Me And You

Me And You
Yang Harus Berakhir


__ADS_3

"Kamu kenapa?" tanya Angel heran melihat Eri masih saja sibuk dengan hpnya sambil berbaring. Wajahnya keruh seakan ada beban berat yang dia simpan. Padahal hari ini adalah hari penuh sejarah. Teman mereka yang sudah tunangan sejak SMA, bahkan sempat putus, akhirnya menikah.


Angel yang sudah rapi dengan kebaya modernnya menatapnya heran dari pantulan kaca riasnya. Dia sedang merapikan rambutnya yang sudah di cepol separuh.


"Ngga pa pa. Kamu udah siap?" tanya Eri sambil bangkit dari duduknya. Wajahnya masih terlihat murung.


"Lagi ada yang kamu pikirkan?" tanya.Angel yang menghampiri dan membantu merapikan kemeja Eri yang agak terlipat.


Eri ngga menyahut, hanya menatap Angel dalam.


"Aku pasti setia sama kamu," kata Eri membuat Angel mendongakkan kepalanya dan tersenyum. Walaupun ucapan Eri terasa aneh di telinganya.


"Aku tau," ucap Angel masih dengan wajah lembutnya.


"Kenapa kamu sangat yakin?" tanya Eri agak kaget. "Siapa tau aku cuma gombalin kamu," lanjutnya lagi sambil meraih tangan Angel yang merapikan kemejanya. Menggenggamnya erat.


"Yakin aja," balas Angel ringan.


"Iya sih, kalo aku macam macam pasti aku akan dihajar Luvi," tukas Eri malas kemudian menyeringai.


"Kamu tau," kekeh Angel sehingga dua lesung pipitnya tercetak dalam membuat Eri terpesona. Dia pun memgecup jemari Angel yang digenggamnya.


"Bagi Luvi aku memang sepupu tiri, dia lebih sayang kamu," sambung Eri sebal sambil melepaskan tangan Angel yang masih terus saja tertawa. Senang melihat wajah kesal Eri.


Beberapa menit kemudian.


"Ayo, kita berangkat," ucap Eri sambil merangkul Angel dan membawakan tasnya.


"Kamu ngga malu bawa tas ku?" tanya Angel heran ketika Eri menepis pelan tangannya yang akan mengambil alih tasnya.


"Enggak lah. Nanti pun aku akan sering bawa tas kamu setelah anak kita lahir," jawab Eri santai.


"Seperti bang Ilham, ya," tukas Angel ketika mengingat betapa repotnya bang Ilham jika bepergian dengan dua anaknya yang menggemaskan.


"Iya," kekeh Eri akhirnya, terhibur dengan ingatan tentang Ilham dan Luvi dulu jika bepergian. Bahkan sampai sekarang pun Ilham tetap membawakan tas Luvi walaupun dia menggendong si bungsu Iqbal. Sedangkan sepupunya hanya melenggang bersama putrinya. si cantik Melia. Sepupunya memang sangat beruntung. Ilham yang super cuek dan datar sangat perhatian padanya.


"Makasih," ucap Angel tulus. Keduanya saling pandang dan Eri pun menundukkan wajahnya mengecup kening Angel.


"Pahit," desisnya karena merasai bedak Angel.


Angel hanya tertawa.


"Kamu jangan pernah tinggalin aku," pelan Eri berucap.


Angel menatapnya heran.


"Kamu aneh hari ini."


Eri menghela nafas.


"Irfan cerai dengan Sandrina. Padahal Irfan sudah ngga sebrengsek dulu."


Angel terdiam. Kabar ini sungguh mengejutkan. Belum ada yang menyampaikan padanya.


"Kenapa?"


Eri menghela nafas lagi.


"Entahlah," dustanya. Eri pun membukakan pintu mobil untuk Angel.


Angel ngga bertanya lagi. Dia hanya melihat Eri yang kembali menjadi murung lagi. Angel bisa menduga, mungkin Sandrina masih belum bisa menerima Irfan.


Sandrina masih mencintai Eri? duga batinnya resah. Pasti Eri merasa bersalah.


"Bayi kita ngga nakal, kan?" tanya Eri ketika mobil mereka berhenti di lampu merah.


"Nggak."


"Syukurlah. Kamu ngga pengen makan apa gitu seperti Mia?"


"Nggak."


Keduanya saling pandang dan mengukir senyum saat mengingat Vandra yang selalu dikirimi pesan oleh Mia selalu ngidam.


"Memang merepotkan, tapi ngomong aja ya, kalo kamu pengen apa. Aku ngga mau anakku sampai ileran."


"Ngaco," kekeh Angel. Eri pun tergelak juga. Ngga bisa dia bayangin anak mereka.yang tampan atau cantik nanti ileran. Luvi bakal ngga akan ada berhentinya untuk mengejeknya nanti.


*


*


*

__ADS_1


"Ma, kita ngga jadi pindah?" protes Rahel ketika mamanya sibuk mendandaninya.


"Maaf ya, sayang. Kerjaan papi ngga bisa ditinggalkan," kata Rasya sabar, mencoba memberi pengertian.


"Tapi nanti aku diculik ma," sengit Rahel tiba tiba merasa takut. Dia masih trauma dengan kejadian kejadian buruk yang dulu menimpanya dengan kembarannya.


"Ngga lagi sayang. Mereka udah ditangkap sama papi kamu," kata Rasya memberitau.


"Di Paris juga?" tanya Rahel masih ngga percaya.


"Iya sayang," kata Rasya kini ganti merapikan rambut Ariel yang hanya diam saja.


"Ma, tapi Rahel pengen sekolah di sini. Sama Melia, bang Ezra dan bang Erza," ngeyel Rahel sambil cemberut membuat Rasya teetawa.


"Kamu ini, membantah aja," dengus Ariel membuka suara.


"Ariel! Apa kamu sudah lupa waktu mau di potong," seru Rahel marah. Padahal dia ingin pindah juga demi keselamatan adiknya juga.


"Itu, kan, dulu. Udah ditangkap papi juga. Kita aman," sergah Ariel sambil.melotot. Ini yang selalu buat dia kesal. Kakak kembarnya selalu aja susah di kasih tau.


"Huh," dengus Rahel kesal dengan tambah memanyunkan wajahnya.


"Kamu mau ninggalin Lion?" sindir Ariel membuat kembarannya mengingat sahabat mereka di Paris.


"Ya, nanti suruh Lion pindah sini," kata Rahel masih tetap ngeyel dengan pendapatnya.


Ariel hanya menggelengkan kepalanya, sedangkan Rasya tersenyum lebar melihat kekeraskepalaan putri kembarnya.


Sementara itu Ezra yang sedang melewati kamar Rasya menghentikan langkahnya dengan kening berkerut.


"Lion?" gumamnya pelan, melirik sebentar ke balik pintu yang terbuka sedikit sebelum melangkah pergi.


Ariel melirik bayangan yang terlihat sudah bergerak pergi.


Bang Ezra? batinnya menduga. Ngga mungkin, bantahnya dalam hati.


*


*


*


"Kamu sudah siap?" tanya Vandra sambil meraih tas yang berisi perlengkapan bayi mereka.


"Mba Ratih diajak aja," ucap Mia memberi alternatif.


"Kenapa? Aku bisa, kok," tolak Vandra cepat.


"Nanti kamu, kan, mau ngobrol dengan yang lain."


"Justru itu. Aku mau nunjukin, ini nih, dady yang keren," kata Vandra sombong memuji dirinya.


Mia ngga dapat menahan tawanya lagi.


"Terserah kamu," selanya dalam derai tawanya.


"Bayi Al masih tidur?" tanya Vandra ketika melihat Mia yang tanpa kesulitan menggendong anak mereka.


"Iya, imut banget. Kayak kamu," puji Mia sambil mengecup pipi bayinya yang masih terlelap. Wajah bayi mereka terlihat tenang dan damai.


"Aku ngga imut. Tapi keren, sayang," bantah Vandra sambil mengacak gemas rambut depan Mia.


"Iya, dady paling keren," kata Mia mengalah. Tapi dalam hati dia setuju, Vandra memang dady paling keren membuat dirinya semakin cinta pada suaminya.


"Kamu juga mami terkeren, bisa melahirkan anak seganteng ini," kata Vandra lembut, kemudian mengecup kening Mia. Dia ngga mungkin bisa melupakan perjuangan Mia saat melahirkan bayi Al. Kesakitan Mia masih terbayang di matanya.


Jantung Mia berdebar ngga menentu. Ada yang hangat mengalir di dalam relung hatinya.


"Terima kasih, ya, sayang," bisik Vandra lembut membuat Mia mengangguk. Mata mereka yang penuh binar bahagia pun saling bertatapan.


*


*


*


"Kamu serius mau berangkat ke Perth?" tanya Nesa sambil menatap koper koper Clara yang sudah tersusun rapi.


"Iya," jawab Clara pelan.


"Kenapa? Apa Reksa menyakiti kamu?" tebak Nesa.


"Enggak."

__ADS_1


Reksa, batinnya. Sudah beberapa hari ini laki laki itu seperti menghilang. Memang setelah menamaninya ke pesta, laki laki itu kadang muncul di rumahnya beberapa kali. Mengajaknya dinner dan mengecup bibirnya..Hanya itu, ngga lebih. Sangat aneh bagi Clara, karena pada pertemuan pertama mereka, Reksa sangat ganas. Membuatnya terkadang takut bila bersamanya.


"Malah melamun," senggol Nesa membuat Clara tersadar.


"Kamu suka sama Reksa? Dulu aku sempat dijodohkan sama dia, tapi dia menolakku karena suka sama Mia," sungut Nesa dengan perasaan kesal.


"Mia?" Clara cukup terkejut mendengarnya. Dia baru tau, karena selama.ini Nesa ngga pernah cerita.


"Iya. Dulu Reksa suka sama Mia. Gimana aku ngga sebal sama dia. Sok cantik. Padahal biasa saja," omel Nesa setengah mengumpat.


"Oooh," gumam Angel lirih. Hatinya mulai ngga yakin akan hubungannya dengan Reksa. Apalagi sekarang Reksa juga ngga pernah menampakkan dirinya lagi. Apa mungkin dirinya hanya mainan sesaat laki laki itu. Apalagi dia pun sudah menyerahkan keperawanannya untuk Reksa. Ngga ada lagi yang bersisa, batin Clara mendadak sedih.


Harusnya malam itu dia ngga mabuk, sesalnya membatin. Mia memang istimewa, lanjutnya lagi dalam hati dengan perasaan perih.


Wajah Angel yang tiba tiba murung dan terlihat sedih ternyata diperhatikan Nesa.


Dasar, memang Mia sangat menyebalkan, umpatnya dalam hati.


Entah pelet apa yang dimiliki sepupunya hingga semua perhatian tercurah padanya.


"Pesawatmu jam berapa berangkatnya?"


"Dua jam lagi."


"Oke, aku akan temenin kamu. Bentar, aku telpon Ando dulu agar mengantarkan koperku ke sini," tegas.Nesa sambil meraih ponselnya dan berjalan keluar dari kamar Angel.


"Nesa, aku belum tau kapan pulang," cegah Clara. Hatinya yang mulai bersenandung untuk Reksa, mulai sunyi lagi.


Kenapa harus Mia? Apa yang dimiliki Mia hingga Vandra dan Reksa menyukainya....


"Ngga pa pa. Atau kali ini kamu keberatan?" Nesa berbalik menatap Clara kesal.


"Enggak. Bukan gitu. Kamu, kan, udah lama ngga kumpul sama keluarga kamu," jelas Clara lembut.


"Ngga pa pa. Mereka nanti bisa mengunjungiku. Seperti biasa,." Nesa mengembangkan senyum tulusnya.


"Terima kasih, ya Nes," ucap Angel dengan wajah mulai ceria lagi. Walaupun di luaran banyak yang menganggap Nesa jahat dan ngga punya perasaan, tapi bagi Angel, Nesa sahabat yang sudah dianggap saudara paling baik untuknya. Selalu menemaninya di saat saat sulit.


"Sama sama," balas Nesa sambil melangkahkan kakinya keluar dari kamar Angel. Niatnya untuk menelpon Ando, selain menyuruh sepupunya membereskan kopernya, juga memaki maki Reksa yang sudah menyakiti Clara. Ando pasti akan menyampaikannya pada Reksa. Nesa tau watak sepupunya itu.


*


*


*


"Lo ngga akan nyusul Clara?" tanya Ando yang langsung ngebut ke rumah Reksa. Dia yang bermaksud akan ke pesta Fino, langsung memutar tujuannya. Karena Reksa juga belum berangkat ke pesta pernikahan Fino dan Rosa.


Reksa menghembuskan asap rokoknya sekuat yang dia bisa. Seakan beban berat di rongga dadanya bisa ikut berkurang.


Sudah beberapa hari ini Reksa tifak menemui Clara, tidak menelpon atau pun mengiriminya pesan. Reksa ingin menguji, apakah Clara akan merasa sedikit kehilangannya. Tapi nyatanya sampai hari ini pun Clara ngga juga menghubunginya. Padahal sesuatu yang paling berharga miliknya sudah direnggut paksa Reksa. Apa gadis itu ngga merasa kehilangan apa pun?


Reksa menghembuskan nafas kesal, Ando ngga berkomentar. Dia merasa harus diam saat melihat raut keruh Reksa.


"Kapan dia berangkat?"


"Ngga nyampe dua jam lagi."


Kembali hening.


Reksa menatap batang rokok yang sudah tinggal separuh di tangannya.


"Lo mau nyusul?" tanya Ando dengan tatapan seriusnya.


Reksa menggeleng membuat Ando mengerti.


Buat apa bersusah payah kalo perasaan Clara masih saja bercokol pada Vandra. Jangan ada Irfan jilid dua.


"Lebih baik kita ke pesta Fino. Gue mau lihat, apa dia lancar ngucapin kalimat akad," canda Ando membuat Reka menarik sedikit sudut bibirnya.


"Oke," sahutnya sambil mengambil helmnya.


"Gue numpang lo ya," sambungnya lagi. Sisa rokoknya pun sudah dia injak.


"Ngga masalah. Gue juga pengen lihat lo selamat," tawa Ando sambil menstarter motor balapnya.


"Sialan lo," maki Reksa juga tergelak.


"Gue ngga bakal mati. Gue ngga patah hati," sangkalnya sambil duduk di belakang Ando.


"Iya-iya, terserah lo aja," kata Ando ngga peduli sambil ngebut.


Patah hati? Mungkin ada retak sedikit, batin Reksa mengakui. Tapi di depan Ando, dia akan tetap membantahnya. Harga diri seorang player brengsek harus selalu di junjung tinggi kan....

__ADS_1


TAMAT


__ADS_2