
Ferdi menatap ngeri jasad Arabella yang hangus karena menjadi korban kebakaran di salah satu penjara yang menampung cukup banyak tahanan wanita.
Terjadi konsleting listrik. Para sipir penjara secepatnya membuka sel sel penjara wanita yang terkunci akibat kebakaran hebat.
Panasnya api yang berkobar dan kepulan asap yang memerihkan mata, membuat para napi yang selamat pun cukup kesulitan menyelamatkan diri.
Mereka pun mengalami luka memar dan gangguan pernafasan akut, sehingga langsung dilarikan ke rumah sakit polisi.
Arabella yang satu hari sebelumnya telah membuat masalah dengan dengan teman satu selnya menyebabkan temannya harus nginap di rumah sakit, dimasukkan ke sel khusus. Tapi saat kebakaran terjadi, dia ngga sempat diselamatkan.
Petugas pemadam kebakaran yang berhasil memadamkan api, menemukan jasadnya yang sudah hangus terpanggang.
Ferdi menghela nafas panjang.
"Bos, sudah dipastikan itu jasad Arabella," lapor Roni yang menjadi asistennya.
"Dia di dalam sel isolasi yang terkunci?" Ferdi berusaha menyembunyikan rasa kagetnya.
Arabella adalah tahanan yang diminta Vandra dan teman temannya untuk dia urus. Gadis itu pun beberapa bulan lagi akan bebas. Tapi kenyataan berkata lain. Nyawanya lebih dulu bebas meninggalkan raganya.
"Dia dikenali juga dari cincin berlian yang dipakenya, sir," tambah Roni lagi.
"Oke."
Ferdi langsung mengabari Vandra yang terkejut mendengar musibah yang dialami Arabella. Vandra pun menghubungi Aldi yang akan menikahi Aurelia beberapa minggu lagi.
"Segera kirimkan laporan kejadian ini padaku. Tim investigasi akan segera datang untuk menyelidiki kebakaran ini," tukas Ferdi kemudian membalikkan tubuhnya. Melangkah pelan ke ruangannya dengan pikiran ngga menentu.
*
*
*
Aldi menemani Aurelia dan mamanya di tempat peristirahatan terakhir Arabella.
Teman teman mereka sudah pergi sejak tadi. Hanya tersisa Vandra, Eri, dan Toni.
"Ma, ayo," ucap Aurelia pelan.
Mamanya masih diam dengan terus memandang tanah yang masih basah dan diselimuti kelopak kelopak bunga yang ditaburkan pihak keluarga dan peziarah.
Dari tadi mama Aurelia hanya diam mematung. Ngga ada setetes air mata pun yang mengalir. Saat ini dia berusaha memafkan segala perbuatan anak sulungnya. Hatinya berusaha mengikhlaskan semuanya. Kini anak pertamanya telah tiada. Arabella lebih dulu menemui papamya.
Beliau sudah mengetahui kalo anak pertamanya di penjara. Beliau selalu memantaunya melalui Aurelia, putri keduanya. Mama Aurelia hanya berharap agar putri pertamanya bisa sadar kalo telah melangkah jauh menyimpang. Tapi ternyata putrinya mengalami kamatian mengenaskan di dalam sel penjara.
Beliau memejamkan mata. Seakan meminta maaf pada suaminya yang sudah tiada karena ngga berhasil menuntun Arabella menjadi gadis yang baik.
"Gue ngga nyangka jadi begini," sesal Eri. Membayangkan gadis itu terpanggang dalan sel yang sempit membuatnya merinding. Ini terlalu kejam untuk akhir hidup seorang Arabella.
Vandra, Toni dan Aldi ngga menyahut.
Dalam beberapa hari ini sudah ada dua orang kenalan perempuan mereka yang meninggal dunia dengan ngga wajar.
Anastasia dan Arabella.
Walaupun tidak memiliki hubungan baik dengan kedua perempuan itu, tapi tetap saja mereka merasa menyesal, karena menjadi faktor penyebab hal itu terjadi.
__ADS_1
"Kita do'akan semoga mereka diampuni dosanya dan tenang di sana," ucap Aldi pelan.
Ketiganya pun mengangguk, tapi pandangan tetap mengarah pada kuburan yang masih basah itu.
*
*
*
"Akhirnya bisa kembali lagi ke sini," ucap Rasya senang.
"Ya, akhirnya dady mau juga melepas perusahaannya biar di kelola asistennya. Biarpun sementara, ngga apa. Kita butuh liburan," kekeh Andre membuat Rasya pun tertawa senang.
"Aku juga kangen dengan Erza, Ezra, Melia, Malik, Iqbal," seru Rahel salah satu putri kembar mereka dengan raut muka ceria
"APA? Aku benci ketemu empat laki laki dingin itu," sarkas Ariel dengan wajah ngga sukanya.
"Yang aku senang hanya karena akan ketemu Melia," lanjut anak perempuan yang berusia tujuh tahun ini.
Andre dan Rasya tertawa mendengar celoteh putri kembarnya.
"Kan ada Bang Abhi. Dia baik dan ramah," kata Rahel mengingatkan.
Ariel tersenyum sekilas. "Iya."
Andre dan Rasya hanya tertawa mendengar perdebatan dua putri kembarnya.
"Kalian tunggulah di sini, dady akan mengambil koper kita," kata Andre sambil mengecup kening Rasya.
"Oke."
"Kamu mau bareng sekolah sama di datar itu? Mami, aku ngga mau," protes Ariel dengan suara agak menyentak.
"Kamu ngga sadar ya, kalo kamu sama datarnya kayak si kembar," kekeh Rahel mengejek saudari kembarnya.
"Huh."
Rasya pun ikut tertawa. Rahel mewarisi wataknya dan suaminya. Sedangkan Ariel sedikit mirip Elka, tapi lebih cenderung ke Valen untuk watak menyebalkannya.
"Erza sama Ezra itu baik kok. Justru kalo kita di sana, kita akan lebih dilindungi. Seperti Melia," pungkas Rahel.
Rasya terdiam. Sebetulnya kepulangan mereka karena kejadian aneh yang menimpa kedua putri mereka seminggu yang lalu.
Waktu itu Andre dan Rasya yang terlambat menjemput karena ada meeting dadakan, hampir membuat kedua putri mereka diculik.
Untung Ariel berkeras ngga percaya saat dua orang perawat mengatakan kalo Andre dan Rasya mengalami kecelakaan hebat.
Hp mereka pun di hack, sehingga kedua putri mereka dan guru guru pun ngga bisa mengkonfirmasi keadaan Andre dan Rasya yang sebenarnya.
Tapi karena kekeraskepalaan Ariel yang ditemani beberapa guru dan sekuriti sekolah, membuat kedua perawat itu mengalah dan memutuskan pergi.
Awalnya Rahel sempat mau ikut karena panik, tapi Ariel dengan kejam mencubit lengannya sampai matang biru agar menurutinya.
Setengah jam kemudian, Andre dan Rasya pun sampai di sekolah dengan perasaan heran karena anak anak mereka dikelilingi beberapa orang guru dan sekuriti sekolah.
Karena kejadian itu, Andre langsung menempatkan banyak pengawal untuk menunggui putri kembar mereka di sekolah.
__ADS_1
Rasya pun sama seperti Rahel, yang merasa kalo anak anaknya akan lebih aman jika mereka pindah sekolah ke negara asal mereka. Karena banyaknya keluarga besarnya dan Andre yang menetap di sana.
Tapi orang tua Andre masih berat untuk berjauhan dengan anak, menantu, dan cucu cucu mereka. Mereka hanya diijinkan untuk liburan saja agar bisa melupakan kejadian tersebut.
"Kamu itu lebih aman kalo sama aku," sindir Ariel sinis.
Rahel memanyunkan bibirnya membuat Ariel tersenyum mengejek.
"Untung aku ngga cengeng kayak kamu. Kalo engga, kita pasti udah dipotong potong, dicelupin tepung, trus di goreng," kata Ariel sadis.
"Mami! Ariel jahat," lapor Rasya kesal.
"Kenyataan, kan," timpal Ariel datar.
"Mami!" jerit Rahel tambah kesal.
Rasya mengulum senyumnya. Ariel memang cukup menyebalkan. Seakan ada darah Elka dan si durjana abangnya, Valen mengalir dalam tubuh Ariel.
"Pokoknya aku mau pindah sekolah. Rahel takut diculik lagi," katanya dengan muka menyiratkan rasa takut
Rasya membelai puncak kepala Rahel dengan lembut.
Gimana ini kalo mau pindah. Mami dan dady Andre pasti ngga akan setuju. Pikiran Rasya langsung mumet.
"Ada apa?" tanya Andre yang sudah menghampiri mereka dengan dua buah koper. Mereka memang ngga membawa banyak pakaian. Kalo kurang tinggal beli. Lagipula pakaian mereka masih banyak tersimpan di rumah mama Rasya.
"Dady, Rahel mau pindah sekolah di sini aja," rengeknya manja membuat Andre tersenyum. Dia melirik Ariel yang menatap saudara kembarnya kesal.
"Kenapa?" tanya Andre kura kura dalam perahu, padahal udah tau jawabannya.
"Rahel mau sama Melia. Ngga mau sama Ariel," rengeknya lagi membuat Ariel menjulurkan lidah mengejeknya.
"Kenapa harus kamu yang jadi saudara kembarku!" marah Rahel, tapi hanya membuat Ariel tambah tertawa semakin membuat hati Rahel panas.
"Sudah, jangan ribut. Nanti, kita bicarakan lagi ya sayang. Sekarang kita ke rumah Oma sama Opa dulu," kata Rasya menengahi agar kemarahan Rasya ngga makin meluap. Apalagi beberapa orang memperhatikan keributan kecil kedua putrinya.
"Iya, nanti dady pikirin. Sekarang kita ke rumah Oma dan Opa dulu ya," ucap Andre sambil mengulum senyum.
"Dady janji, ya," kata Rahel senang dan balas menjulurkan lidahnya ke Ariel. Ariel hanya melengos.
Andre dan Rasya tersenyum lega melihat kedua putrinya sudah ngga bertengkar lagi.
Senyum keduanya pudar ketika melihat seorang wanita cantik yang menatap tajam ke arah mereka.
Tanpa sadar, Rasya menempelkan tubuhnya yang merinding pada tubuh Andre yang juga menegang.
Tapi wanita yang beradu tatap dengan mereka tersenyun sinis dan berlalu pergi. Tubuhnya menghilang diantara para penumpang dan penjemput di bandara.
"Ngga mungkin, kan?" bisik Rasya dengan suara bergetar. Wajahnya pucat.
Andre ngga menjawab. Dia juga terguncang.
"Mungkin hanya mirip," kata Andre setelah rasa kagetnya hilang. Kemudian dia merangkul erat istrinya untuk menenangkan perasaannya.
"Terlalu mirip," gumamnya pelan, tapi masih mampu di dengar Andre.
"Dia sudah tiada. Sudahlah, ayo kita ke depan. Valen mungkin sudah menunggu kita," kata Andre sambil meraih salah satu kopernya.
__ADS_1
"Ariel, tolong bantu dady ya," pintanya sambil mengarahkan matanya ke salah satu koper di dekat Ariel.
"Siap, dady," katanya sambil meraih koper dan mengikuti langkah kedua orang tuanya bersama Rahel yang berjalan di sisinya.