
Besok paginya, Valen menghampiri Emir dan Elka yang sedang berada di kamarnya.
"Soory, pintunya kebuka," kata Valen santai sambil melamgkah masuk.
Elka hanya tertawa mendengar kata kata abangnya.
Biasanya ada yang penting kalo abangnya bersikap begini.
Emir hanya tersenyum. Saat ini Elka sedamg memasangkan dasinya.
"Ada apa, bang?" tanya Elka sambil menatap manik mata abangnya yang terlihat gelisah.
"Kalian akan menghadiri meeting di Arwana Grup?" tanya Valen sambil tetap berdiri dan menatap keduanya dengan kedua tangan di saku celananya.
"Iya, bang. Ada isu katanya pewaris utamanya sudah meninggal," jawab Emir.
"Makasih, sayang," kata Emir sambil mengecup kening Elka setelah tugasnya memasangkan dasi selesai.
Elka hanya tersenyum malu, karena Emir melakukannya di depan Valen yang langsung mencibir membuat Elka kesal.
"Abang ngapain ke sini. Ngomongnya di ruang tamu aja," kata Elka pedas membuat Emir dan Valen tersenyum lebar.
"Pake baju anti peluru kalian. Mungkin nanti akan terjadi adu senjata. Uuuhhgg.... gue ingin kalian di rumah aja sebenarnya," kata Valen kesal. Terlalu beresiko.
"Apa separah itu?" tanya Emir agak panik.
"Ya."
"Ingat preman yamg disewa Lika?" tanya Valen pelan.
Emir mengangguk dengan wajah ngga enak. Elka memggenggam tangannya sambil tersenyum. Seolah mengatakan hal itu udah ngga penting lagi.
"Om preman itu sepertinya yang membantu Anastasia," jelas Valem membuat keduanya terpana sesaat.
"Mungkin dia juga mengincar kita," sambung Valen lagi membuat Emir cemas.
Emir reflek menatap Elka ingin melarang, tapi istrinya yang keras kepala itu malah menggelengkan kepalanya.
"No! Aku ngga mau kamu sendirian," kata Elka tegas.
Emir tau percuma melarang Elka, dia pasti akan menggunakan segala cara untuk tetap datang.
"Jangan sampai terpisah. Bawa pistol," kata Valen sambil berbalik.
"Kak Sarah tau?" tanya Elka pelan.
"Nggak. Hari ini katanya akan menemani mama belanja," kata Valen setelah berbalik lagi menghadap ke arah keduanya.
"Syukurlah kalo begitu," kata Elka lega.
Kakak iparnya sama seperti Rasya, sangat lembut.
Valen juga bersyukur, berita ini belum terendus Sarah.
"Kamu juga hati hati, Elka. Emir, jaga Elka baik baik," kata Valen dengan sorot matanya yang tajam.
"Iya, bang. Abang juga hati hati," kata Emir sambil balas menatap Valen.
Tentu saja Emir akan menjaga Elka, kalo perlu dengan nyawanya.
__ADS_1
Valen hanya mengangguk dan bergegas pergi.
Tanpa dia sadari, begitu dia meninggalkan kamar, Vandra mendengar segala ucapan mereka.
Apa sekritis ini? batinnya sambil mengikuti Valen diam diam. Rupanya Valen memasuki.kamar putra pertamanya, Abhi.
Vandra kembali menguping karena Valen seperti sengaja tidak menutup pintunya.
"Kamu mau ngga sama Oliv?" tanya Valen langsung ketika melihat anaknya yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya.
"Dady mau menjodohkan aku?" tanya Abhi kaget.
"Ngga juga. Kalo kamu mau, dady senang karena bisa sodaraan dengan Ferdi," kekeh Valen santuy membuat bibir Abhi mencebik.
"Oliv itu sombong, Dad," tolak Abhi tambah membuat Valen terkekeh.
Tentu saja Abhi mengenal Oliv. Dulu mereka cukup akrab, waktu kecil hingga SMP. Setelah SMA. Oliv jadi sombong. Pernah waktu bertemu di mall, Oliv yang bersama teman temannya mencuekin dirinya. Padahal teman teman Oliv dengan norak minta berfoto dengannya. Bahkan ada yang nekat mencium pipinya.
"Cewe itu begitu Abhi. Suka pura pura sombong. Jaga image katanya," kekeh Valen lagi.
Ajaran yang buruk, omel Vandra yang menguping. Tapi memang benar juga, batinnya lagi sambil nyengir.
Abhi kembali mencibirkan bibirnya.
"Memang dia sombong, Dad," kata Abhi kekeh dengan pendapatnya.
"Cewe seperti itu ada tantangannya," kata Valen lagi mengompori.
"Abhi malas, Dad. Banyak cewe yang rela rela nyium Abhi, bahkan mungkin buka baju sendiri tanpa Abhi paksa," kata Abhi kemudian terkekeh.
Mengapa harus nyari yang sulit kalo yang mudah berserakan di depan mata, batin Abhi nakal.
Bener bener kloning dirinya.
Vandra tersenyum miring.
*G*imana nanti kalo dia lebih terkenal dari sekarang? Bisa banyak yang antri minta dia tiduri
Vandra pun pergi menjauhi kamar Abhi. Malas dia mau melanjutkan mendengar pembicaraan yang ngga berguna antara ayah dan anak itu. Lebih baik dia melihat istri tercintanya.
Valen melirik bayangan punggung Vandra yang tertangkap cermin besar Abhi yang berada di dekat pintu kamarnya.
Dasar suka nguping
"Mungkin Oliv kesal lihat kamu dikerubungi cewe melulu," ucap Valen lagi setelah reda tawanya.
"Bukan maunya Abhi, Dad. Abhi ngga pernah minta dideketin cewe cewe itu. Lagian malas sama Oliv. Dia suka banget pake baju kurang bahan gitu," cerca Abhi kesal.
"Dia ngikuti tren," bela Valen kemudian terkekeh lagi.
"Lihat nantilah, Dad," kata Abhi nyerah. Dia harus cepat berangkat ke sekolah, jangan sampai telat. Nanti Om Doni yang bakal menghukumnya. Apalagi dia pernah mengerjai Omnya itu.
"Oke," kata Valen ngga memaksa lagi. Dulu dia pun ngga mau dipaksa. Cintanya tumbuh sendiri untuk Sarah.
"Sana sarapan. Dady mau nengokin si kembar," kata Valen sambil melangkah keluar dari kamarnya.
"Dady hari ini aneh," kata Abhi menghentikan langkahnya.
"Aneh kenapa?" tanya Valen sambil berbalik menatap kloningnya heran.
__ADS_1
"Biasanya Dady sibuk sendiri," cetus Abhi sambil mengambil tasnya.
"Gitu ya," kekeh Valen kemudian meneruskan langkahnya keluar meninggalkan Abhi yang masih menatapnya bingung.
Ada apa dengan Dady pagi ini?
Valen baru akan memasuki kamar si kembar ketika melihat si kembar sudah berdiri di depannya dan menatap Dady dengan wajah bingung.
Ngga biasanya Dadynya nyamperin mereka sampai ke kamar.
"Dady ngapain?" tanya Erza sambil mengangkat satu alisnya. Ezra yang disampingnya pun menatap Dadynya heran.
"Udah mau berangkat?" tanya Valen sambil memasukkan kedua tangannya di saku celananya.
"Iya, Dad," jawav Erza.
"Belajar yang rajin."
Keduanya menatap Valen dengan tatapan sangat aneh.
"Dady sakit?" tanya Ezra akhirnya buka suara.
"Haa?" Valen memegang keningnya.
Emgga panas, batinnya lega. Jangan sampai sakit, soalnya nanti membutuhkan banyak energi.
"Engga sakit," kata Valen kembali dengan mode santainya.
"Tumben Dady nyuruh kami rajin belajar," kata Ezra kemudian mengangkat sedikit sudut bibirnya bersama Ezra.
Oiya, kini Valen terkekeh.
"Sesekali kan ngga apa Dady ingatin kamu," ucap Valen santuy.
"Tetap aja aneh," komen Erza yang diangguki Ezra.
Valen pun menepuk pundak keduanya anak kembarnya dua kali seperti kebiasaannya. Rasanya agak berat untuk pergi meeting ntar. Entah kenapa dari kemarin hatinya merasa ngga enak.
Tanpa dia ketahui, Celon memperhatikannya.
Akhirnya Celon pun mengetikkan pesan untuk istrinya.
Aku merindukanmu
Ngga lama kemudian balasan dari istrinya muncul.
Aku juga. Kamu kenapa? Salah minum obat?
Celon tertawa membacanya. Kemudian dia mengetikkannya lagi.
Cuma rindu. Apa ngga boleh
Dia menatap pesan yang belum dibaca istrinya.
Sialan, kenapa dia jadi melow gini. Pasti gara gara lihat Valen tadi, omelnya dalam hati.
Hati hati selalu. Kami juga rindu
Celon tersenyum saat membacanya. Dia tidak membalas lagi pesan istrinya. Setelah menyimpan hpnya, Celon pun menuruni tangga untuk.ikut sarapan.
__ADS_1