi. Kamu senang di dalam perut mami ya," seru Vandra lagi sambil mengelus lembut kembali tonjolan yang berpindah.
"Kelihatannya begitu."
Vandra pun menciumnya kemudian tertawa bersama Mia.
"Kamu akan lebih senang kalo sudah melihat dunia. Dady dan mami akan selalu memanjakanmu," janji Vandra sambil mengecup lagi bagian yang menonjol itu.
Mia membelai rambut Vandra dengan dada berdesir bahagia.
"Apa kita perlu tau jenis kelamin anak kita?" tanya Vandra sambil menatap Mia debgan mata jenakanya.
"Kamu mau tau? Ngga mau jadi kejutan?" tanya Mia dengan senyum lebar di bibirnya.
"Kata anak anak, biar ngga salah membeli warna warna bajunya."
Mia tertawa lagi.
"Bayi tetap menggemaskan dengan baju warna apa aja."
Vandra pun tertawa membayangkan bayi cowo memakai baju warna pink.
"Kamu mau anak kita cowo apa cewe?" tanya Mia sambil menatap Vandra dengan mata penuh binar.
"Apa aja. Yang penting kalo cowo mirip aku, yang cewe mirip kamu," kata Vandra cepat.
Dia mengelus pipi Mia dengan lembut.
"Aku ingin dia chubby seperti kamu. Menggemaskan pastinya," kekeh Vandra dengan menatap lekat wajah cantik istrinya yang mulai membulat.
"Kamu senang ya lihat aku bengkak gini," kata Mia kesal. Selalu aja membuat suasana romantis tadi jadi sia sia. Mia mengomel dalam hati tanpa mau melihat wajah Vandra.
Vandra tambah tergelak.
"Kamu cantik kalo marah. Cantik banget," kata Vandra sambil mengecup punggung tangan Mia.
Mia berdebar, wajahnya merona. Susah untuk lama lama marah dengan Vandra.
Vandra pun menegelus kembali tonjolan di perut Mia yang kembali berubah arah.
"Kata bayi kita, mami jangan marah, ya," rayu Vandra dengan suara yang dibuat seperti anak kecil.
Mia ngga tahan juga mempertahankan lama lama wajah cemberutnya.
Senyum manisnya pun terbit.
__ADS_1
"Gitu, dong. Istri dady kan tambah cantik kalo senyum gini," rayu Vandra lagi membuat tambah lebar senyum Mia. Hati Mia pun rasanya merekah seperti bunga mawar yang mekar.
Padahal hanya gombalan receh, tapi Mia sangat senang mendengarnya. Apalagi dari seorang Vandra yang kaku dan datar. Pasti itu tulus dari hatinya.