
"Kak Luvi, aku takut ketemu Eri," kata Angel ketika Luvi berkunjung ke ruangannya.
Angel sudah seminggu yang lalu kembali dari Paris. Papinya? memintanya untuk menjadi CEO di perusahaan keluarga mereka yang bergerak di bidang periklanan.
Saat ini Luvi sedang mengunjunginya, sekaligus menawarkan kerjasama dengan perusahaannya.
"Kenapa takut? Kamu ngga kangen sama Eri?" goda Luvi sambil menyilangkan kakinya dengan senyum lebarnya.
"Banyak takutnya dari pada kangennya," kata Angel manyun.
Luvi ngga bisa lagi menahan tawanya.
Dia ingat gimana reaksi kecut sepupu tengilnya waktu Angel menolak menikah dengannya.
Padahal semua itu adalah niat dari orang tua Angel dan orang tua Eri sendiri.
Rasain, kutuk Luvi senang karena berhasil balas mengerjai sepupu durjananya itu.
Orang tua Eri meminta Angel memberikan Eri waktu untuk bekerja di perusahaan mereka di Manchester. Mereka hanya ingin melihat Eri lebih serius dalam bekerja. Selama ini Eri sudah terlalu santai menikmati hidup.
Selama lima tahun di Manchester, Eri malah telah mengembangkan perusahaan papinya dan begitu juga cabang cabangnya. Bahkan galerynya pun sangat terkenal. Pameran pamerannya selalu rame dikunjungi. Dan tentu saja lukisan lukisannya pun sangat banyak dicari.
Sampai hari ini mereka masih menutup rapat rapat rahasia penolakan Angel. Sampai Angel pun takut ketemu Eri. Sungguh menggelikan.
Tawa Luvi masih saja berderai derai. Angel hanya bisa menggelemgkan kepalanya melihat kesenangan Luvi.
"Bunga Aster itu kamu yang kirim, kan?" tanya Luvi akhirnya.
"Kak Luvi tau?" kaget Angel. Wajahnya terlihat merona karena malu.
"Taulah, cuma si bodoh itu aja yang ngga tau," kata Luvi lagi kenudian tertawa lagi.
Angel kini bisa tersenyum.
Memang dia agak bodoh, kecam Angel dalam hati.
Tapi sekaramg Eri sudah sukses sebagai pengusaha muda yang tampan dan kaya raya. Pamerannya kemarin aja ngga menyisakan satu lukisan pun. Udah diborong abis.
Memang Eri ngga pernah membuat skandal yang sensasional. Tapi foto foto mesranya bertebaran di banyak akun media sosialnya.
Angel sekarang merasa ngga berani mendekati Eri. Karena Eri sudah jauh berubah. Dia merasa Eri sudah benar benar melampaui targetnya. Bahkan target orang tuanya sendiri. Tentu saja membuat orang tuanya bangga.
"Besok, aku akan membuat pesta ulang tahun untuk Iqbal. Kamu datang ya," undang Luvi sambil berdiri dan merapikan kemejanya yang kusut.
"Ketiga tahun ya, Kak?" ucap Angel excited. Mengingat wajah menggemaskan batita yang berambut ikal se bahu itu membuatnya ngga sabar ingin bertemu. Apalagi kalo bukan untuk menggendong dan mencubit pipinya yang tembam itu.
"Iya," ucap Luvi dengan wajah senang.
__ADS_1
"Oke."
"Aku pulamg dulu. Pelajari proposal kerja samanya ya," ucap Luvi sambil melangkah meninggalkan ruangan Angel, setelah menepuk bahu Angel dua kali.
"Oke, kak," balas Angel ketika Luvi akan membuka pintu.
Luvi menolehkan wajahnya dan tersenyum sebelum membuka pintu dan pergi.
DEG
Jantung Angel berdebar keras. DIa lupa, pasti Eri juga diundang, kan?
Pantasan wajah Kak Luvi tetlihat senang. Di pasti ingin mengerjai Eri, sepupu zonknya lagi.
Angel masih mengingat betapa senangnya Kak Luvi karena Eri begitu menurut dengannya di Paris. Demi bisa melanjutkan sekolah seninya, Eri rela melakukan apa aja.
Walaupun dibalik.keisengannya membuat Eri sampai bekerja pontang panting, juga terselib kasih sayang seorang kakak.yang tidak Eri punya.
Buktinya Eri mampu menambah pundi pundi uang papinya dengan kehandalannya dalam memanajemen perusahaan papinya.
Angel mengusap wajahnya frustasi. Dia belum siap bertemu Eri. Bertemu dan saling bertatap mata. Angel takut ngga bisa menghadapi kemarahan Eri.
*****
"Hai, ngapain Lo ke sini," sapa Toni ketika melihat Aldi yang mengunjunginya di ruangannya.
"Oke. Di kantin aja ya. Gue mau ngoperasi dua jam lagi," kata Toni kemudian meletakkan jas dokternya di meja.
"Iya, ngga pa pa."
"Operasi Cesar?" tanya Aldi lagi.
"Iyalah. Masa usus buntu. Bukan bidang gue."
Keduanya langsung tertawa pelan.
"Lagian, ngapa juga Lo ke rumah sakit. Rumah sakit itu tempat yang harus Lo jauhi," cela Toni sinis.
Aldi hanya tertawa mendengar kata kata sahabatnya.
Dari pagi tadi, Aldi ngga bisa konsentrasi di kantornya. Pikirannya selalu terbayang pada hantu cantik yang tadi malam beli soto Padang.
Memang bodoh, harusnya dia ikuti saran Toni untuk menanyakan nomer hp hantu cantik itu.
Tiba tiba pandangan Aldi mengarah pada seorang gadis cantik yang memakai baju putih panjangnya. Hanya saja rambutnya udah dikuncir.
"Itu cewe kemarin malam kan?" tanya Aldi sambil menyenggol lengan Toni agar melihat ke arah yang sama.
__ADS_1
"Cewe yang Lo kira hantu," kekeh Toni pelan.
Gadis itu terlihat murung setelah berbicara dengan pegawai administrasi. Dia pun pergi sambil menunduk.
Aldi menyeret Toni setelah gadis itu benar benar pergi.
Aldi memberikan isyarat pada Toni untuk bertanya, membuat Toni tersenyum miring.
"Dokter Toni," sapa pegawai perempuan itu senang campur malu di datangi dokter yang menjadi salah satu favorit di rumah sakit.
Toni tersenyum hangat.
"Cewe yang barusan pergi tadi ada urusan apa?"
"Emm... ibunya harus dioperasi, tapi nona tadi belum melunasi pembayarannya, dokter."
Keduanya saling pandang. Toni tau udah beberapa kali ada kejadian seperti ini.
"Ngga punya jaminan kesehatan apa pun?"
"Nggak punya dokter."
Aldi dan Toni saling pandang.
Hari gini masih belum punya jaminan kesehatan?
"Biar saya yang bayar. Saya temannya," kata Aldi mengajukan diri sambil menyerahkan kartu debitnya.
"Oiya, tuan," sahut pegawai itu dengan sungkan, menerima kartu dari Aldi dan menggeseknya.
"Operasi apa?" tanya Toni begitu temannya sudah menerima kembali kartu debitnya.
"Pemasangan ring jantung, dokter."
"Oke."
Keduanya melangkah pergi tapi baru beberapa langkah, Toni berhenti membuat Aldi juga menghentikan langkahnya dan menatap Toni heran.
"Ada apa?"
"Ngga mau nemuin cewe tadi?"
"Nggak," jawab Aldi sambil melangkah lagi. Dia juga bingung dengan hatinya yang begitu gembira telah menolong cewe tadi.
"Samperin, Bro. Ntar Lo nyesal," kata Toni mencoba mempengaruhi.
"Nggak lah," tolak Aldi terus melangkahkan kakinya meninggalkan Toni.
__ADS_1
Dasar, udah tua masih aja malu malu kucing. Padahal Lo kan garong, ejek Toni kemudian melebarkan senyumnya sambil melangkah cepat menyusul Aldi.