
"Er, gue dikejar kejar fans gila Lo," sentak Vandra kesal.
Pagi ini Vandra akan meeting di perusahaan Eri. Istrinya-Mia sedang diajak pergi Ando-sepupunya.
"Yang mana?" tanya Eri bingung. Terlalu banyak fansnya sekarang.
"Yang kata Lo ngikuti Lo dari Manchester sampai ke sini," jelas Aldi yang juga ada di dalam ruangan Eri. Bahkan Fino dan Vero juga ada.
"Arabela?" tanya Eri dengan kening berkerut.
Ngapain.dia deketin Vandra, kan, udah aku ancam, batin Eri heran.
"Asisten si Anastasia itu, ya," tebak Vero.
"Tepat," sambut Vandra senang karena Vero mengingatnya.
"Dia jadi asisten siapa?" tanya Eri heran.
Gadis bodoh itu mana bisa kerja, batin Eri mencemooh.
"Anastasia, saudaranya Kak Erika," jelas Vero lagi.
"Oh, anak almarhum Om Danutirta," kata Eri berusaha mengingat
"Hati hati dengan Anastasia," lanjut Eri lagi.
"Kenapa?" tanya Aldi heran. Dia juga seperti pernah mendengar nama Anastasia. Tapi saat ini Aldi benar benar lupa.
"Arwana grup kabarnya sering mengalami kerugian sejak Anastasia ikut campur di dalam perusahaan besar itu" jelas Eri.
"Dia sekarang jadi CEO di Dewi Kirana," info Vero.
"Mungkin semua kliennya membatalkan kerja samanya," tambah Vero lagj.
"Dewi Kirana memang mengalami penurunan beberapa bulan terakhir ini. Makanya aku membatalkan kesepakatan. Apalagi asistennya cewe ngga jelas gitu," jelas Vandra panjamg lebar.
"Kenapa Arabela bisa jadi asisten Anastasia. Aku ngga tau juga kalo mereka saling kenal," kata Eri masih belum tau.
"Kok kamu bisa kenal Arabela?" tanya Aldi kepo..Soalnya dia agak curiga kalo gadis yang dia suka ada hubungan dekat dengan Arabela.
Sayangnya waktu mereka bertengkar, posisi Aldi cukup jauh, jadi dia ngga bisa mendengar dengan cukup jelas apa yang dua perempuan muda itu ributkan.
"Arabela itu sempat kuliah di jurusan bisnis. Tapi di DO. Itu aku taunya dari teman teman nongkrong juga. Sering ada di pesta para eksekutif gitulah." jelas Eri panjang lebar.
Tapi kemudian dia menatap Aldi aneh, ngga biasanya Aldi nanya nanya soal perenpuan.
"Jangan bilang Lo suka sama dia," tuduh Eri membuat Aldi langsung terbahak.
"Bukan selera gue," tandasnya kemudian melanjutkan tawanya sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
Bisa bisanya Eri berpikir begitu. Ternyata dia masih belum pintar, hina Aldi dalam hati.
__ADS_1
"Terus dia ngikuti Lo sampai ke sini?" tebak Fino.
"Gitulah. Tapi sekaramg malah ngincar Vandra. Padahal udah gue ancam jangan macam macam sama Lo, Van," kata Eri dalam mode kesal.
"Kapan?" tanya Vandra sedikit kaget. Tumben fast respon.
"Pas pameran lukisan itu," kata Eri cepat.
"Ooo."
"Kenapa dia ngincar Lo, ya," tanya Eri heran.
"Mana gue tau," kesal Vandra.
"Nanti gue peringati dia lagi," janji Eri.
"Soalnya dia berani ngomong aneh aneh di depan Mia. Itu kan yang buat Lo marah," kata Vero menimbrung. Dia ingat kata kata lancang Arabela.
"Bukan itu aja. Dia berani fitnah fitnah gue di basemen perusahaan gue. Mana ada pegawai gue lagi," cerita Vandra sangat kesal.
"Untung Mia percaya percaya aja sama gue," katanya lagi.
"Ngeri juga ya," komentar Fino. Ngga bisa dia bayangkan ada perempuan nyebar fitnah di perusahaannya sendiri. Ngga tau kekerasan apa yang akan dia lakukan.
"Trus, Lo apain tu cewe?" tanya Fino ingin tau.
"Gue suruh satpam nyeret dia pergi," kata Vandra geram.
"Betul. Di polisikan aja. Tinggal hubungi bang Ferdi aja, kan," tukas Vero mendukung.
Aldi terdiam mendengarnya. Dia masih kepikiran sama gadis yang awalnya dikira hantu itu. Ada hubungan apa dengan Arabela. Benar benar membuat Aldi penasaran.
*****
Aldi akhirnya pamit akan mengunjungi Toni ke rumah sakit. Padahal tujuannya ingin melihat gadis yang dikiranya hantu itu.
Tapi begitu dia melewati ruang administrasi, Aldi melihat gadis itu menangis.
"Mba, ngga bisa dioperasi dulu? Saya akan melunasinya nanti," pintanya penuh harap. Air matanya pun sudah mengalir ngga berhenti.
"Maaf mbak. Udah peraturannya, Maaf sekali ya mbak," kata perawat itu dengan raut menyesal.
"Ya mbak," kata Aurelia sedih.
Uang hasil penjualan runah yang harusnya cukup untuk operasi kedua telah berkurang separuh akibat ulah kakaknya. Kakaknya membawa beberapa preman ke sekolah sambil mengancam keselamatan ibunya dan dirinya.
Terpaksa Aurelia memberikan separuh hasil penjualan rumah orang tua yang harusnya untuk membayar operasi kedua mamanya. Menurut dokter, ini operasi terakhir yang harus dilakukan, agar kesembuhan mamanya bisa mencapai sembilan puluh persen.
Mana dia juga belum bisa mengembalikan uang penolong operasi mamanya yang pertama.
Saat dia akan pergi meninggakan meja administrasi, sebuah suara memgagetkannya.
__ADS_1
"Tolong tetap di operasi. Ini kartu saya," kata Aldi sambil menyodorkan kartu debitnya.
"Oh iya, Pak," kata perawat itu sambill mengambil kartu debit Aldi. Perawat itu masih ingat kalo Aldi adalah teman dari dokter idola di rumah sakit ini, dokter Toni. Aldi juga yang membayarkan biaya operasi pertama mama gadis di depannya.
"Se... sebentar," cegah Aurelia ketika perawat itu akan menggeseknya.
"Anda siapa? Saya ngga kenal," kata Aurelia sambil menatap wajah Aldi.
DEG
Bukannya ini laki laki di tempat soto itu? Aurelia masih ingat, walaupun malam itu laki laki ini tidak memakai jas seperti sekarang.
"Pak Aldi yang membayarkan operasi pertama, mbak," jelas sang perawat.
Aldi melengos dari tatapan kaget Aurel.
"Cepat ya mbak. Saya mau ketemu dokter Toni," kata Aldi ngga sabar karena perawat itu belum juga menggesek kartu debitnya.
"Jangan," cegah Aurelia bingung. Dia masih terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya.
*Ternyata dia. K*enapa dia mau membantu?
"Kamu mau mama kamu dioperasi segera atau ngga, sih," tanya Aldi mulai kesal.
Aurelia terdiam. Dia hanya berdiri mematung. Ngga tau harus berbuat apa.
"Gesek cepat mba, saya harus segera pergi," kata Aldi ngga sabar.
"Sama biaya deposit untuk dua bulan," lanjut Aldi lagi membuat Aurelia tersentak saking kagetnya.
Akhirnya perawat itu langsung menggesekkan kartu debit itu dan ngga lama kemudian memberikannya pada Aldi dengan bibir tersenyum.
"Makasih," ucap Aldi pada perawat itu langsung pergi meninggalkan Aurelia yang masih bengong.
"Sebentar, pak," panggil Aurelia yang baru tersadar. Dia segera menyusul langkah Aldi.
Aldi menatap Aurelia kesal. Dia ngga suka dipanggil pak.
Apakah dia kelihatan tua? omelnya dalam hati.
"Ada apa?" tanya Aldi datar.
"Em.... terimakasih. Boleh saya tau nama bapak siapa? Nanti akan saya bayar. Tapi mungkin saya cicil," kata Aurelia malu. Wajahnya pun memerah.
Bapak lagi, kesal Aldi membatin.
Tanpa banyak kata Aldi memberikan kartu namanya pada Aurelia yang langsung menerimanya.
"Kalo mau bayar, kamu bisa cari saya di situ," kata Aldi cuek dan langsung melangkah pergi.
Sudut bibir Aldi tertarik ke atas karena akhirnya berhasil juga membuka komunikasi dengan gadis itu. Bahkan kalo dia beruntung, ngga lama lagi gadis itu akan mencarinya di perusahaan. Karena kartu yang diberikan hanya berisi alamat perusahaannya saja. Bukan nomer hpnya. Dia ingin mengerjai gadis yang sempat sombong pada pertemuan pertama mereka.
__ADS_1