
"Kamu nemenin aku kerja ya," kata Eri begitu mereka selesai makan.
"Iya," kata Angel sambil membuka tas laptopnya.
"Kapan ya kita cuti. Mau nikah malah kerjaanku semakin banyak," kata Eri mengeluh begitu kembali ke.meja kerjanya.
Angel ngga jadi membuka laptopnya. Dia mendekati Eri. Dan melihat setumpuk berkas yang belum dilirik Eri.
Angel tersenyum lalu berdiri di belakang Eri dan memijat lembut keningnya.
"Aku malahan jadi bisa tidur nih, Angel," kata Eri ringan. Kepalanya yang terasa berat saat melihat tumpukan berkas jadi hilang karena pijatan lembut Angel.
Angel tertawa mendengarnya.
"Proyek apa aja yang sedang kamu kerjakan?" tanya Angel kepo karena melihat Eri sangat pusing dan capek.
"Ada tiga yang sedang digarap. Sama itu proyek dari Luvi. Belum juga aku sempat lihat," katanya mengomel.
Angel jadi teringat dia juga punya proyek dari Bang Ilham.
"Bang Ilham juga ngasih aku proyek. Proyek tentang pembangunan resort," kata Angel memberitau.
"Ohya?" Eri langsung mengambil berkas proposal dari Luvi dan mulai membacanya.
"Sama ini Angel. Proyrek resort juga. Resort kamu sama Bang Ilham dimana?"
"Ohya? Coba lihat proposal kamu," tanggap Angel sambil melihat berkas proposal yang dipegang Eri.
"Sama ternyata. Berarti kita kerja sama bareng, ya," respon Angel senang.
Eri juga tertawa senang. Pasti sudah direncanakan jauh jauh hari sama Luvi dan Bang Ilham untuk semakin mendekatkan mereka berdua. Eri melirik Angel yang masih memandang berkas proposalnya.
Akhirnya wajah cantik ini menjadi miliknya.
"Angel, kenapa kamu ngga pernah bilang dari dulu kalo kamu terpaksa menolak aku? Kamu ngga takut aku berpaling?" tanya Eri tiba tiba.
Angel memalingkan wajahnya pada Eri dan tersenyum manis.
"Itu resiko."
Eri menatap wajah Angel lekat lekat.
"Kamu percaya sama aku?"
Saat ini wajah mereka cukup dekat.
"Ya," jawab Angel pelan.
"Salah, ya?" lanjut Angel sambil menggigit bibirnya.
Eri memalingkan wajahnya dari Angel.
Andai saja Angel tau, dulu waktu Angel tidur, dia sering mengecup bibir itu. Hanya mengecupnya saja. Itu pun hanya sebentar. Namanya juga curi curi.
__ADS_1
"Ngga," kata Eri berusaha meredakan degup jantungnya yang ngga normal.
Angel tersenyum, kemudian melirik berkas kerja sama Eri dan Luvi.
TOK TOK TOK!!
"Bos, Bu Sandrina ingin ketemu," kata Handy, sekretaris merangkap asistennya. Eri memamg ngga ingin punya sekretaris perempuan. Baginya udah jelek aja persepsinya.
"Hai," sapa Sandrina yang muncul di belakang Handy.
Eri dan Angel saling tatap. Angel mengalihkan pandangannya pada Sandrina dan balas tersenyum.
Sandrina merasa heran dan cemburu melihat kedekatan Eri dengan Angel.
Mereka punya hubungan apa ya? batin Sandrina penasaran.
"Hai, Sandrina ya," sapa Angel ramah.
"Iya, Angel, kan?" ucap Sandrina senang karena seorang Angel mengetahui namanya.
Gimana, sih, disuruh tunggu dulu malah nyelonong masuk, batin Handy kesal sambil melirik takut takut pada bosnya.
"Ada apa?" tanya Eri datar.
Angel masih berdiri di samping Eri dan mulai cuek dengan tetap membaca berkas proposal dari Kak Luvi. Handy pun masih berdiri dan belum keluar dari ruangan karena belum diusir si bos.
"Emm..."
Sandrina jadi ragu untuk mengatakan maksud kedatangannya karena ada Angel dan sekretarisnya.
Dia berusaha menyimpan kekesalannya.
Gadis ini, kan, yang dibawa Eri ke pesta ultah Iqbal. Eri ada hubungan apa ya dengannya?
Eri diam ngga menjawab. Tapi saat Angel berbalik akan pergi, Eri memegang lengannya.
"Sini aja," kata Eri tegas.
Angel menatap Sandrina ngga enak. Apalagi gadis itu terlihat terkejut dengan reaksi Eri.
"Baiklah. Papaku mengundang kamu ke rumah malam ini," kata Sandrina dengan suara bergetar. Antara malu dan tetap pada keinginannya.
"Maaf, saya ngga bisa," tolak Eri langsung.
Wajah Sandrina langsung pucat. Tubuhnya rasanya sudah lemah karena bergetar.
Kenapa? Padahal Eri sudah mengajaknya bertemu dengan keluarga dan teman teman dekatnya.
Sandrina merasa matanya mulai berkabut. Harga dirinya serasa jauh dilempar.
Padahal mamanya sudah mengingatkan kalo jangan buru buru mengundang Eri ke rumah. Tapi dia sendiri yamg keukeh tetap ingin mengundang Eri ke rumah. Dan papanya, terserah apa yang akan dia lakukan saja.
Tapi nyatanya mamanya benar. Tanpa terasa air matanya menetes. Dia benar benar malu ditolak Eri. Apalagi di depan Angel dan sekretaris Eri, Handy.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Sandrina dengan suara bergetar.
"Saya ada acara dengan calon istri saya," kata Eri tenang. Dia ngga ngerasa salah karena ngga pernah merasa ngasih harapan apa pun dengan Sandrina.
Mendengar kalimat Eri membuat Angel ingin sekali mengetok kepala Eri
Ngga punya perasaan, dasar.
"Calon istri?" tanya Sandrina sangat terkejut. Dia menatap dengan mata yang sudah basah pada Angel.
Sungguh Angel rasanya ingin menghilang. Dia ngga bisa melihat sorot mata penuh luka itu.
"Iya. Kami ngga lama lagi akan menikah," kata Eri masih tenang.
Dia merasa aneh, kenapa Sandrina harus shock dan sepasang matanya sampai berkaca kaca seperti itu.
Eri merasa hubungan mereka profesional. Eri ngga pernah menjanjikan apa pun. Eri pun ngga pernah bermain *** dengannya. Bahkan dengan semua teman perempuannya.
"Maaf, kalo gitu saya pulang," katanya langsung membalikkan tubuhnya dan bergegas. Bahkan tanpa sengaja menabrak bahu Handy yang langsung menangkap tubuhnya yang hampir jatuh.
"Bu Sandrina, saya antar pulang," kata Handy berinisiatif dan langsung menarik lengan Sandrina yang terasa dingin.
Gadis itu terlihat sangat terguncang. Bahkan Handy sampai memapahnya keluar dari ruangan Eri.
Begitu keduanya ngga terlihat, Angel menarik kasar lengannya.
"Angel," kata Eri kaget dengan reaksi Angel.
Sepasang mata indah Angel pun berkaca kaca.
"Eri, ada hubungan apa kamu dengan dia?" tanya Angel dengan suara bergetar.
"Ada sih. Tapi cuma hubungan kerja," jawab Eri ringan. Bibirnya tersenyum melihat Angel yang benar benar terganggu karena Sandrina.
Lo cemburu ya, tawa Eri dalam hati.
Angel menarik nafas panjang. Dia memang harus punya extra sabar buat ngadepin Eri. Dari dulu bahkan sampai sekarang.
Angel langsung berbalik dan bermaksud mengambil tas laptopnya kemudian pergi.
Tapi Eri tentu ngga membiarkannya. Dia mengejar Angel, dan menariknya dalam pelukan.
Tentu saja Angel meronta ingin melepaskan diri. Air matanya pun sudah mengalir di pipimya.
"Angel, jangan gerak gerak, ada yang bangun," kata Eri resah.
Angel terdiam dengan mata menatap Eri kesal.
Maksudnya? Dasar mesum, marahnya dalam hati.
Dengan lembut Eri menghapus air mata Angel.
"Cuma kamu Angel. Cuma kamu yang aku cinta. Dari dulu. Dari kita masih tk sampai sekarang. Bisa kamu bayangkan betapa gilanya aku waktu kamu nolak dulu," kata Eri terdengar jelas di ruangan yang sepi itu.
__ADS_1
Begitu menggetarkan hati Angel yang mendengar. Termasuk Handy dan Sandrina yang ternyata masih bersandar di balik ruangan yang belum tertutup itu.