
"Gimana ya nasib pernikahan Irfan dan Sandrina kalo mereka terpaksa menikah," bisik Fino kemudian membuang nafas kasar nafasnya. Rasanya dia ingin merokok, tapi mengingat berada di rumah sakit, keinginan itu ditahannya.
Kepalanya rasanya penuh dan dada Fino terasa sesak membayangkan apa yang harus dijalani sahabatnya nanti.
Aldi ngga menjawab. Dia pun pusing memikirkan sahabatnya yang terlihat sangat stres.
Ingatannya kini berlabuh pada Aurelia. Tanpa sadar Aldi tersenyum miring mengingat kebohongannya pada Aurelia. Dia senang melihat gadis itu yang terkejut dan panik mendengar kata katanya tadi.
Dasar gadis lugu. Percaya aja dibohongin, tawanya dalam hati.
Tentu saja Aldi memberikan Aurelia pil pencegah kehamilan. Aldi belum siap mendengar kabar kehamilan Aurelia.
"Senyum senyum ngga jelas. Lo lagi mikirin apa?" tanya Fino heran melihat kelakuan aneh Aldi.
Aldi melebarkan cengirannya, tersadar kalo temannya memperhatikannya dari tadi.
"Lo sama Rosa udah pernah gituan?" tanya Aldi ingin tau. Sahabatnya sudah sangat lama bertunangan. Dari kelas dua SMA sampai sekarang.
"ML maksud Lo?" tanya Fino dengan seringai mengejek.
"Iya," tegas Aldi.
"Belom lah. Gue sama Rosa masih bingung dengan perasaan kita," kata Fino jujur.
Aldi terdiam. Membandingkan dengan dirinya yang belum lama mengenal Aurelia malah sudah jauh di depan Fino. Aldi kemudian memandang sahabatnya sangat serius.
"Mau sampai kapan kalian begini?"
Fino hanya mengangkat bahu, cuek.
"Entahlah."
"Rosa juga ngga maksa buat dinikahi?" kejar Aldi penasaran. Secara Rosa digantung Fino lama banget.
"Nggak sama sekali," kekeh Fono getir.
"Terus ngapain kalian masih bersama?" tanya Aldi mangkel.
Buang buang waktu saja.
Fino terdiam setelah tawanya reda.
"Kita sedang mencoba lebih dekat. Kalo orang tua gue sama Rosa udah ngga maksa. Terserah kita yang jalanin," sahut Fino santai.
"Ngga ada batas waktu?"
"Adalah. Tapi ini rahasia. Ngga akan gue kasih tau," ucapnya bikin Aldi mangkel. Fino tergelak melihat tatapan kesal Aldi yang menyorot marah padanya.
"Lagian ngapain Lo ngurusin hidup gue. Hidup Lo aja ngga jelas," kekeh Fino membuat kekesalan Aldi mengendur.
Iya juga sih.
"Hubungan Lo dengan Aurelia gimana?" tanya Fino dengan wajah jahil.
"Hubungan apa?" tanya Aldi sambil mengangkat sebelah alisnya.
Fino tertawa kecil.
"Gue lihat tadi waktu Lo nyium pipi Aurelia."
Sialan, dia lihat, maki Aldi kesal. Padahal dia hanya berbisik di telinga Aureliia, bukan mencium pipi gadis keras kepala itu.
"Lo salah sangka," bantah Aldi antara kaget dan pura pura ngga ngerti.
Fino menepuk bahu sahabatnya dengan bibir masih menyisakan tawa.
"Ngga apa kalo Lo ngga mau cerita. Tapi jangan nakal bro sama Aurel. Bisa dihajar Eri," kata Fino kemudian tertawa pelan lagi.
__ADS_1
Aldi menatap sewot.
Ngga takut gue, tantang Aldi dalam hati.
Fino malah terus tertawa karena merasa geli melihat wajah kesal Aldi.
"Kalian ketawa ketawa, ngga kasian sama gue," kata Irfan yang ternyata sudah mendekat sambil melonggarkan dasinya.
Rasanya sangat sulit untuk bernafas selama di dalam ruangan tadi.
"Eh, Lo, Fan," kaget keduanya bareng melihat Irfan sudah berdiri di depan mereka dengan wajah kusut.
"Gimana jadinya?" tanya Aldi cepat sambil membawa Irfan duduk di samping mereka.
"Tetap nikah ya?" tebak Fino karena Irfan masih tetap diam.
Irfan hanya mengangguk.
Fino dan Aldi membuang nafas pelan.
Pasti berat ya, batin Fino dan Aldi sambil menepuk pelan bahu Irfan.
Ketigamya mengangkat kepala begitu mendengar derap sepatu yang mendekat.
Vandrra databg menyusul bersana Toni dan Igo.
"Lo kok di sini, Fan? Ngga nemenin Sandrina?" tanya Toni setengah meledek.
"Senang Lo," umpat Toni kesal.
Toni tertawa pelan.
"Lo memang di luar dugaan," kekehnya lagi. Perasaannya masih ngga percaya sampai sekarang. Ternyata bukan Eri, tapi Irfan.
"Lo kenapa ngga pake sarung," cibir Igo menyalahkan.
"Kapan Lo nikahnya?" tanya Toni setelah tawanya reda.
"Secepatnya. Tergantung kondisi Sandrina," jelas Irfan sambil memejamkan mata.
"Nyesel gue keenakan di awal. Pusing di akhir," keluh Irfan lagi.
"Sudahlah, Sandrina juga cantik, pintar, kaya juga," kata Aldi menguatkan.
"Ya, poin plusnya di situ," jawab Irfan cuek.
Para sahabatnya tersenyum lebar mendengarnya.
****
"Buat kamu," kata Eri sambil mengulurkan sebuah buket bunga aster putih yang sangat indah.
Angel terkesima..Wajagnya merona. Angel jadi salah tingkah.
Dia tau? tebaknya grogi dalam hatii.
Dengan agak malu malu Angel menerima buket cantik itu. Bibirnya tersenyum dengan mata menatap senang pada kumpulan aster putih di tangannya kini.
Eri tersenyum melihat reaksi Angel.
"Kamu, kan, yang selalu mengirimkan bunga aster putih tiap aku pameran?" tuduhnya dengan melipat tangannya di dada.
Angel makin merah wajahnya. Pelan dia mengangguk sambil menunduk.
"Aku senang. Kamu ngga. pernah datang tiap aku pameran. Padahal aku selalu mengharapkan kehadiranmu," kata Eri jujur sambil mengangkat dagu Angel.
"Tapi buket aster putih selalu datang. Bunga yang paling kamu suka," ucap Eri lembut.
__ADS_1
"Aku takut mau datang. Tapi aku selalu membeli lukisanmu tiap kamu pameran," jelas Angel.jujur.
Eri terlalu frontal membencinya. Dia ngga sanggup mendapatkan kemarahan Eri. Apalagi di tempat umum.
"Maaf," kata Eri sambil mengecup pipi kanan Angel. Lembut dan cukup lama.
BLUSSHHH!
Jantung Angel berdebar keras. Tanpa sadar dia memejamkan matanya membuat Eri tersenyum.
"Kita mandi dulu atau langsung sekarang aja?" bisik Eri nakal di telinga Angel membuat gadis itu meremang.
"Emmm.... aku mandi dulu, yah," kata Angel sambil menjauhkan dirinya.
"Oke," ucap Eri dengan.cengiran khasnya.
Dengan bergegas, Angel meletakkan buket aster itu di meja, dan setelahnya memasuki kamar mandi dan menguncinya.
"Huufftf," dengusnya sambil menatap wajahnya di cermin yang menempel di dinding.
Jantungku sangat tidak.sehat di dekatnya, batinnya sambil memejamkan mata merasakan detak jantungnya yang seakan berlari kencang.
Setelah beberapa menit lamanya, barulah Angel membasahi tubuhnya dengan pancaran air hangat di shower.
Ngga nyampe sejam, akhirnya Angel keluar juga dari kamar mandi dengan baju tidur yang dibawanya tadi dan sudah dikenakannya.
"Kirain kamu pingsan di dalam. Hampir aja aku dobrak pintunya," kata Eri dengan senyum nakal di wajahnya, membuat Angel yang terpaku karena kaget melihatnya sudah di depan pintu kamar mandi menjadi salah tingkah.
Dia melangkah menjauhi Eri yang dengan santai menasuki kamar mandi.
Kenapa aku selalu grogi di dekatnya, kesal Angel dalam hati sambil mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.
Apa dia akan melakukannya malam ini? batin Angel resah.
Karena semakin gugup menunggu Eri dan juga kelelahan, Angel malah tertidur pulas.
Eri tersenyum melihat Angel yang sudah memejamkan mata.
Dia sudah tidur?
Dengan tenang Eri mengeringkan rambut gondrongnya.
Setelah beberapa menit lananya. Eri membaringkan tubuhnya sambil memeluk Angel dari belakang. Mungkin karena sangat kelelahan, Eripun tertidur dengan bibir menempel di tengkuk Angel.
Tapi begitu menjelang subuh, Angel merasa ada yang berat menimpa tubuhnya. Dan rasanya sangat sakit di organ intimnya.
Matanya terbelalak melihat Eri yang menatapnya dengan mata berkabut penuh gairah.
"E...Eri... kamuh...ngapainh...." tanya Angel bercampur ******* karena karena dorongan gairah aneh dalam dirimya.
"Sebentar, Angel... Aku udah ngga kuat," katanya sambil terus bergerak di atas Angel.
Angel memejamkan mata begitu rasa sakit yang luar biasa ketika Eri dengan penuh semangat memborbardir dirinya.
"Akhirnya.... makasih sayang," kata Eri sambil tertelungkup di samping tubuh Angel.
"Aku belum baca do'a," protes Angel dengan wajah memerah.
"Kamu tenang aja, Aku udah baca kok. Maaf ya, aku ganggu kamu tidur. Tapi aku udah ngga tahan lagi," kata Eri mengaku. Matanya menatap Angel nakal.
Angel menyembunyikan wajahnya di dada Eri.
Kenapa aku baru sadar. Rasanya lemas sekali. Berapa kali Eri melakukannya? batin Angel penuh tanya, antara malu dan kesal. Tadi Angel merasa seperti bermimpi. Padahal nyata.
"Kamu cantik banget. Lagi ya, Angel," pinta Eri sambil menggelitik pinggang Angel.
Angel ngga menyahut. Dia hanya menerima dengan pasrah apa pun yang dilakukan Eri, suami sahnya.
__ADS_1